BTS Perbatasan Dapat Subsidi Rp 2 Triliun

Menkoinfo, Rudiantara resmikan proyek di BalikpapanNewsBalikpapan –

Menteri Komunikasi dan Informatika, Rudiantara menyatakan siap membuka arus komunikasi untuk wilayah perbatasan di Kalimantan Utara, Kalimantan Timur dan Kalimantan Barat. Kementerian menargetkan membangun base transceiver station (BTS) di 120 desa sepanjang tiga provinsi berbatasan langsung dengan Malaysia.

“Kami targetkan pembangunan BTS di 120 desa Kaltim, Kaltara dan Kalbar,” katanya saat menghadiri peresmian mega proyek Kaltim di Balikpapan, Rabu (20/5).

Rudiantara mengatakan wilayah perbatasan di Kalimantan masih memiliki keterbatasan arus informasi dibandingkan di kawasan selatan. Selain infrastruktur jalan yang masih terbatas, katanya masyarakat perbatasan setempat juga tidak memperoleh layanan jaringan operator telekomunikasi secara memadai.

“Kalau mereka akan ke Balikpapan butuh waktu hingga 22 jam sedangkan komunikasi tidak ada. Keberadaan komunikasi akan dibutuhkan untuk berinteraksi dengan dunia luar,” paparnya.

Sehubungan itu, Rudiantara mengajak pemerintah kabupaten, provinsi dan operator seluler untuk bekerjasama dalam pembangunan BTS perbatasan ini. Kementerian, menurutnya akan mensubsidi operasional BTS perbatasan ini sebesar Rp 2 triliun per tahun mempergunakan alokasi dana universal service obligation (USO).

“Setidaknya selama 10 tahun kedepan bantuan subsidi ini,” paparnya.

Pemerintah daerah setidaknya harus menyiapkan lahan pembangunan BTS termasuk keberadaan tower jaringan komunikasi operatornya. PT PLN juga harus mempersiapkan pasokan listrik untuk menjaga kestabilan jaringan BTS ini.

Rudiantara mengaku akan memanggil masing masing perusahaan operator untuk merealisasikan rencana pembangunan BTS perbatasan ini. Dalam kesempatan tersebut nanti, dia akan membahas besaran subsidi yang selayaknya diberikan pada masing masing perusahaan operator.

“Operator harus disubsidi karena mereka rugi membuka BTS di perbatasan. Jumlah pelanggannya tidak signifikan,” ungkapnya.

Rudiantara mengatakan sudah memulai kerjasama pembangunan BTS perbatasan ini bersama Telkomsel pada Desember 2014 lalu. Mereka sudah membangun lima BTS di Tiong Ohang, Long Apari, Long Lunuk di Kabupaten Mahakam Ulu dan Long Lays serta Agung Baru yang berlokasi di Nunukan – Malinau.

Sebelumnya, Telkomsel sudah membangun enam BTS di Long Ampung, Berang, Long Manyu, Long Pujungan, Data Dian dan Long Nawang. Total keseluruhannya, Telkomsel memiliki sebelas BTS yang membuka isolasi jaringan komunikasi warga perbatasan dengan dunia luar.

Head Sales PT Indosat Tbk Kalimantan, Doddy Kusuma mengatakan perusahaanya sedang gencar melakukan sejumlah penetrasi pasar setempat. Tahun 2015 ini saja setidaknya akan dibangun sebanyak 800 BTS di seluruh wilayah Kalimantan.

Sehubungan ajakan Menkoinfo ini, Doddy menyebutkan kendala utama jaringan telekomunikasi perbatasan adalah ketersediaan listrik memadai di masing masing BTS. Menurutnya suplai listrik genset tidak memadai guna menjaga kestabilan jaringan komunikasi satelit.

“Jaringan komunikasi satelit butuh jaringan listrik yang besar. Genset tidak memadai, apalagi solar sel,” keluhnya

Indosat memastikan akan gencar berinvestasi di perbatasan saat sudah ada ketersediaan jaringan listrik memadai. Doddy optimis realisasi kerjasama antara Kemeninfo, Pemprov Kaltim dan pemerintah daerah.

Berita Terkait

2 Comments

  1. […] pada 23 April lalu guna menyambangi Latifa Hanum yang merupakan pemilik Brilliant International. Pria asing ini bisa disebut adalah tenaga sukarelawan untuk mengajar bahasa Jerman pada siswa siswa Brilliant […]

  2. […] pada 23 April lalu guna menyambangi Latifa Hanum yang merupakan pemilik Brilliant International. Pria asing ini bisa disebut adalah tenaga sukarelawan untuk mengajar bahasa Jerman pada siswa siswa Brilliant […]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *