Akal Akalan Tambang Hindustan

arsyatDebu setinggi manusia dewasa mengepul deras menerpa setiap kendaraan berat berlalu lalang mengangkut berton ton batu bara di Kelurahan Langgai dan Petangis di Kabupaten Paser Kalimantan Timur. Aroma solar dan oil bertebaran di udara bergabung dengan riuh rendah suara belasan perusahaan alat berat yang menggansir bumi kabupaten yang berjargon  Paser Kota Berhati Baik ini.

Kawasan konsesi seluas 800 hektare ini sejak empat tahun terakhir memang sudah masuk dalam area izin usaha pertambangan PT Bima Gema Permata Nuansa Sakti.  Perusahaan tambang batu bara satunya yang menjadi sandaran perekonomian masyarakat setempat yang dulunya banyak mengandalkan jasa buruh perkebunan kelapa sawit.

Muka muka local banyak mendominasi dalam barisan karyawan  perusahaan investasi modal asing asal India ini. PT Oorja Indo Petangis sebagai holding perusahaan ini memperkerjakan sebanyak 400 karyawan yang seluruhnya berkebangsaan Indonesia. Top level manajemen pun seluruhnya adalah orang Indonesia seperti jenjang project manager, deputy manager hingga para supervisor yang bersentuhan langsung dengan para karyawan di lapangan.

Padahal sebenarnya, ada sedikitnya enam orang kebangsaan India yang memantau langsung proses eksploitasi pertambangan batu bara PT Bima ini. Mereka ini ibaratnya menjadi mata mata pribadi bagi big bos perusahaan inti yakni duet Hindustan, Anand Singh serta Kirtipal Singh Raheja. Tujuannya tentu saja demi memastikan kelangsungan operasional perusahaan yang mampu menciduk 60 ribu metrix ton batu bara per bulannya.

“Mereka tinggal di camp perusahaan dan setiap hari ada di lokasi pertambangan,” kata Humas PT Bima, Arsyat.

Warga India ini yang bernama Gerindra, Sanjay, Prasan, Ujay, Wasu dan Dipak punya tugas tersendiri sesuai amanat owner perusahaan. Resminya, mereka hanya bertugas mengurusi penjualan batu bara, mekanikal alat berat, pengawasan serta survey lokasi lokasi baru yang sekiranya bisa diakuisisi oleh perusahaan induk. Tentu saja, warga India ini tidak masuk dalam strutur manajemen perusahaan yang resminya dipegang Bambang selaku Project Manager PT Bima.

“Ada aturan ketenagakerjaan Indonesia bahwa warga negara asing tidak boleh masuk dalam struktur manajemen perusahaan. Kalau mereka menduduki jabatan puncak sama artinya dengan menjajah bangsa ini,” papar Arsyat.

Sehingga selama empat tahun ini, enam warga India tersebut secara rutin melaporkan kinerja PT Bima pada bosnya yang berkantor di Tower XL Jakarta ini. Otomatis, seluruh kinerja perusahaan batu bara di Paser bisa terpantau langsung lewat tangan tangan pengusaha India yang ada di lapangan.

“Mereka menjaga jarak dengan karyawan sehingga sulit untuk bertemu dan wawancara. Kebetulan juga mereka sedang rapat di Jakarta karena ada panggilan dari bosnya,” kata Arsyat.

Lewat peran enam orang asing ini pula sehingga PT Oorja sukses membuka lokasi tambang baru seluas 2 hektare di Samarinda, ibu kota Provinsi Kalimantan Timur. Lokasi pertambangan yang sudah masuk proses eksploitasi pengapalan produksi batu bara.

“Lokasi tambangnya disebut Oorja II di Sie Asam Samarinda,” ungkap Arsyat.

Investor asal India ini memang terbilang agresif dalam memburu perluasan konsesi tambang batu baranya di Indonesia. Namun sejatinya, kepemilikan perusahaan batu bara di Indonesia hanya sekedar akal akalan dalam menjaring proyek pemasok pembangkit tenaga listrik di negeri Hindustan sana. Ada ketentuan pemerintah India bahwa swasta musti memiliki pertambangan batu bara sebagai syarat administrasi ikut dalam tender pemasok perusahaan listrik India.

“Terserah dimana saja, termasuk di Indonesia. Mereka ini terikat kontrak sebagai pemasok batu bara selama 15 tahun dengan pemerintah India,” papar Arsyat.

Lantaran itu, tidak mengherankan banyak pengusaha India yang kemudian berlomba lomba menanamkan investasinya mengakusisi sejumlah perusahaan pertambangan di Indonesia – termasuk diantaranya PT Oorja. Minimnya kandungan batu bara bukan menjadi suatu permasalahan utama mengingat menjamurnya industry pertambangan di Kalimantan. Pengusaha pertambangan di Kalimantan Selatan kerap menawarkan produksi batu bara kadar kalori medium dengan harga dibawah rata rata.

“Pengusaha India ini sudah menyiapkan kapal tongkang raksasa yang mampu memuat 80 ribu metrix ton batu bara perairan Muara Balikpapan. Seluruh produksi di Kalimantan langsung dibawa ke India per 1,5 bulan,” ujarnya.  “Mereka juga enggan membeli tambang di Kalimantan Selatan yang sudah terkenal semrawut dan tumpang tindih. Cukup dengan membeli produksinya saja,” imbuhnya.

Berita Terkait

2 Comments

  1. Tresna Widya says:

    PT Bumi Petangis dalam proses pengalihan saham oleh perusahaan asing dari Singapura, perlu dipantau karena IUP operasi produksinya belum terbit masih banyak kewajiban yg belum dipenuhi seperti FS, AMDAl, Laporan eksplorasi dll, seharusnya Ijin BP ditinjau kembali

  2. Sindi Kabeca kabe heni secca agarwo seccahe haram becca

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *