Pulau Tarakan Kalimantan Utara terkenal sebagai lumbung energi minyak dan gas wilayah perbatasan. Kota yang berbatasan langsung dengan Malaysia ini hanya seluas 250 kilometer persegi dimana mayoritas wilayahnya adalah rawa rawa dan perairan laut. Praktis tidak ada sejengkal lahan untuk dibajak disamping minimnya curah hujan di Pulau Kalimantan. Namun siapa sangka di lokasi secuil itu ada saja yang mampu membudidayakan tanaman pangan organik.
Buliran berasnya biasa, kecil, putih seperti halnya makanan pokok mayoritas masyarakat negeri ini. Cobalah cecap rasanya, jelas berbeda dibandingkan beras biasa diperdagangkan di pasar maupun toko grosir lainnya. Setiap gigitan dimulut jelas terasa kesegaran serta keharuman aromanya yang terbukti menyehatkan.
“Keluarga saya buktinya, tidak pernah sesak nafas lagi,” kata Syarifuddin, petani padi di Mamburungan Tarakan.
Sudah hampir enam tahun warga Mamburungan hanya mengkonsumsi beras organik. Kenapa disebut beras organik ? Itu semua karena dalam proses penanaman, pemeliharaan hingga pembasmian hama – sama sekali jauh dari yang namanya zat kimia. Semuanya hanya dengan mengandalkan benda benda di sekitar kita seperti gula merah, buah maja, bongkot rebung, bamboo, buah buah busuk dan abu bakar yang di olah dalam proses fermentasi sederhana. Hasilnya mujarab, tanaman terawat – hama padipun minggat.
Syarifuddin hanyalah seorang petani biasa di Mamburungan. Berbekal tekat serta kerja kerasnya bersama Kelompok Tani Mapan Sejahtera, pria keturunan Bugis Sulawesi Selatan ini sukses menyulap tanah dulunya liat berpasir menjadi kawasan subur bagi tanaman padi. Sesuatu yang nyaris tidak mungkin terjadi, mengingat tandusnya bumi Tarakan dibandingkan tanah tanah pegunungan.
Semua bermula 2006 silam, saat Syarifuddin nyaris patah arang mengakali tanamanan sayurannya yang tidak kunjung membuahkan hasil. Mengawali seperempat hektare hasil kebunnya dengan tanaman jenis cabai, ia mengeluhkan modalnya yang terus tergerus. Hasil kebun cabainya begitu buruk yang artinya harganya akan kembali dihargai murah. Bagaimana tidak, modal dikeluarkan dengan hasilnya kurang lebih sama.
“Saya modal Rp 4 juta selama dua minggu hasilnya saat dijual sama saja. Artinya rugi,” keluhnya. Saat mencoba banting setir menanam tomat, yang ternyata hasilnya setali tiga uang.
Sempat pasrah dengan menyalahkan struktur tanah Tarakan yang tidak cocok untuk seluruh jenis tanaman. Usulan menanam padi sempat dianggap ide gila bagi seluruh petani Mamburungan.
“Bagaimana menanam padi bisa hidup tanpa pupuk maupun pestisida kimia ? Sedikit petani yang mau mencoba, mereka beralasan takut rugi untuk yang kedua kali,” ujarnya.
Ketidak pastian nasibnya, PT Medco E&P Indonesia menawarkan program community development (pengembangan masyarakat) sistim pertanian berwawasan lingkungan. Medco mengenalkan sistim pertanian SRI Organik atau istilah kerennya system of rice intensification. Petani Mamburungan menyebutnya dengan istilah Sawah Ridho Ilahi.
“Wujud peran serta perusahaan kami pada masyarakat,” kata Humas Medco Tarakan, Arin Safarina yang sengaja mendatangkan pendamping petani, Sigit Kanuseno dalam mensosialisasikan SRI Organik.
SRI Organik merupakan sistim pertanian padi berwawasan lingkungan dengan pemanfaatan seluruh potensi kekayaan tumbuhan di Indonesia. Disini, haram hukumnya menggunakan pupuk kimia apalagi pembasmi hama pestisida yang belakangan balik meracuni tanaman itu sendiri.
SRI Organik mendorong penggunaan mikro organism local (MOL) untuk membasmi hama tanaman maupun penyuburan tanah tandus. Atau menandingkan hama pengganggu dengan bakteri pemangsa biologisnya. Satu contoh kongkritnya adalah dengan merubah tanah Tarakan yang dulunya gersang menjadi gembur bak tanah pegunungan.
“Cukup dengan diberikan kompos kotoran hewan ternak dan daun daunan. Untuk menurunkan kandungan keasamannya jadi dibawah 5 PH,” kata Syarifuddin.
Meracik MOL bisa berguna untuk berbagai hal penting seperti menyuburkan tanah, merindangkan tanaman, menggendutkan bulir beras hingga pembasmian hama dan gulma. Ancaman hama tanaman cukup diatasi dengan racikan fermentasi gula merah, nasi basi dengan serbu bamboo yang ditemukan di alang alang. Proses fermentasi merubahnya jadi MOL pembasmi hama ramah lingkungan yang efektif.
Kalau masih belum mempan, masih ada adonan gula merah dicampur air kelapa plus air cucian beras jadi limbah rumah tangga. Hasilnya mujarab, hama ulat maupun wereng gagal berkembang biak dengan maksimal hingga gampang dimusnahkan secara manual.
“Disemprotkan di tanaman dua minggu sekali. Ramah lingkungan, bahkan baunya seperti tape sehingga tidak perlu masker penutup hidung dan mulut,” tuturnya.
Mencoba ramuan barunya ini, Syarifuddin girang bukan kepalang produksi gabah keringnya melambung dua kali lipat dibandingkan saat masih menerapkan cara cara konvensional. Bukan hanya itu, biaya pemeliharaan tanaman padi juga bisa ditekan hingga 75 persen dibandingkan cara menanam yang lama.
“Kalau cara konvensional butuh modal hingga Rp 12 juta dengan produksi 4 ton gabah kering, dengan SRI Organik hanya butuh Rp 1 juta dengan produksi mencapai 8 ton gabah kering. Padahal luasan lahannya serta bibitnya sama yaitu jenis IR Sentanu,” ungkapnya.
Petani bisa berhemat banyak saat tidak tergantung lagi dengan kebutuhan pupuk urea maupun pestisida yang harganya juga tidak menentu. Seluruhnya bisa tertanggulangi dengan pemanfaatan berbagai ramuan MOL untuk penyuburan tanah, gizi tanaman hingga pembasmian hama penggangu.
Syarifuddin bahkan optimis, cukup bermodalkan Rp 10 juta mampu meraup untung hingga Rp 40 juta per triwulannya dalam pengelolaan 1 hektare sawah padi. Modal awalnya itupun hanya dipergunakan untuk membayar tenaga penggarap sawah sesuai aturan SRI Organik.
“Kita tinggal ongkang ongkang kaki serta mengawasi pengerjaanya. Selama tiga bulan hasilnya Rp 40 juta,” katanya.
Tidak heran, sekarang ini Syarifuddin bisa disebut sebagai idola baru bagi warga di perbatasan seperti Tarakan, Nunukan hingga Bulungan. Mereka terperangah dengan jenis tanaman padi yang terbilang baru ini bagi masyarakat Kalimantan.
“Mereka tidak tahu tanaman padi, tahunya tanaman beras. Maklum jarang ada sawah di Kalimantan,” tuturnya.
Beras Mamburungun memang punya kualitas sendiri sebagai beras organic tanpa zat kimia. Permintaannya langsung melambung dari dalam negeri maupun ke negeri Jiran Malaysia. Satu kesempatan bisnis yang sayangnya belum bisa dipenuhi Kelompok Tani Mapan Sejahtera yang anggotanya sudah berjumlah 29 orang.
“Masih kami konsumsi sendiri agar kami sehat dahulu. Padahal permintaan datang dari pemerintah daerah Tarakan hingga Malaysia. Berapapun jumlahnya, mereka siap beli,” tuturnya.
Kelompok Tani Mapan Sejahtera sudah punya mimpi sendiri dalam memanfaatkan berbagai lahan gersang bekas pembalakan kayu. Semuanya sangat mungkin disulap jadi kawasan persawahan padi. Sudah tersedia lahan seluas 160 hektare di Bulungan – salah satu kabupaten tetangga dengan Tarakan.
Pengelolaan lahan Bulungan dipastikan mampu mencukupi kebutuhan beras untuk seluruh masyarakat yang berbatasan langsung dengan Malaysia ini. Sebagian sisa produksi beras organic masyarakat mempunyai nilai ekonomis tinggi untuk dijual ke daerah daerah lain.
Sayangnya, petani padi Mamburungun juga terbelit masalah klasik petani di Indonesia yakni tergantung pada pabrik penggilingan gabah yang menetapkan harga di luar kewajaran. Sebagai pabrik penggilingan gabah satu satunya di Tarakan, mereka meminta jatah sekilo beras setiap menggiling 8 kilogram gabah kering petani. Alternatifnya bisa menunggu bantuan Medco ataupun Pemerintah Tarakan.