Walhi Tolak Bendungan Bulungan

Tari suku KalimantanNewsBalikpapan –

Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) menolak rencana pembangunan pembangkit listrik tenaga air (PLTA) 6.600 MW di Bulungan Kalimantan Timur. Pembangunan pembangkit ini dikhawatirkan akan menenggelamkan Desa Long Peleban dan Long Leju Kecamatan Long Peso yang dihuni 700 jiwa.

“Akan menenggelamkan dua desa di Bulungan,” kata Direktur Walhi Kalimantan Timur, Izal Wardana, Senin (7/10).

Izal mencontohkan pembangunan sejumlah bendungan di Indonesia yang pada akhirnya meninggalkan dampak negative terhadap lingkungan. Ribuan warga masyarakat dipaksa untuk dimobilisasi ke daerah lain dalam rangka pembangunan bendungan air ini.

“Dampak negatif yang signifikan terhadap lingkungan hidup serta keberlangsungan kehidupan masyarakat lokal yang berada pada bagian hulu dan hilir bendungan,” ujarnya.

Izal mengatakan pembangunan bendungan besar nantinya akan berdampak negative pada lingkungkungan hidup. Seperti temuan world commission on dams, menurutnya kerusakan berupa kerusakan lingkungan, kelangkaan spesies, hutan, lahan basah, pertanian, biodiversitas, perikanan hulu – hilir sungai,  limpasan banjir hilir sungai, lahan basah.

“Parahnya, dampak negatif lingkungan hidup tersebut tidak diprediksi dan usaha dalam rangka meredakan dampak tersebut selalu gagal,” tuturnya.

Kurun jangka panjang, lanjut Izal, pembangunan bendungan juga menghasilkan emisi gas rumah kaca  akibat pembusukan vegetasi. Bendungan ini diprediksi mampu menghasilkan 1 – 28 persen emisi gas rumah kaca yang berdampak negative pada lapisan ozon.

“Sering kali target investasi tidak sesuai dengan harapan pembangunan. Bahkan membuka peluang terjadinya praktek KKN dalam pelaksanaanya,” paparnya.

Pemkab Bulungan menggandeng investor China dalam pembangunan PLTA dengan nilai investasi 17 juta US Dolar pada awal 2014 nanti. Pembangkit listrik nantinya secara bertahap mampu menghasilkan daya listrik dari 660 MW, 2.500 MW hingga 6.600 MW.

Berita Terkait

1 Comment

  1. […] Bulungan saat itu memerintah dengan bergelimpangan kekayaan hasil hutan, sungai dan laut perbatasan Kalimantan. Keluarga kerajaan dan masyarakat asli Suku Kayan tidak pernah merasa kekurangan apapun dalam […]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *