Kilang Pertamina BalikpapanNewsBalikpapan –

Pemerintah Kota Balikpapan Kalimantan Timur membatalkan kerjasama pembelian gas dengan Vico Indonesia (Virginia Indonesia Company). Perusahaan asal Amerika Serikat ini dianggap terlalu mahal menjual gas yang peruntukannya bagi pembangkit listrik Balikpapan.

“Batal kerjasama antara perusahaan daerah Balikpapan dengan Vico Indonesia,” kata Kepala Humas Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu SKK Migas, Elan Biantoro di Balikpapan, Rabu (19/2).

Pemkot Balikpapan dan Vico Indonesia memang sudah bersepakat soal pembelian gas sumur tua Lamaru sebanyak 1,4 MMSCF sejak awal tahun 2013 silam. Namun hingga bertahun tahun belum ada kesepakatan soal harga jual gas ini pada perusda Balikpapan.

Elan mengatakan perusda Balikpapan akhirnya melirik Chevron Indonesia yang juga merupakan perusahaan gas Amerika Serikat. Perusda Balikpapan sedang melobi dalam pemanfaatan sejumlah sumur tua Chevron yang lokasinya berada di sekitar kota ini.

“Masih dalam pembicaraan antara keduanya. Nantinya SKK Migas bisa menjadi penengah dalam pembicaraan ini,” ujarnya.

Elan menilai Vico terlalu tinggi mematok harga gas warga Balikpapan sebesar USD 10 per million metric British thermal unit (MMBTU). Menurutnya harga standar ideal gas untuk kepentingan warga Balikpapan sebesar USD 8 per MMBTU.

“Ini yang paling pas untuk kepentingan warga dan juga keuntungan bagi Vico. Terlalu mahal bila USD 10,” paparnya.

SKK Migas nantinya akan lebih terlibat dalam pembahasan jual beli gas antara perusda Balikpapan dan Chevron. SKK Migas akan menyatukan dua kepentingan antara warga Balikpapan dan Chevron.

“Perusda Balikpapan juga tidak boleh ambil untung terlalu tinggi. Aturannya sebesar USD 5 sen  per MMBTU,” tuturnya.

Sebelumnya, perusda Balikpapan memang hanya menawar harga gas USD 4,6 per MMBTU. Pemkot Balikpapan bahkan sempat melobi Duta Besar Amerika Serikat yang sedang berkunjung di Balikpapan.

Perusda Balikpapan berdalih umur produktif sumur gas diprediksi hanya lima tahun. Hitungannya kalau gas dibeli dengan USD 4,6 per MMBTU, sama dengan sekitar Rp 400 untuk biaya gas per Kilowatt Hour (kWh) listrik.

Diperkirakan pengelolaan gas Lamaru mampu memenuhi kebutuhan listrik sampai 5.000 pelanggan. Pemerintah Kota Balikpapan menginvestasikan dana sekitar Rp 60 milliar untuk membangun jaringan gas hingga ke lokasi Pembangkit Listrik Tenaga Gas milik PLN.

Sesuai data News Balikpapan, pemda sejauh ini sudah mengkaji potensi gas sumur Lamaru yang diperkirakan sebanyak 1,4 MMSCF. Gas Lamaru diharapkan mampu menghasilkan 4 megawatt daya listrik selama 3 hingga 4 tahun.