Menyulap Kotoran Sapi Jadi Berguna

NewsBalikpapan –

Keluarga Ahmad Solohin bisa tersenyum lebar. Limbah kotoran sapinya sudah tidak lagi mengganggu – bahkan memiliki nilai ekonomis tinggi.

“Padahal kami sempat kebingungan dengan limbah kotoran sapi ini,” kata Ahmad Solihin, Warga Kelurahan Teluk Pamedas Kutai Kartanegara Kalimantan Timur, Minggu (30/4).

Kelompok Tani Ternak Sejahtera Jaya Teluk Pamedas merupakan salah satu penerima manfaat program corporate social responsibility (SCR) Total E&P Indonesie (TEPI). Perusahaan minyak gas asal Perancis menghibahkan 6 ekor sapi unggul pada petani Teluk Pamedas tahun 2010 silam.

Kini, sapi sapi ini telah beranak pinak menjadi 100 ekor dikelola 15 anggota Kelompok Tani Ternak Sejahtera Jaya. Ahmad Solihin sebagai Ketua Kelompok, memperoleh bagian 6 ekor sapi yang setiap hari menghasilkan 30 kilogram limbah kotoran sapi.

“Kami bingung, apa mau dibikin pupuk kandang atau dibuang saja. Tentunya bila dibuang sembarangan akan diprotes tetangga sekitar,” papar Solihin.

Selanjutnya, Solihin mencoba memproses kotoran sapi yang mulai mengganggu di pekarangan rumahnya. TEPI turut membantu pembangunan instalasi pengolahan kotoran sapi menjadi biogas berupa bungker kapasitas 50.000 kilogram hingga sambungan gas ke tiga rumah percontohan tahun 2014 lalu.

“TEPI membantu material untuk membangun bungker dan instalasi ke rumah rumah senilai Rp 50 juta. Warga mengerjakan sendiri pembangunannya dibantu tenaga ahli TEPI,” tuturnya.

Proses pembuatan biogas terbilang mudah. Solihin hanya perlu memastikan ketersediaan 15 kilogram kotoran sapi dicampur air di bungker yang tertanam dalam tanah. Secara alamiah, bungker kotoran sapi ini memproduksi biogas yang disalurkan ke tiga keluarga Arbain, Hatta dan Solihin.

“Bungker kapasitas 5 kubik ini mampu memenuhi kebutuhan sehari hari tiga keluarga. Setiap hari  masukan 15 kilogram kotoran sapi dicampur dengan air ke dalam bungker,” ujarnya.

Ampas proses biogas ini, kata Solihin, keluar dengan sendirinya dari saluran pembuangan kotoran bungker. Ampas ini juga bisa dimanfaatkan untuk kebutuhan pupuk kandang tanaman.

Ramillah mengatakan, keluarga sudah rutin memanfaatkan penggunaan biogas sejak 2014 silam. Selama tiga tahun ini, dia mengaku mampu menghemat pembelian gas untuk kebutuhan memasak rumah tangganya.

“Sudah tidak pernah beli gas lagi, apalagi energi biogas bisa diandalkan panasnya. Apalagi tidak perlu membeli, bahan bakarnya ada di kandang sapi,” tutur istri, Ahmad Solihin ini menerangkan.

Sebelumnya, Ramilah mengaku memanfaatkan setidaknya tiga tabung gas ukuran 3 kilogram per bulannya. Bila satu tabung gas seharga Rp 25 ribu, menurutnya keluarga harus mengeluarkan biaya Rp 75 ribu per bulannya untuk keperluan masak memasak.

“Sekarang sudah tidak perlu lagi membeli gas atau bahan bakar lainnya,” ungkapnya.

Keluarga Ramilah hanya cukup memantau indikator tekanan biogas yang ditempatkan di dapur rumahnya. Indikatornya berupa selang tembus pandang yang dalamnya berisi air biasa.

“Kalau airnya makin naik, artinya tekannya makin berkurang. Tinggal ditambah saja kotoran sapinya di dalam bungker biogas,” tuturnya.

Ramilah menyatakan, hibah sapi TEPI mampu meningkatkan kesejahteraan keluarganya secara berkelanjutan. Hingga saat ini, dia mempunyai enam ekor sapi yang harganya berkisar Rp 15 juta hingga Rp 25 juta per ekornya.

“Ditambah pengolahan biogas yang memberikan manfaat rumah tangga,” paparnya.

Jelang berakhirnya operasi TEPI di Blok Mahakam, Ramilah berharap operator selanjutnya mampu melanjutkan program CSR dijalankan perusahaan asal Perancis ini. Menurutnya, keberadaan operator migas bermanfaat bagi seluruh negeri dan masyarakat di sekitar lokasi Blok Mahakam.

Humas TEPI, Kristanto Hartadi mengatakan, perusahaanya komitmen dalam pengembangan keberdayaan masyarakat di sekitar lokasi wilayah operasi Blok Mahakam. Salah satunya dengan bantuan hibah sapi bagi masyarakat Teluk Pamedas di Kutai Kartanegara.

“Kami menggaji setiap proposal program masyarakat.  Tim teknis TEPI menyesuaikan dengan kebutuhan masyarakat disini,” paparnya.

TEPI memprioritaskan program program yang mampu memicu keberlanjutan bagi masyarakat. Menurutnya, program sapi dan biogas Teluk Pamedas menjadi salah satu contoh yang mampu memberdayakan masyarakat.

“Sehingga mereka tetap mampu melanjutkan programnya tanpa adanya bantuan dari pihak luar lagi,” sebutnya.

TEPI memang segera mengakhiri kontrak sebagai operator Blok Mahakam di penghujung akhir tahun 2017 nanti. Pemerintah Indonesia resmi menunjuk PT Pertamina (Persero) sebagai pengelola Blok Mahakam menggantikan TEPI.

Kristanto mengharapkan, program program CSR TEPI nanti dilanjutkan Pertamina sebagai operator baru Blok Mahakam. Selama ini, dia menyebutkan, TEPI berupaya maksimal mendorong pengembangan masyarakat Senipah yang fokus dibidang pendidikan, kesehatan dan lingkungan.

Berita Terkait

1 Comment

  1. […] Beberapa hotel di Balikpapan, kata Gafur sudah mulai terkena dampak dimana tingkat hunian tamu beringsut dibawah 40 persen dari total kapasitas kamarnya. Beberapa diantaranya mulai menerapkan strategi perang tarif guna mengakali besarnya biaya operasional pengelolaan jasa hotel. […]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *