Kabupaten Penajam Paser Utara Kalimantan Timur mengukuhkan pengurus Komisi Penanggulangan AIDS Daerah (KPAD). Komisi ini diharapkan mampu memberi kontribusi dalam pelayanan kesehatan penderita HIV di Penajam.
“HIV adalah penyakit mematikan sehingga perlu koordinasi antara masing masing pihak,” kata Plt Sekretaris Daerah Kabupaten Penajam, Drs. Tohar, MM, di Ruang pertemuan Gerbang Sepadu Penajam.
Dikatakan Tohar, HIV adalah penyakit yang mematikan dan hingga kini belum ada obat yang dapat menyebuhkannya. Penyebaran HIV seperti diketahui dapat ditularkan baik melalui hubungan seksual secara bebas, transfusi darah melalui jarum suntik bagi pengguna narkotika, maupun cara-cara lainnya yang telah kita ketahui.
Diharapkan Tohar, dengan dikukuhkannya KPAD, kepengurusan ini dapat membuat program yang jelas dan terencana. “Lakukan koordinasi dan komunikasi yang baik dengan unit-unit terkait kegiatan ini, komunikasikan, terutama dengan pimpinan pengambil keputusan khususnya terkait dengan masalah anggaran, “ terangya.
Dalam kesempatan yang sama, Kepala KPAD PPU yang juga Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten PPU, Dr. Arnol Wayong mengatakan, setiap tahun penderita HIV AIDS secara nasional terus bertambah, bahkan perkembangannya sangat cepat. Di Kaltim saja hingga 2014 terdeteksi ada lebih kurang 3.845 ribu jiwa penderita HIV AIDS yang meliputi wilayah terbesar di Kaltim adalah Samarinda, Balikpapan dan Kutai Kartanegara.
Dijealaskan dia, saat ini di Kabupaten PPU hingga 2014 ada tercatat sebanyak 28 positif terjangkit HIV. Perkembangannyapun sangat cepat, berdasarkan data pada 2009 terdeteksi ada 7 kasus penderita HIV, 2010, 9 kasus, 2011, 17 kasus 2013, 19 kasus dan di tahun 2014 hingga desember ada 11 kasus baru, 2 diantaranya meninggal dunia dan sisa kasus 28 orang penderita saat ini.
Senada juga disampaikan Ketua KPAD Kaltim, Jarnanto, bahwa HIV AID dalam lima tahun terakhir sangat cepat penyebarannya khususnya di Kaltim. Hal ini perlu adanya sosialisasi dan pembinaan yang dilakukan tentang apa itu HIV AIDS dan cara penyebarannya.
Dikatakan Jarnanto, banyak orang beranggapan penyebaran HIP AIDS hanya melalui hubungan seks bebas, padahal berdasarkan data dan survay di Jakarta beberapa waktu lalu, peyebaran HIP AIDS melalui seks bebas dan jarum suntik jumlahnya imbang sama besarnya. Sesanya melalui hubungan bebas yang dilakukan komonitas gay dan sebagainya. ADV