Platform Jempang Metulang South Mahakam Blok Mahakam milik Total E&P Indonesie sudah mulai berproduksi gas sebanyak 32 MMSCFD dan 450 BOEPD kondesat pada awal Juli ini. Ini merupakan sumur pertama yang sudah berproduksi mendahului sumur lainnya yang juga dalam pengeboran menggunakan Rig Hakuryu-10.
“Seluruh sumur di lapangan ini lebih cepat berproduksi dan menghemat US$ 37 juta dibandingkan kalau menggunakan arsitektur berat,” kata Presiden and General Manager TEPI, Hardy Pramono dalam press release, Kamis (15/7).
Pramono mengatakan hal ini jadi pencapaian penting TEPI dalam pengembangan Blok Mahakam. Dia menegaskan berbagai inovasi ini merupakan bukti komitmen TEPI untuk mempersembahkan yang terbaik bagi Indonesia.
Operasi pengeboran dan dimulainya produksi ini berlangsung sangat aman dan menghabiskan 2,9 juta jam kerja. Produksi pertama di platform ini ini tercapai 80 hari lebih cepat dari jadwal dalam POD (Plan of Development) yang telah disetujui oleh SKK Migas.
Anjungan Jempang Metulang merupakan bagian dari proyek pengembangan South Mahakam tahap ketiga (SMK3) dan merupakan anjungan keempat di Lapangan South Mahakam Field. Tiga anjungan terdahulu yakni Main Stupa (SP1), West Stupa (SP2) dan East Mandu (MD1).
Gas yang dihasilkan dari Lapangan South Mahakam diproses di Peciko Processing Area (PPA) yang berada di Senipah. Gas gas produksi lapangan Peciko, Bekapai dan South Mahakam selanjunya dikirim ke kilang pengolahan di Bontang.
Produksi lapangan South Mahakam mencapai 315 MMSCFD gas dan 13.600 BOEPD kondensat. Puncak produksi Lapangan South Mahakam diperkirakan bisa mencapai 330 Mmscfd (gas) dan 14.000 boepd (kondensat).
Produksi Total E&P Indonesie mensuplai 80 persen industry pengolahan gas kilang Badak LNG Bontang. Produksi Blok Mahakam mencapai 1.761 Bcf/d dan 67.600 bod minyak dan kondesat.