Balikpapan –
Presiden Direktur Total E&P Indonesie, Elisabeth Proust mengaku sedih tentang pandangan banyak orang soal perusahaan migas dikelolanya ini. Polemik soal perpanjangan kontrak pengelolaan Blok Mahakam memang banyak yang menyebutkan Total E&P Indonesie sebagai perusahaan asing.
“Polemik politik soal masa depan kontrak Total E&P Indonesia yang menyebut kami sebagai perusahaan asing. Saya sedih mendengar itu,” katanya saat peresmian lapangan South Mahakam di Senipah, Kamis (17/1) malam.
Elisabeth mengatakan Total sudah mengabdikan dalam industry migas di Blok Mahakam sejak tahun 70 an hingga sekarang ini. Kontribusinya tidak bisa dipandang ringan lewat produksi 2.500 juta standar metric kubik per hari dari lapangan Bekapai, Peciko, South Mahakam, Tambora CPU, SPS, Handil, centra processing unit, north processing unit dan south processing unit.
Total juga mempekerjakan sedikitnya 20 ribu karyawan bekerja setiap hari. Mereka ini mayoritas berkebangsaan Indonesia sebanyak 3.700 (dalam negeri), 107 (luar negeri) dan 125 (multi nasional).
Selama di Blok Mahakam, Elisabeth menyebutkan Total E&P Indonesie sudah menghabiskan dana sebesar Rp 20 triliun untuk eksplorasi pencarian sumber migas. Sebanyak Rp 27 triliun juga dihabiskan untuk pengembangan lapangan yang sudah terlebih dahulu eksisting.
Tahun 2012 lalu, Total E&P Indonesie menghabiskan Rp 25 triliun yang terdiri Rp 16 triliun investasi modal berupa platform, pipa dan 106 sumur. Sisanya sebesar Rp 67 triliun diserahkan pada Negara.
Elisabeth mengatakan industry migas Total E&P Indonesie menyumbangkan penerimaan Negara sebesar Rp 830 triliun. Keseluruhan produksi Blok Mahakam sebesar 80 persen diserahkan sebagai pemasukan Negara.
“Semua itu diluar berbagai program corporate social responsible (CSR) perusahaan kami bidang pendidikan, kebudayaan, lingkungan dan lain lain,” ujarnya.
Sehubungan itu, Elisabeth berpendapat sudah sepantasnya tim Total E&P Indonesie disebut sebagai usaha bisnis Indonesia yang mengabdi pada kepentingan Negara.
“Industri migas adalah usaha bisnis dunia tetap nilai nilai Total sejalan dengan semangat Indonesia,” ungkapnya.
Elisabeth meminta pemerintah Indonesia dan asosiasi non pemerintah menghargai prestasi Total E&P Indonesie, karyawan dan manajemen.