Tekat Martha Nalurita (34 tahun) kali ini sudah mantab. Setelah melalang buana mencoba berbagai profesi – kini Atha, akrab disapa bertekat meneruskan usaha titisan keluarga. Bakat jahit menjahit menjadi modal utama merintis lini usaha fashion , Samantha Project di Balikpapan.
“Menjahit sudah menjadi titisan DNA keluarga kami,” kata Martha Nalurita saat ditemui Tempo di rumahnya Perum Balikpapan Baru Kalimantan Timur sekaligus workshop jahitnya, Senin (16/1).
Sempat menekuni ketrampilan menjahit sejak sekolah dasar – Atha sejatinya tak terpikir meneruskan profesi dijalani ibunya ini. Selepas menamatkan ilmu komunikasi di Universitas Atmaja Yogjakarta pada 10 tahun silam – ia sebenarnya bertekat merambah dunia jurnalistik.
Atha sempat menjadi wartawan online Bisnis News, Harian Yogja hingga freelance di berbagai media internasional. Profesi ini sempat digelutinya selama tiga tahun terakhir selepas menamatkan pendidikan sarjananya.
“Hingga akhirnya menikah dan pindah ke Balikpapan ikut suami disini,” ungkap Atha yang dipersunting wartawan Harian Kompas penugasan Balikpapan, Lukas Adi Prasetyo pada 2011 silam.
Setahun tanpa kegiatan di Balikpapan, Atha berinisiatif membuka berbagai usaha. Dari kuliner, berjualan pulsa hingga menjadi kontributor sejumlah media internasional. Hasilnya tidak seberapa – namun capeknya tidak terkira.
“Saya sempat memasak hingga larut malam hari dan membuka jualan pukul 04.00 dini hari,” keluhnya kala bercoba layanan food truck di Lapangan Merdeka Balikpapan.
“Persaingan usahanya sudah luar biasa ketat disini dalam usaha kuliner,” imbuhnya.
Saat itu, bisnis usaha modiste mengadopsi penyanyi jazz era 60, Samantha Jones ini belum terpikirkan. Satu unit mesin jahit manual merk Singer seharga Rp 2,1 juta teronggok di sudut ruangan. Sesekali mesin jahit ini dipergunakan sekedar melepas kerinduan.
Pada saat itu alat kerjanya makin lengkap dengan tambahan mesin obras dan mesin jahit listrik. Atha akhirnya bertekat meneruskan usaha jahitan Samantha yang sudah dirintis ibunya, Sri Suwantiyah sejak 1968 silam.
“Saat itu untuk melancarkan teknik menjahit, kami membeli satu mesin obras dan mesin jahit listrik baru. Masa 2012 hingga 2015 dipergunakan untuk mengasah keterampilan menjahit. Setelah lancar kembali, kemudian terbersit pikiran untuk meneruskan bisnis menjahit di Balikpapan,” ujarnya.
Bisnis usaha modiste Samantha Project benar benar dimulai dari nol. Mereka sempat merasakan bagaimana sulitnya mencari seorang pelanggan di Balikpapan. Apalagi Atha seorang warga pendatang yang tidak mempunyai sanak saudara di Balikpapan. Dia hanya mengandalkan jalinan pertemanan suaminya, komunitas gereja, media sosial hingga promosi sejumlah pameran di mall setempat.
“Hasilnya mulai terasa saat ada yang meminta jasa jahitan baju seharga Rp 100 ribu. Senangnya sudah luar biasa,” tuturnya.
Sejak itu, roda bisnis Samantha Project mulai berputar. Satu per satu pelanggan makin percaya kualitas jahitannya yang mengambil spesialisasi gaun perempuan dan kebaya. Apalagi Atha ternyata juga terbukti andal merancang busana perempuan sesuai perkembangan industri terkini. Modalnya cukup dengan mempelototi tayangan dunia fashion dalam dan luar negeri.
Samantha kini mulai mengenalkan berbagai rancangan pakaian ready to wear baik untuk gender laki laki, perempuan, unisex maupun anak anak. Omzet jahitannya makin membaik saat mampu mengantongi pemasukan hingga Rp 8 juta per bulannya.
Pesatnya tingkat perekonomian Kota Balikpapan seiring pula pertumbuhan bisnis modiste Samantha Project. Atha makin berani mengembangkan usahanya dengan membeli dua peralatan kerja mesin jahit listrik. Dua orang ibu rumah tangga (IRT) ikut membantu dengan gaji masing masiang Rp 1,2 juta per bulannya.
“Memang belum sesuai upah minimum regional (UMR) Kaltim. Namun kerja disini sangat fleksible tanpa ada jam kerja. Mereka bisa kerja di sini atau di rumah tanpa ketentuan waktu. Saya hanya mengharapkan hasilnya tepat waktu,” paparnya.
Atha optimis bisnis usaha modiste Samantha Project memiliki prospek menjanjikan di masa mendatang. Kompetitor bisnis usaha modiste terbilang masih bisa dihitung jari di Balikpapan. Hingga kini belum ada seorang penjahit yang sekaligus mampu mendesain baju di Balikpapan.
“Adanya alat kerja baru dan tambahan dua karyawan diharapkan mampu meningkatkan pemasukan Rp 10 juta hingga Rp 15 juta per bulan. Cukup membantu keuangan keluarga nantinya,” paparnya.
Lukas Adi Prasetyo (37 tahun) merupakan pendukung utama roda bisnis istrinya dalam pengembangan Samantha Project. Selain tugas jurnalistiknya, ia merangkap penyandang dana, distributor jahitan, sopir sekaligus marketing produk.
“Saat tidak ada liputan pastinya membantu pekerjaan istri ini, semuanya dikerjakan,” ujarnya sambil tersenyum.
Wartawan Kompas Balikpapan ini pula yang mengonlinekan Samantha Project lewat berbagai akun media sosial seperti instagram, facebook hingga peluncuran website www.modistesamantha.com.
Dia pula yang menelorkan konsep order jasa jahitan online lewat website yang aktif tiga bulan terakhir.
“Website ini ada panduan agar pelanggan bisa mengukur sendiri ukuran bajunya. Panduannya bisa lewat telpon, email maupun chating. Setelah itu, kami akan melakukan proses penjahitan baju sesuai model dan jenis kain yang diinginkan pelanggan.
Adi mengakui konsep jahitan pakaian online belum jamak di Indonesia apalagi di Balikpapan. Dia hanya menyakini nantinya masyarakat urban tidak memiliki banyak waktu untuk mengurusi berbagai tetek bengek ini.
Mereka akan mempercayakan penjahitan bajunya pada jasa modiste langganannya. Teknik pemesanan cukup dengan mengakses berbagai situs fashion yang menawarkan jahitan baju.
“Situs kami juga menampilkan berbagai desain Samantha Project. Pelanggan bisa meminta jasa jahitan ataupun membeli berbagai desaian yang sudah ada saat ini,” katanya.