NewsBalikpapan –
Habitat angrek hitam (coelogyne pandurata) terancam menyusul penurunan kualitas lingkungan Cagar Alam Kersik Luwai Kabupaten Kutai Barat Kalimantan Timur. Habitat bunga angrek hitam memang hanya bisa didapati di cagar alam borneo yang memiliki kualitas hutan primer.
“Bunga angrek hitam sudah terancam, padahal hanya ada di Cagar Alam Kersik Luwai,” kata Wakil Bupati Didik Effendy, Senin (29/9).
Didik mengatakan kualitas populasi hutan Cagar Alam Kersik seluas 5 ribu hektare sudah mengalami penyusutan dibandingkan sebelumnya. Kebakaran alam hutan menyebabkan kerusakan sejumlah area hutan alam yang usianya mencapai ratusan tahun.
“Terjadi kebakaran dengan sendirinya saja, karena kondisi kemarau panjang di Kalimantan,” paparnya.
Kerusakan hutan Cagar Alam Kersik Luwai, kata Didik berdampak negatif terhadap habitat bunga angrek hitam yang menumpang hidup di pohon pohon tua. Dia memperkirakan populasi bunga angrek hitam saat hanya tersisa 15 persen atas total luasan Cagar Alam Kersik Luwai.
Didik menyatakan Kabupaten Kutai Barat tidak mampu berbuat banyak guna menyelamatkan habitat angrek hitam ini. Pemerintah daerah tidak diperkenankan mengalokasikan anggaran guna mengantisipasi permasalahan kebakaran hutan yang kerap terjadi di Cagar Alam Kersik Luwai.
“Kami tidak bisa menjangkau lokasi kebakaran hutan akibat tiadanya akses jalan ke lokasinya. Badan Pengelola Cagar Alam Kersik Luwai hanya mengandalkan alokasi Kementerian Lingkungan Hidup saja,” ungkapnya.
Saat ini Didik hanya berharap adanya kelonggaran aturan agar pemerintah daerah punya kewenangan dalam menjaga lingkungan hutan hutan konservasi. Menurutnya pemerintah daerah yang punya kepentingan langsung dalam menjaga kelestarian lingkungan cagar alamnya.