Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Indonesia menggelar rangkaian acara kongres IX di Bukit Tinggi Sumatera Barat, Rabu (26/11/2014). Acara dimulai dengan prosesi ramah tamah makan malam pengurus AJI Kota se Indonesia, Ketua Dewan Pers Bagir Manan, Wakil Ketua PPATK Agus Santoso, CEO Citylink Arif Wibowo di Istana Bung Hatta.
Bagir Manan dalam sambutannya meminta pers menjadi inisiator pengambilan kebijakan nasional. Menurutnya pers tidak boleh terjebak dalam permasalahan itu sendiri.
“Pers harus mampu menawarkan penyelesaian permasalahan sudah terjadi,” paparnya.
Sejumlah industry pers nasional, menurut Bagir saat ini terjebak dalam kepentingan perseorangan, golongan maupun politik pemilik modal. Kekuatan pers disalahgunakan guna menselaraskan kepentingan pemilik modal dengan tujuan tertentu.
Sehubungan itu, Bagir mengaku pihaknya sudah melayangkan surat teguran pada media bersangkutan agar berpegang teguh pada kode etik jurnalitik. Dia meminta agar insane pers mengkedepankan prinsip prinsip jurnalistik seperti independen, berimbang hingga berlandaskan kebenaran.
Ketua Umum AJI Indonsia, Eko Marydi menambahkan musuh utama dunia jurnalis adalah perusahaan media yang menyalahgunakan frekwensi public untuk kepentingan pribadi dan golongan. Eko mencontohkan keberpihakan sejumlah media massa dalam peristiwa politik pemilu legeslatif maupun presiden dan wakil presiden lalu.
“Musuh dunia jurnalitik adalah perusahaan media yang menyalahgunakan frekwensi public,” tegasnya.
Eko meminta AJI selaku organisasi profesi jurnalis selalu menjaga marwah profesi sesuai ketentuan kode etik jurnalitik. AJI berusaha menularkan semangat jurnalisme pada 32 AJI Kota se Indonesia yang beranggotakan 2 ribu jurnalis.
Kongres AJI dimulai dengan seminar nasional soal peluang kewirausahaan bidang jurnalis di Balai Sidang Bung Hatta The Hills Hotel Bukit Tinggi. Para pembicara seminar diantaranya Dirjen Pembinaan dan Produktifitas Menakertrans Khairul Anwar, Pendiri Detik Budiono Darsono, Watchdoc Dandhy Dwi Laksono, Connexioid Mubarika Darmayanti, Direktur Yoseph Ardi News, Wakil Direktur Utama Fajar Group Syukriansyah Latief dan ICT Watch Hru Tjatur.