Dini mengatakan almarhum meninggalkan seorang istri dan tiga anak yang masih kecil kecil. Dia mengharapkan partisipasi serta bantuan guna meringankan sedikit beban keluarga sudah ditinggalkan.
Selama sakit biaya pengobatan dan operasi mencapai Rp 78 juta lebih. Keluarga hanya mengandalkan hadiah tulisan Pertamina sebesar Rp 25 juta plus harta benda pribadi.
PT Tempo Inti Media, kata Dini hanya membantu dengan nilai total sebanyak Rp 11 juta untuk keperluan pengobatan. Dana sebesar tersebut jauh dari mencukupi untuk pemulihan kesehatan Bibin.
Bibin, panggilan akrabnya bekerja sejak 2001 di Tempo mengantongi segudang prestasi. Beberapa kali mendapat fellowship atas karja jurnalistiknya dari Society of Indonesian Enviromental Journalist (SIEJ) untuk isu globalisasi, AJI Indonesia tentang pengendalian tembakau dan perburuhan. Meraih juara pertama penulisan jurnalistik Departemen Pertanian, juara ke dua lomba jurnalistik tentang sanitasi yang diselenggarakan AJI Malang serta juara pertama lomba jurnalistik Pertamina kategori energi terbarukan.
Semestinya, Bibin atas penghargaan Pertamina mengikuti visit media ke BBC London, Inggris. Namun, impiannya mengunjungi perusahaan media di Inggris kadas.
Sebelum menghembuskan nafas terakhir, Bibin terpaksa menjalani perawatan di rumah karena keterbatasan biaya pengobatan.. Mestinya, baik keluarga Bibin dan perusahaan tak terbebani membayar biaya pengobatan yang tak murah jika sebelumnya Bibin masuk dalam jaminan sosial tenaga kerja atau asuransi kesehatan. Meski telah mengabdi selama 11 tahun, Tempo tidak menyiapkan jaminan kesehatan buat Bibin.
Bibin merupakan salah seorang pemrakarsa berdiri Serikat Pekerja Koresponden Tempo atau Sepak@t Indonesia. Satu poin penting perhatian Bibin adalah peningkatan kesejahteraan pekerja media berstatus koresponden atau contributor.