“Mereka pakai lab computer,jadi kalau ruang kelas tidak ditambah mereka tidak bisa praktek. Makanya kita minta ditambah dua ruang kelas, satu bantuan dari pusat dan satu dari kota. ini akan dibangun pada 2012 ini,” ucap pimpinan Sidak Abdullah anggota Komisi III.
Padahal sebenarnya SMP Negeri 20 sudah baru berdiri sejak tahuh 2000. Namun sayangnya kurang mendapat perhatian. Selain ruang kelas yang minim, sarana air bersih pun tak ada, sehingga WC tidak terjaga kebersihannya.
Disamping itu ruang perpustaan pun terpaksa harus berbagi dengan ruang guru dan ruang laboratorium yang juga kurang fasilitas penunjang. “Kita minta itu segera dalam APBD murni ini, katanya ini masuk dalam program perbaikan sekolah,” ucap Abdullah anggota Komisi III.
Kepala Sekolah SMP Negeri 20 Ahmad mengakui keterbatasan dan minimnya sarana, tahun 2011 lalu hanya mendapat satu ruang kelas. Sedangkan yang mendaftar dan ingin masuk SMP Negeri 20 cukup banyak.
“Kita baru dapat satu tambahan kelas baru dioperasional Septem 2011 lalu. Semua serba kurang memang tapi kita jalani. Yang utama memang penambahan kelas kalau tidak ada kelas memang kita tidak bisa menerima siswa padahal yang mendaftar disini banyak sekali hampir 3 kelas,” ucapnya.
Sementara itu saat melakukan sidak ke SMP Negeri 7 Kelurahan Damai, sempat terungkap adanya saling lempar tugas dan tanggungjawab Dinas Pendidikan Kota Balikpapan dengan Dinas Pekerjaan Umum Kota Balikpapan dalam pembuatan drainase di SMP Negeri 7.
“Kebetulan ada dinas PU dan pendidikan kita minta ini dibuatkan drainase karena aliran airnya mengalir kerumah warga sehingga kita dikomplain,” ujar kepala sekolah SMP Negeri 7 Syamsuddin Noor.
Namun justru dalam dialog singkat tersebut, Kepala Dinas PU Tara Alorante meminta Dinas Pendidikan yang membuatnya karena dianggapnya masuk dalam lingkungan sekolah.
“itu bisa dikerjakan oleh dinas pendidikan, kan bisa dimasukan dalam fasilitas sekolah. Itukan berada dalam sekolah. Lebarnya ya bisalah dibuat sekita 60cm,” tandasnya.
Mendengar itu, Kabid Pendidikan Dasar Dinas pendidikkan Irawan menyatakan tidak ada anggaran untuk pembuatan drainase itu. “ sepertinya lebi mudah itu ditangani PU, kita tidak ada anggarannya. Kita lebih banyak perbaiki ruang kelas, plafon bocor, wc dan bangunan lainya,” tandasnya.
SMP 7 ini dibangun sejak 1982 dengan jumlah ruang kelas sebanyak 29 ruangan dan 1000 lebih murid. Sejumlah ruang juga telah diperbaiki sejak 2009 lalu namun karena kondisi lahan yang berbukit sejumlah ruang kelas II dan III mengalami kerusakan seperti atap plafon yang terkelupas.