Balikpapan –
Apa jadinya bila Perusahaan minyak dan gas Mathilda tidak menemukan sumur minyak pertama di Balikpapan Kalimantan Timur pada 10 Februari 1897 silam. Bisa jadi, kota Balikpapan tidak akan se terkenal seperti sekarang ini. Sebagai kota nomor satu di Pulau Kalimantan – sudah sepantasnya menyandang sebutan pintu gerbang Pulau Borneo.
Semua bermula saat perusahaan migas Matilda, J.H Menten, Mr Adam dari Firma Samuel & Co menemukan sumur minyak untuk kali pertama di Balikpapan. Lokasi tepatnya terletak di dekat pintu gerbang Jalan Minyak kilang Pertamina dimana saat ini sudah dibangun monumen sederhana sebagai pertanda keberadaanya.
Semua pihak setuju bahwa penemuan sumur minyak ini yang kemudian menjadi cikal bakal kota Balikpapan. Tidak terlalu berlebihan bila kemudian Pemerintah Kota Balikpapan mematenkan tanggal 10 Februari sebagai hari jadi kota Balikpapan yang sudah memasuki 115 tahun.
Sebagai kota di daerah pesisir Kalimantan, Balikpapan sudah menyimpan catatan sejarah yang sama yaitu pusat yakni pusat kegiatan ekonomi selalu berada di pesisir pantai. Semua terekam kuat dalam perjalan sejarah kota di masa sebelum kemerdekaan hingga sekarang ini.
Zaman penjajahan kolonial Belanda sudah menempatkan Balikpapan sebagai daerah strategis untuk kawasan nusantara wilayah timur. Tidak mengherankan di kala sudah tidak mampu menahan gempuran Jepang – penjajah ngabur sembari menerapkan taktik bumi hangus. Korbannya tentu saja kilang kilang minyak di Balikpapan yang hangus dibakar tentara Belanda sebelum meninggalkan bumi nusantara.
Saking dasyatnya kala itu, kobaran api menyala selama 15 hari dan membuat langit Balikpapan yang kala itu bernama Karisidenan Kutai gelap gulita.
“Selama setengah bulan kita tidak melihat matahari karena tertutup oleh gumpalan asap tebal. Api mati dengan sendirinya,” kata salah seorang saksi sejarah, Hj Siti Aisyah yang lahir di Nenang Penajam Paser Utara, 87 tahun silam.
Balikpapan mulai berkembang saat itu, apalagi sejak komplek kilang pengolahan minyak kilang terbesar di Indonesia terbangun. Ini merupakan cikal bakal berkembangnya daerah Balikpapan yang dulunya masuk dalam wilayah Kesultanan Kutai.
Tak heran pesisir pantai dijadikan area pintu masuk bagi hilir mudiknya pendatang yang menetap, termasuk jadi keberadaan awal masyarakat Balikpapan.
Pusat kegiatan ekonomi dan perdagangan Balikpapan mulanya berawal di kawasan kebun sayur yang dulu merupakan satu-satunya pusat kegiatan masyarakat. Nama kebun sayur diambil karena daerah itu dulunya tahun 1950 banyak berdiri kawasan pertanian dengan sayur mayurnya termasuk tumbuh suburnya pohon pandan dan hutan bakau.
“Dulunya kegiatan ekonomi dan masyarakat berpusat disitu, masyarakat menanam sayur kemudian di jual didaerah itu sehingga dikenal namanya kebun sayur,”ujar nenek beranak 10 ini.
Selain pasar, juga sudah ada lapangan Poni yang kerap digunakan masyarkat sekitar. Di daerah itu dulunya berdiri toko-toko kecil milik masyarakat keturunan Tinghoa, juga terdapat bangsal-bangsal atau barak bekas yang ditempati tentara perjuangan rakyat atau sekarang dikenal TNI. Lokasi bangsal itu dulunya milik tentara Belanda dan Jepang yang ditinggalkan.
“Satu barak itu berisi sekira 15 kamar, di kawasan sekarang Hotel Blue Sky itu banyak tumbuh pohon –pohon pandan makanya kawasan itu dinamakan jalan pandan yakni Pandan Sari, Pandan Wangi,” cerita Istri Veteran ini.
Ada lagi trem kereta api yang dimanfaatkan sebagai sarana transportasi pengangkutan batu bata/batako bagi kepentingan perluasan pembangunan kompleks kilang Pertamina. Batu itu ambil dari tempat pembuatannya di sekitar lokasi kawasan Rapak Dalam dengan rute Karang Anyar hingga Rapak.
“Kala itu, hanya ada satu atau beberapa kendaraan angkutan bermotor berbadan kayu,” tambah Aisyah yang telah menempati kawasan Pasar baru sejak 1950 an yang kini menjadi Balikpapan Center.
Kawasan Kebun Sayur dulunya memang kawasan stretegis yang menjadi salah satu kawasan idola bagi pendatang, baik dari seberang (Paser) maupun pendatang dari arah Hulu dan pendatang keturunan Tiongha. Letak inilah yang menjadikan kawasan Kebun Sayur – Karang Anyar menjadi kawasan utama bagi masyarakat dari dalam ataupun luar pada zamanya saat itu.
Menginjak tahun 1951 juga mulai bermunculan saksi sejarah kota Balikpapan seperti Pasar Baru – sebagai salah satu kegiatan ekonomi di Klandasan. Pedagang berbagai suku bangsa kala itu sudah terbiasa bertransaksi menggunakan perahu perahu kecil melintasi Sungai Klandasan yang dahulunya masih dalam.
“Disitu banyak perahu-perahu yang bisa masuk lewat sungai Klandasan, tapi tidak seramai di Kebun sayur,” kata Aisyah.
Dari sekian kejadi masa lalu, nenek ini juga masih mengenang saat proklamator negeri ini yaitu Soekarno – Muhammad Hatta mengunjungi kota Balikpapan. Di tahun 1950, dua pemimpin bangsa ini tiba di Balikpapan sehubungan konfrontasi dengan negara tetangga Malaysia yang kala itu dikuasai Inggris. Keduanya menginap di hotel satu satunya di Balikpapan yaitu Hotel Kutai yang kini beralih nama jadi Hotel Novotel.