Ratusan warga Kutai Kalimantan Timur melakukan aksi unjuk rasa di Kantor DPRD Balikpapan, Senin (27/1). Mereka menuntut DPRD Balikpapan minta maaf saat menolak pergantian nama Bandara Sepinggan menjadi Sultan Aji Muhammad Sulaiman yang merupakan salah satu raja Kesultanan Kutai.
“Kami warga Kutai merasa terhina karena tidak dianggap dengan pernyataan Ketua DPRD Balikpapan. Sultan Aji Muhammad Sulaiman seperti tidak dianggap saja,” kata massa ini dalam orasinya.
Massa tiba di Kota Balikpapan menumpang enam bus dari Samarinda dan kota sekitarnya. Sebelum memasuki Balikpapan, polisi sudah merazia massa ini yang datang dengan membawa Mandau, tombak dan senjata tajam lainnya.
Selama hampir empat jam massa Kutai memadati Jalan Jenderal Sudirman Balikpapan yang berada di depan kantor DPRD Balikpapan. Ratusan personil kepolisian bersenjatakan lengkap langsung menghadang kedatangan massa demonstran.
Ketua DPRD Balikpapan, Andi Burhanuddin Solong meminta maaf saat komentarnya menyinggung pada warga Kutai. Dia berdalih komentarnya di media massa lokal tidak dimaksutkan untuk menghina warga Kutai.
“Saya minta maaf bila ada komentar saya yang menyinggung warga Kutai,” paparnya.
Namun soal pergantian nama bandara Balikpapan, Burhan menegaskan perlu adanya perundingan bersama antara perwakilan daerah dengan provinsi Kalimantan Timur. Selama ini, dia mengatakan warga Balikpapan tidak pernah dilibatkan dalam rencana pergantian nama Bandara Sepinggan menjadi Sultan Aji Muhammad Sulaiman.
“Mohon dikirimkan undangannya kepada Pemkot Balikpapan dan DPRD Balikpapan,” ujarnya.
Pemkot dan DPRD Balikpapan sudah menolak perubahan nama Bandara Sepinggan jelang peresmian renovasi bandara yang menelan dana hingga Rp 2 triliun. DPRD Balikpapan kala itu siap turun ke jalan bila nama Bandara Sultan Aji Muhammad Sulaiman tetap dipaksakan.
Sikap ini diputuskan menyusul desakan sejumlah warga Balikpapan yang menolak rencana pergantian nama bandara. Komunitas warga Balikpapan mengatasnamakan ‘Save Sepinggan’ menolak nama Sultan Kutai, Aji Muhammad Sulaiman yang dianggap tidak berkontribusi dalam pengembangan warga asli Balikpapan.
Nama Sepinggan menyimpan sejarah soal asal usul warga asli Balikpapan. Nama Sepinggan merupakan symbol perdamaian antara sejumlah suku yang mendiami Balikpapan.
Sebaliknya, Gubernur Kalimantan Timur, Awang Faroek Ishak ngotot dengan nama Sultan Aji Muhammad Sulaiman Sepinggan. Dia berdalih keinginannya tersebut sudah disetujui Kementerian Perhubungan.
“Namanya jelas, Sultan Aji Muhammad Sulaiman Sepinggan,” katanya.
Awang mengaku tetap membawa aspirasi warga Balikpapan dengan tetap mencantumkan Sepinggan di belakang nama bandara nantinya. Menurutnya hal tersebut jadi solusi penyelesaian aspirasi masing masing pihak.
Awang berpendapat sepantasnya nama bandara internasional mempergunakan tokoh local setempat. Nama kerajaan Kutai menjadi pilihan utama mengingat lokasinya yang berada di Kalimantan Timur.