Kedua mata Darta (50 tahun) mendadak memerah hingga berkaca kaca. Kepala Sekolah SDN 014 Desa Tani Baru Kecamatan Anggana Kabupaten Kutai Kartanegara Kalimantan Timur ini, teringat masa 23 tahun silam. Kala pertama menginjakan kaki di Desa Tani Baru.
Dia dan istrinya saat itu ditugaskan menjadi guru SD pinggiran di tengah belantara Delta Mahakam.
“Saat teringat masa lalu menjadi sedih,” kata Darta yang merupakan perantauan asal Lampung, Senin (1/5).
Darta terkenang surat keputusan gurunya menunjuknya sebagai tenaga pengajar di SDN 014 Tani Baru. Sempat gembira menjadi pegawai negeri sipil (PNS) – ia heran dengan tanggapan aparat Dinas Pendidikan Kutai Kartanegara.
Pria humoris menyebutkan, aparat setempat mengernyitkan kening soal letak SD Tani Baru.
“Saya tidak mengerti saat petugas Dinas Pendidikan menyebutkan nama SD ini sambil mengernyitkan kening. Desa Tani Baru ? Waduh,” tukasnya.
Sesaat melihat peta kabupaten terkaya ini – barulah Darta paham. Ternyata butuh perjuangan menjangkau sekolah terpencil di tengah tengah Delta Mahakam ini. Setidaknya butuh waktu tempuh empat jam naik speed boat rute Samarinda – Tani Baru.
Itupun tidak ada jalur reguler melayani transportasi menghubungkan keduanya.
“Harus menyewa kapal speed boat bila ingin menjangkau Tani Baru,” ungkapnya.
Sesampainya di SDN Tani Baru – Darta makin sedih. Hanya ada tersisa empat tenaga pengajar di SD ini. Mereka ini para guru yang masih bertahan mengurusi 60 siswa yang seluruhnya anak anak nelayan setempat. Jangan bandingkan seperti sekolah lain di kota. Seluruhnya mengikuti proses belajar dengan seragam seadanya.
Lahan sekolah memang terbentang luas – namun hanya dua ruangan kelas. Sisanya area hutan bakau termasuk rawa rawa Delta Mahakam.
“Tidak ada yang pakai sepatu dan tanpa seragam. Kemampuan dan kemauan mereka juga rendah untuk mengikuti materi pelajaran guru,” tuturnya.
Kondisi ini sempat hampir membuat Darta patah arang. Dia kesulitan menyesuaikan diri, kala Desa Tani Baru dilanda kekeringan panjang selama berbulan bulan.
“Tiga bulan pertama, saya sempat tidak bisa masak nasi akibat kekeringan panjang. Saya meminta air sesepuh desa akibat tidak mampu lagi menahan lapar. Apalagi saya tidak terbiasa mengkonsumsi air sungai yang keruh,” ungkapnya.
Perlahan Darta mulai menata kembali proses belajar mengajar SDN Tani Baru. Total E&P Indonesie (TEPI) juga turut membantu pengadaan sarana ruang kelas, laboratorium komputer, perpustakaan, lapangan olahraga hingga keramba kepiting.
Seluruhnya dibangun bertipikal rumah panggung – diatas rawa rawa Delta Mahakam.
“Sehingga kadang kadang ada buaya di bawah sekolah kami ini. Harus hati hati bila disini,” sebutnya.
Berjalannya waktu, Kabupaten Kutai Kartanegara membentuk SMP Terbuka. Sekolah ini dimaksutkan menampung lulusan SDN 014 Tani Baru yang melanjutkan jenjang pendidikan. Maklum saja, SMPN terdekat berjarak puluhan kilometer terletak di Samarinda maupun Tenggarong.
Masalah jarak menjadi faktor utama siswa putus sekolah di Desa Tani Baru.
“Kami akhirnya mengajar siswa kelas SD dan SMP sekaligus sejak tahun 20007 hingga 2012. Status SMP dinaikan menjadi negeri serta menunjuk istri saya, Indriati sebagai kepala sekolahnya,” katanya.
Hingga saat ini, Darta menyebutkan, kedua sekolah ini membutuhkan guru tambahan mengurusi sembilan ruang kelas berbeda.
Apalagi saat ini, Desa Tani Baru sudah membentuk SMA Terbuka untuk menampung para lulusan SMPN 4 Tani Baru.
“Kami hanya ada 10 tenaga pengajar untuk SD, SMP dan SMA di Tani Baru. Terpaksa semuanya diberdayakan untuk mengajar siswanya,” paparnya.
Namun demikian, Darta mengakui bukan perkara mudah mendapatkan tenaga guru yang siap ditempatkan di Desa Tani Baru. Dia kerap mendapati kiriman guru baru yang bertahan sehari saja ditempatkan di desa terpencil ini.
“Ada guru yang datang pagi hari dan esoknya sudah pulang lagi ke Tenggarong. Mereka bilang, meski gajinya dinaikan tiga kali lipat, tidak akan mau bertugas disini,” keluhnya.
Apalagi, Desa Tani Baru juga belum mampu menyiapkan rumah dinas layak bagi para guru. Beberapa diantaranya menempati rumah dinas yang kerap tenggelam di kala pasang Delta Mahakam.
“Rumah ini tenggelam saat air pasang di Delta Mahakam. Ketinggiannya bisa mencapai 60 centimeter setiap pasang dan surut hingga tiga hari,” ungkap Saad, Guru SDN 014 Tani Baru.
Saad dan Saodah merupakan pasangan suami istri merangkap staf pengajar SDN 014 Tani Baru. Sejak tahun 2001, keduanya menempati rumah dinas yang condong miring ke kanan.
“Sebenarnya ini rumah untuk penjaga sekolah. Karena tidak ada rumah lain untuk ditempati dan disewa, terpaksa kami mempergunakan rumah ini,” papar Saad.
Saad sebenarnya juga enggan menempati rumah yang lembab serta bolong kiri kanan dinding kayunya. Namun dia tidak punya pilihan lain, sekedar bertahan hidup di Desa Tani Baru.
“Kami hanya bertahan saja sembari menunggu bantuan pembangunan rumah dinas guru dari pemerintah,” ujarnya.
TEPI membantu membangun jembatan kayu sepanjang 7 kilometer menghubungkan Desa Tani Baru – Kampung Makassar dan Muara Ilo. Jembatan kayu ulin setinggi 170 centimeter ini, menjadi sarana penghubung satu satunya siswa SDN 014, SMP 4 dan SMA Terbuka Tani Baru.
“Kami mengalokasikan program corporate social responsibility (CSR) pembangunan jembatan senilai Rp 3 miliar. Jembatan kayu terbuat dari ulin sejauh 7 kilometer menghubungkan Desa Tani Baru – Kampung Makassar dan Muara Ilo,” kata Humas TEPI, Kristanto Hartadi.
Kristanto mengatakan, jembatan kayu menjadi kebutuhan utama para siswa membantu mengikuti proses belajar Desa Tani Baru. TEPI terpanggil mengingat lokasi Desa Tani Baru masuk dalam kawasan operasional minyak gas Blok Mahakam.
“Kawasannya berada di wilayah Blok Mahakam sehingga kami terpanggil mengalokasikan dana CSR di Desa Tani Baru,” tuturnya.
Selain itu, TEPI juga membantu pembangunan sarana ruang kelas, laboratorium komputer, perpustakaan, lapangan olahraga hingga keramba kepiting. Menurut Kristanto, TEPI komitmen dalam pengembangan keberdayaan masyarakat di sekitar lokasi wilayah operasi Blok Mahakam.
“Semua proposal program di Desa Tani Baru memperoleh kajian tim teknis serta disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat disini,” paparnya.
TEPI memprioritaskan program program yang mampu memicu keberlanjutan bagi masyarakat. Selama ini, TEPI berupaya mendorong pengembangan masyarakat dibidang pendidikan, kesehatan dan lingkungan.
Sekolah sekolah Desa Tani Baru sudah berjalan mandiri berkat bantuan TEPI. Kini perlu juga keperdulian pemerintah daerah setempat untuk mengurusi sekolah terpencil di Desa Tani Baru. Sudah menjadi fakta, masih banyak desa terpencil lainnya di Kaltim yang membutuhkan perhatian lebih serius.