Citarasa Tradisional Singkong Jumbo

Joko Widodo dan peneliti singkongNewsBalikpapan –
Tubuh tua Prof DR Ristono sudah tidak setangguh dulu. Kini bekas dosen Fakultas Pertanian Universitas Mulawarman Samarinda harus ditopang kursi roda yang membantunya menjalani aktfitas kesehariannya.

“Sakit tulang punggung sejak 2008 lalu mengharuskan saya harus dibantu kursi roda,” katanya, Jumat (23/5).

Keterbatasan fisiknya ini tidak menghalangi daya kreasinya di dunia yang selama ini jadi kegemarannya, sektor pertanian. Jebolan Universitas Tokyo Jepang ini memang gemar mengutak utik budi daya pangan alternatif masyarakat Indonesia yang beragam dari Sabang sampai Merauke.

“Kalau di Jepang saya ahli bidang beras, di Indonesia cukup menggeluti singkong saja,” ungkapnya.

Dari sekian jenis pangan di Indonesia, Ristono memilih untuk membudidayakan kembali tanaman singkong yang dulunya sudah menjadi makanan utama negeri ini, sebelum digantikan dengan padi. Tanaman pangan berbatang keras ini terkenal tangguh serta mampu tumbuh subur, meskipun di area tanah kritis minim air.

“Bisa tumbuh di tanah yang keras berbatu tanpa ketersediaan air,” paparnya.

Karateristik tanaman singkong ini tentunya cocok dengan kondisi geografis dan alam Kalimantan yang keras tanpa air. Minimnya pasokan air dan musim kemarau yang panjang membuat sistim persawahan tanaman padi kurang berhasil bagi para petani Kalimantan.

Namun tentunya, bukan sembarang singkong yang ditanam kini. Perlu ada suatu terobosan inovasi untuk menghasilkan suatu jenis singkong unggul yang bukan hanya produktif, tapi juga tok cer rasa konsumsinya.

Disini tangan dingin Ristono berperan mengawinkan dua jenis singkong berbeda agar menurunkan dua jenis baru yang mewarisi sifat dua induknya. Ia mengawinkan singkong karet berkarakter jumbo yang tidak enak dikonsumsi, dengan singkong gatotkoco berasa makyus yang sayangnya berukuran mini.

Sehingga hadirlah dua singkong jenis baru yang karakternya sangat cocok untuk industri maupun konsumsi masyarakat. Ristono menamai keduanya dengan nama singkong borneo dan singkong gajah.

“Keduanya berkarakter singkong besar. Serumpun tanaman singkong ini mampu menghasilkan 80 kilogram dan paling utama enak untuk dimakan,” paparnya.

Singkong borneo memiliki bentuk lebih pendek dibandingkan saudaranya, singkong gajah yang lebih memanjang hingga 40 centimeter panjangnya. Namun yang jelas, keduanya sama sama berdaging tebal yang ditafsir ukurannya bisa berdiameter 7 centimeter per batangnya.

“Singkong borneo cocok untuk industri sedangkan singkong untuk konsumsi,” ungkapnya.

Ristono mengatakan jenis singkong hasil budidaya ini sudah lazim ditanam para petani di Kalimantan Timur. Petani memilih jenis singkong ini yang memiliki berbagai kelebihan disamping ukuran fisik jumbonya yang diatas singkong kebanyakan.

“1 hektare ladang singkong ini mampu menghasilkan 100 ton singkong kualitas ekspor. Cocok dengan karakter tanah di Kalimantan yang kritis dan berilalang,” tuturnya.

Permasalahan utama petani saat ini adalah ketiadaan sektor industri di Kalimantan Timur yang sudi menampung melimpahnya hasil panen singkong borneo maupun singkong gajah. Pemerintah daerah setempat belum merespon secara aktif hasil produksi budidaya singkong jenis baru ini.

“Karena itu, saya menunggu pak Jokowi agar perduli pada sektor ketahanan pangan di Kaltim. Satu caranya dengan pengembangan singkong ini di Indonesia,” kata Ristono saat menunggu Joko Widodo di lobi Hotel Benakutai kala mengukuhkan relawan Projo Balikpapan.

Benar saja, calon presiden Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan ini langsung menyambangi Ristono yang saat itu mengenakan baju batik lengan panjang lusuh diatas kursi rodanya. Kedua orang ini terlihat berdiskusi serius soal singkong gajah dan borneo. Beberapa kali, Gubernur DKI Jakarta ini memegang singkong yang ukurannya bisa menyamai lengan orang dewasa.

“Setelah 9 Juli nanti, saya kesini lagi untuk melihat langsung proses produksi singkong ini pak,” janjinya sambil berlalu.

Ristono sendiri tidak terlalu berharap banyak agar Jokowi mau menepati janjinya dalam pemberdayaan sektor ketahanan pangan lewat budidaya singkong. Ia mengaku akan terus berjuang agar singkong gajah dan borneo makin dikenal masyarakat Indonesia.

Berita Terkait

1 Comment

  1. […] demikian, Dedi menolak kasus sengketa lahan ini diselesaikan lewat jalur pengadilan perdata. Dia berdalih pihaknya tidak mengantongi bukti […]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *