NewsBalikpapan –

Hotel & Resorts Novotel Balikpapan Kalimantan Timur punya trik tersendiri mengakali rendahnya occupancy rates atau hunian pengunjung saat ini. Kota Balikpapan turut terdampak pelemahan ekonomi global akibat menurunnya harga minyak mentah dunia dan batu bara sejak lima tahun terakhir.

“Balikpapan sebagai kota bisnis ikut mengalami pelemahan ekonominya. Pernah naik pesawat dari Jakarta – Balikpapan dan penumpangnya segelintir orang saja,” kata Komisaris Utama PT Grand Balikpapan, Gafur Chalik di Balikpapan, Sabtu (6/5).

Gafur mengatakan, industri bisnis perhotelan Balikpapan terdampak langsung kesuraman ekonomi yang masih terasa hingga kini. Beberapa perusahaan multinasional di Kaltim membatalkan kerjasama dari kerjasama korporasi dengan Hotel Balikpapan.

“Beberapa perusahaan besar tarik diri seperti Haliburton, Shell, Chevron, Pertamina dan lain lain,” paparnya.

Beberapa hotel di Balikpapan, kata Gafur sudah mulai terkena dampak dimana tingkat hunian tamu beringsut dibawah 40 persen dari total kapasitas kamarnya. Beberapa diantaranya mulai menerapkan strategi perang tarif guna mengakali besarnya biaya operasional pengelolaan jasa hotel.

“Kalau tingkat hunian sudah sekitar 20 – 30 persen artinya masalah besar. Biaya operasional dan pemasukan sudah tidak seimbang lagi alias tekor,” ungkapnya.

Gafur mengaku beberapa kali menerima penawaran untuk membeli hotel bermasalah ada di Balikpapan saat ini. Menurutnya, saat ini tidak memungkinkan pengembangan bisnis perhotelan di Balikpapan.

“Hanya orang gila atau banyak orang saja yang mau buka hotel baru di Balikpapan saat ini. Pasti merugi,” papar purnawirawan Mayor Jenderal (Marinir) TNI AL ini.

Sehubungan itu, Gafur meminta operator hotel, Accor Group terus berinovasi untuk mempertahankan brand Novotel dan Ibis Hotel di Balikpapan. Menurutnya, Novotel dan Ibis tetap memberikan layanan maksimal para tamu agar tetap dipercayai sebagai hotel bintang empat terbaik di Balikpapan.

“Kami mempertahankan kualitas layanan bintang empat kami dibandingkan lainnya yang mulai perang tarif sejak tiga tahun terakhir. Kami bertahan dibandingkan hotel lainnya,” ungkapnya.

Gafur menyebutkan, rata rata tingkat hunian Hotel Novotel dan Ibis Balikpapan mencapai 60 persen dari total kamar yang ada. Dalam momentum tertentu, katanya, hunian keduanya bisa mencapai 100 persen.

“Momentum tahun baru dan beberapa saat ada event. Tentunya kami menerapkan tarif tersendiri,” paparnya.

Perwakilan Accor Group, Endrian Hananto menyatakan, pihaknya mengelola sebanyak 107 hotel berbintang ada di Indonesia. Menurutnya, jaminan kualitas merupakan kunci utama mempertahankan bisnis perhotelan ditengah krisis global dunia.

“Kami tetap mempertahankan brand hotel yang sudah besar, tidak mungkin dikurangi,” paparnya.

Endrian mencontohkan program peremajaan sarana dan infrastruktur hotel tetap dijalankan seperti biasa. Handuk tamu hotel dipergunakan dalam kurun waktu 40 kali cuci saja hingga mempertahankan 100 item menu sarapan tamu setiap harinya.

“Perawatan fisik bangunan hotel seperti biasa. Kami juga bersiap mengganti seluruh sarana dalam kamar seperti kasur dan sebagianya, karena sudah melewati masa batas waktu pakainya,” ungkapnya.

Endrian menilai, Hotel Novotel dan Ibis Balikpapan tetap punya prospek positif memanfaatkan image kota sebagai pusat bisnis dan industri Kalimantan. Tingkat huniannya hanya kalah dari Bali dan Bandung sebagai pusat tujuan pariwisata di Indonesia.

Gafur sendiri kian optimis membaiknya tingkat pertumbuhan ekonomi Balikpapan yang diprediksi dikisaran 5,3 persen per tahun ini. Harga komoditas batu bara dunia juga sudah meningkat 10 persen memasuki awal tahun 2017 ini.

“Kami tetap optimis saja dan berbuat terbaik mempertahankan hotel ini,” ujarnya.

Pemkot Balikpapan menggandeng investor dalam pembangunan Hotel Novotel dan Ibis di area seluas 7 ribu meter persegi di pusat kota. Pembangunannya mempergunakan sistim build operated dan tranferred (BOT) selama 35 tahun.

Hotel Novotel Balikpapan dibangun 10 tahun silam disusul Hotel Ibis Balikpapan 5 tahun sesudahnya. Investor mempercayakan operator pengelolaan kedua hotel pada Accor Group.