Panen raya di BalikpapanNewsSamarinda –

BPJS Tenaga Kerja Samarinda Kalimantan Timur menyatakan sudah mencairkan sebanyak 14 ribu jaminan hari tua (JHT) pekerja sector tambang dan sub kontraktornya. JHT ini sudah dicairkan sebesar Rp 126 miliar dalam kurun waktu bulan Januari hingga Oktober 2015 ini.

“Kami cairkan Rp 126 miliar dengan nilai JHT masing masing sebesar Rp 15 juta hingga Rp 35 juta,” kata Kepala BPJS Tenaga Kerja Samarinda, Supriyanto dalam workshop jurnalis Aliansi Jurnalis Independen (AJI) di Samarinda, Sabtu (24/10).

Supriyanto mengatakan BPJS Tenaga Kerja membayar penuh permintaan pencairan JHT tenaga kerja ini. Dia menduga tenaga kerja tersebut adalah mereka adalah pekerja tambang dan sub kontraktor Samarinda yang terkena PHK.

BPJS Samarinda menduga gelombang pencairan JHT akan terus terjadi hingga akhir tahun 2015 ini akibat melambatnya ekonomi dunia saat ini. Supriyanto menyebutkan pihaknya mempersiapkan anggaran pencairan 6 ribu JHT selama dua bulan terakhir di tahun 2015 ini.

Sehubungan pencairan JHT ini, Supriyanto mengaku nasabah BPJS Samarinda menjadi 144 ribu orang peserta tenaga kerja. Jumlahnya menurun disebabkan PHK tenaga kerja sector pertambangan sub kontraktornya.

“Kami akan tetap mencari nasabah baru di sector sector lain seperti perkebunan dan pekerja non formal di Samarinda,”

Asosiasi Pengusaha Indonesia (APINDO) Kaltim memprediksi gelombang PHK akan terus terjadi hingga setidaknya enam bulan kedepan. Mereka menduga akan ada 27 ribu PHK di berbagai sector menyusul krisis global yang berdampak pada ekonomi Indonesia.

“Saat ini sudah ada 12 ribu PHK dan disusul 15 ribu tenaga kerja di seluruh Kaltim,” papar Wakil Ketua APINDO Kaltim, Dody Achdiyat.

Dody mengaku sudah mendengar ada rencana rasionalisasi perusahaan pertambangan sekelas PT Ties hingga PT Indominco di Kaltim. Dua perusahaan ini saja sudah menyumbang ribuan PHK tenaga kerja di Kaltim.

Pelambatan ekonomi lokal ini, Dody khawatir gelombang PHK ini berdampak negative terhadap kelangsungan BPJS Tenaga Kerja. Sebabnya PHK ini menjadikan lonjakan pencairan JHT yang totalnya diprediksi bisa mencapai angka Rp 5 triliun.

“Bisa bangkrut BPJS Naker kalau semua tenaga kerja mencairkan JHT,” tuturnya.