Sebanyak 109 eks Gafatar Tana Merah Samarinda Kalimantan Timur dipulangkan ke daerah asal, Sabtu (30/1) pagi ini. Sebagian diantara eks Gafatar ini adalah 30 warga Ambon yang ternyata takut untuk kembali ke daerah asalnya.
“Kota Ambon tidak seperti daerah daerah lain di Indonesia. Kami yang berasal dari Ambon takut untuk pulang ke daerah asal,” kata salah seorang perwakilan eks Gafatar Samarinda, Alit.
Alit mengatakan sinisme kesukuan dan agama masih terasa kental di Ambon hingga saat ini. Gafatar yang terlanjur dicap aliran sehat, menurutnya akan mendapatkan perlawanan keras dari sebagian warga Ambon.
Sehubungan itu, Alit meminta agar pemulangan eks Gafatar Ambon dipulangkan perorangan tanpa adanya publikasi berlebihan. Selain itu, katanya sebagian eks Ambon juga memilih melanjutkan hidupnya di Makassar.
“Mereka yang punya keluarga di Makassar akan mencoba melanjutkan hidup disitu. Sambil melihat kondisi di Ambon,” ujarnya.
Alit hingga kini belum menentukan apakah akan pulang ke Ambon atau melanjutkan hidup di Makassar. Dirinya sudah menghabiskan uang tabungannya sebesar Rp 10 juta sebagai bekal pindah dari Pulau Seram Ambon ke Samarinda sejak 2013 silam.
“Uang saya tersisa hanya Rp 2 juta hasil penjualan asset asset. Tabungan sudah dihabiskan untuk mengolah sawah di Tana Merah Samarinda,” papar pria usia 30 tahun jebolan salah satu universitas Makassar yang memilih bercocok tanam bersama Gafatar ini.
Alit ini memang sejak pertama sudah terpesona pedoman hidup Gafatar yang mengagungkan kebenaran universal bagi kaumnya. Menurutnya semua agama mengajarkan kebaikan setiap prilaku manusia dunia.
“Semua sama dalam mengajarkan nilai nilai kebaikan dalam masyarakat di dunia ini,” ujarnya.
Alit menjadi sebagian dari ratusan eks Gafatar Samarinda yang dipulangkan ke daerah asalnya pagi ini. Eks Gafatar Ambon termasuk dalam rombongan yang dipulangan tujuan Jakarta, Semarang dan Makassar lewat Bandara Sepinggan dan Pelabuhan Semayang Balikpapan.
Pemkot Samarinda mengklaim eks Gafatar ini baru enam bulan bermukim di area Tana Merah Kecamatan Samarinda Utara. Mereka datang secara bergelombang menguasai secara resmi kawasan yang berada di perbatasan Samarinda ini.
Kawasan eks Gafatar ini terisolir dari pergaulan masyarakat Samarinda lainnya. Kawasannya memang minim adanya sarana prasarana fasilitas umum seperti jalanan, sekolah dan tempat ibadah.
Provinsi Kaltim memutuskan agar seluruh warga eks Gafatar ini dipulangkan ke daerah asalnya masing masing. Warga eks Gafatar ini akhirnya dipulangkan ke daerah asalnya di Jakarta, Semarang dan Makassar.
Pemkot Samarida memberlakukan perlakukan ketat pengamanan dengan mengandeng unsur TNI/Polri hingga tiba ke lokasi asal. Pengawalan ketat dilaksanakan sejak keberangkatan dari Samarinda – Embarkasi Haji Balikpapan – Bandara Sepinggan – Pelabuhan Semayang hingga daerah asal.