Satu BTS Perbatasan Senilai Rp 3 M

Tari DayakNewsBalikpapan –

PT Telekomunikasi Seluler menyebutkan harga base transceiver station (BTS) di perbatasan mencapai biaya Rp 3 miliar atau berlipat lipat dibandingkan area perkotaan. Telkomsel harus menyewa pesawat, helicopter hingga kapal guna mengangkut bahan bangunan BTS ke perbatasan.

“Harga BTS nya hingga dua kali lipat dibandingkan di daerah perkotaan,” kata Direktur Utama Telkomsel, Alex Sinaga saat di Balikpapan, Selasa (16/12/2014).

Telkomsel membangun lima BTS berlokasi di Tiong Ohang, Long Apari, Long Lunuk di Kabupaten Mahakam Ulu dan Long Lays serta Agung Baru yang berlokasi di Nunukan – Malinau.  Pembangunan BTS ini melengkapi enam BTS perbatasan lainnya sudah terbangun berlokasi di Long Ampung, Berang, Long Manyu, Long Pujungan, Data Dian dan Long Nawang.

Alex mengatakan pihaknya tidak berhitung bisnis kala mengaktifkan layanan telekomunikasi seluler di daerah perbatasan seperti di Tiong Ohang, Long Apari, Kabupaten Mahakam Ulu. Warga perbatasan ini hanya dihuni 5 ribu orang sehingga diperkirakan maksimal pendapatan diperoleh adalah Rp 50 juta sebulan.

“Sewa satelitnya saja sebesar Rp 100 juta sebulan. Kalau pakai hitungan bisnis, tidak akan pernah ada layanan seluler di sana,” paparnya.

Sejak akhir November lalu, 5.000 warga Tiong Ohang di dekat perbatasan Indonesia dengan Negara Bagian Sarawak, Malaysia, kini sudah bisa berkomunikasi melalui telepon seluler.

Manager Umum ICT Telkomsel Kalimantan, Ardhiono Trilaksono mengatakan pembangunan BTS ini berkat kerjasama antara Telkomsel dengan pemerintah daerah. Telkomsel dalam hal ini hanya menyiapkan teknologi maupun sewa jasa jaringan satelit saja.

“Kerjasama dengan Kabupaten Mahakam Ulu, Malinau dan Nunukan,” ujarnya.

Masing masing daerah menyiapkan fisik pembangunan BTS, tower beserta pasokan kelangsungan solar gensetnya mencapai 200 liter per bulan untuk masing masing BTS. Keberadaan BTS ini nantinya mampu menjamin jaringan telpon seluruh proveder Telkomsel di area perbatasan Kaltim dengan Malaysia.

Ardhiono menyatakan Telkomsel berkewajiban memberikan layanan telekomunikasi pada seluruh warga masyarakat termasuk di wilayah pelosok perbatasan. Pemerintah Indonesia menjadi pemilik mayoritas saham perusahaan telekomunikasi terbesar di negeri ini.

Menteri Dalam Negeri, Menteri Komunikasi dan Informatika dan Direktur Utama Telkomsel rencananya akan meresmikan secara langsung berdirinya BTS perbatasan ini pada 10  Desember 2014 nanti.

Berita Terkait

1 Comment

  1. […] perkotaan di Kalimantan diprediksi nantinya akan lebih mengkedepankan penggunaan transaksi uang elektronik dibandingkan […]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *