Balikpapan –
Pemerintah Kota Balikpapan Kalimantan Timur mengalokasikan anggaran penutupan lokalisasi kilometer 17 Karang Joang sebesar Rp 1,2 miliar bagi 311 pekerja sex komersial (PSK) setempat dan 14 satpam. Dana ini dimaksutkan sebagai uang tali asih agar para PSK beralih profesi usai penutupan prostitusi ini.
“Ada alokasi dana penutupan komplek protitusi kilometer 17 Balikpapan,” kata Kepala Bagian Pemerintahan Pemkot Balikpapan, Zukifli, Senin (20/5).
Zulkifli mengatakan masing masing PSK dan satpam akan memperoleh dana sebesar Rp 3,5 juta yang sebagian diantaranya akan berupa tiket mudik ke kampung halaman. Mereka diminta menukarkan bukti pembelian tiket mudik dengan uang yang yang nilai nominalnya sebesar Rp 1 juta.
“Sehingga total dana bagi mereka adalah Rp 3,5 juta,” paparnya.
Alokasi dana ini, kata Zulkifli tidak terlepas adanya rencana penutupan komplek protitusi ini pada 5 Juni nanti. Wali Kota Balikpapan sudah menerbitkan surat keputusan penutupan komplek prostitusi ini dari seluruh aktifitas masyarakat.
Saat ini, Pemkot Balikpapan terus mensosialisasikan perihal penutupan komplek prostitusi dan dana tali asih sudah dipersiapkan. Koordinasi dilakukan bersama aparat keamanan guna meminimalisir adanya penolakan penutupan komplek ini.
Balikpapan menjanjikan penutupan komplek pelacuran Lembah Harapan Kilometer 17. Desakan penutupan tempat prostitusi ini sudah berlangsung sejak tahun 2000 hingga tahun 2013 ini.
“Efektifnya memang 5 Juni 2013, sesuai dengan SK Walikota, untuk penutupan resmi lokalisasi itu, tidak ada lagi aktifitas didalamnya,” kata Zulkifli.
Penutupan lokalisasi itu, berdasarkan desakan dari berbagai elemen masyarakat Balikpapan, yang sempat melakukan aksi demo di Kantor Walikota beberapa waktu lalu. ”Saat ini para penghuni lokalisasi dalam pembinaan, sebelum dikembalikan ke masyarakat,” ujarnya.
Untuk mengawasi agar para penghuni lokalisasi tidak kembali, pasaca ditutupnya lokalisasi, Pemkot kata Zulkifli akan menempatkan Satpol PP untuk mengawasi. “Kita akan buat posko dan tugaskan satpol PP, tapi kita masih rapatkan lagi,” ujarnya.
Ditutupnya lokalisasi tersebut, tidak serta-merta barak-barak yang ditempai para pekerja seks komersial (PSK) dibongkar.
Ada sekitar 400-an penghuni lokalisasi tersebut, yang rata-rata berasal dari pulau Jawa. Sebelum ditutup mereka diberikan berbagai macam pelatihan, sehingga ketika kembali kemasyarakat, mereka dianggap sudah mampu bekerja yang positif.
1 Comment
[…] tajam penuh curiga segelintir penghuninya membayangi setiap orang asing yang memasuki lokalisasi ini. Mereka adalah beberapa perempuan muda serta pria bertatoo sedang bersantai di pintu portal […]