Kapal batu bara KaltimNewsBalikpapan –

LSM Jaringan Advokasi Tambang (Jatam) Kalimantan Timur menilai aktifitas lalu lintas pontoon batubara sudah menggangu habitat alam mamalia air pesut Mahakam. Kapal ponton memuat ratusan metric ton batubara rutin hilir mudik melintasi kawasan rawa gambut Mahakam di Muara Kaman, Kota Bangun, Kenohan dan Muara Wis di Kabupaten Kutai Kartanegara.

“Kawasan ini merupakan habitat alam mamalia air pesut Mahakam,” kata Divisi Database Jatam Kaltim, Rully Dharmadhi, Sabtu (6/6).

Rully mengatakan aktifitas lalu lintas ponton batubara makin meningkat selama dua bulan terakhir ini di kawasan seluas 278.767 hektare. Jatam mencatatkan beberapa kali kapal kapal ponton ini menabrak puluhan keramba dan alat tangkap ikan nelatan Muara Kaman.

Kabupaten Kutai Kartanegara, kata Rully sudah menetapkan sebagian kawasan tersebut seluas 76 ribu hektare sebagai kawasan konservasi lahan gambut daerah. Daerah berupaya melestarikan habitat mamalia air pesut Mahakam yang populasinya saat ini menyusut hingga 80 ekor.

Rully menduga kapal ponton milik PT Fajar Sakti Prima yang melakukan eksploitasi pertambangan batubara di Tabang Kutai Kartanegara. Perusahaan ini adalah salah satu anak perusahaan PT Gunung Bayan Pratama yang memiliki konsesi pertambangan di Kukar dan Kubar.

“Kawasan konservasi gambut Mahakam dilecehkan aktifitas pertambangan,” ujarnya.

Sehubungan itu, Rully meminta pemerintah daerah menghentikan aktifitas kapal ponton batubara di wilayah konservasi lahan gambut. Menurutnya kapal ponton batubara ini melintasi kawasan cagar alam Muara Kaman – Sedulang sesuai ke keputusan Menteri Kehutanan.

Kepala Desa Muara Siran, Uhay mengatakan aktifitas kapal ponton memberikan dampak negative pada perekonomian masyarakat tradisional. Menurutnya kapal kapal ini sudah merusak puluhan keramba, alat tangkap ikan, rumpon hingga penurunan kualitas air Sungai Mahakam.

“Sejak ponton lewat sudah tak terlihat juga kahadiran pesut,” ungkapnya.