NewsBalikpapan –

Warga Kelurahan Senipah Kabupaten Kutai Kartanegara Kalimantan Timur secara mandiri mengupayakan kebutuhan air bersih. Bertahun tahun, pengadaan air bersih menjadi permasalahan yang tidak terselesaikan bagi masyarakat setempat.

“Bertahun tahun, kami meminta bantuan Pemkab Kutai Kartanegara agar mengupayakan air bersih masyarakat. Namun PDAM setempat tidak kunjung masuk disini,” sesal Ketua Yayasan Pembangunan Masyarakat Senipah (Yapenmas), Takdir, Minggu (30/4).

Takdir mengatakan, masyarakat Senipah hanya mengandalkan pasokan air hujan yang terbilang jarang mengguyur di Kalimantan. Kalaupun hujan turun, menurutnya masyarakat juga memiliki keterbatasan menampung air untuk kepentingan rumah tangga.

“Bak penampung habis untuk kebutuhan keluarga selama 3 hari saja, sisanya menunggu hujan turun kembali,” sebutnya.

Sehubungan itu, masyarakat terpaksa mendatangkan mobil tangki air dari Tenggarong Kutai Kartanegara guna memasok kebutuhan sehari hari. Sebelumnya, biaya air bersih masyarakat Senipah menyedot anggaran hingga Rp 300 ribu per bulannya.

“Setiap hari harus beli terus untuk kebutuhan masak dan mencuci pakaian. Sembari menunggu air hujan,” paparnya.

Permasalahan ini melatari pembentukan Yapenmas untuk menjembatani penyaluran corporate social responsibllity  (CSR) Total E&P Indonesie (TEPI). Perusahaan migas asal Perancis ini menjadi operator Blok Mahakam di Kutai Kartanegara sejak tahun 1975.

“Kami akhirnya mengirimkan proposal permintaan bantuan yang kemudian direspon Total,” tuturnya.

Total mengalokasikan anggaran Rp 600 juta untuk membangun instalasi air bersih masyarakat Senipah tahun 2000 silam. Namun proyek pertama air bersih Yapenmas dan Total tidak berjalan  mulus.
“Proyek pertama ini tidak berjalan lancar akibat salah konsep. Kami mempergunakan konsep grafitasi agar air mengalir ke masyarakat. Rencana ini gagal, karena kontur tanah di Senipah terbilang datar sehingga air tidak bisa mengalir jauh,” ujar Takdir.

Takdir kemudian merubah konsepnya dengan mengebor empat lokasi titik sumur serta menampungnya dalam bak air kapasitas 50 kubik.  Total membantu pengadaan material serta peralatan pompa air warga Senipah senilai Rp 300 juta.

“Tahun 2002 usaha air bersih mandiri ini dilanjutkan kembali dengan bantuan Total,” paparnya.

Sejak itu, masyarakat Senipah tidak dipusingkan pengadaan air bersih bagi warganya. Air bersih mandiri memiliki 700 pelanggan rumah tangga tersebar di 16 RT Kelurahan Senipah.

Manager Air Mandiri Senipah, Andi Muzakar menyebutkan, empat sumur air tanahnya mampu menghasilkan 15 liter air per detiknya. Sebelum dipompa ke pelanggan, katanya air bersih ini ditampung terlebih dahulu dalam bak penampungan kapasitas 50 kubik.

“Untuk mengendapkan air tanah ini agar layak diterima masyarakat,” ujarnya.

Masing masing pelanggan dibebani biaya operasional sebesar Rp 30 ribu per kubiknya. Air Mandiri Senipah memasang alat meteran air guna mengukur konsumsi masyarakat per bulannya.

“Sekarang ini beban air masyarakat Senipah cuma Rp 30 ribu per bulannya sehingga meringankan dibandingkan sebelumnya,” paparnya.

Hingga saat ini, Air Mandiri Senipah memperoleh pemasukan sebesar Rp 20 juta untuk operasional bulanannya. Selama 15 tahun pengelolaanya, Air Mandiri Senipah juga memiliki simpanan kas Rp 100 juta untuk perbaikan instalasinya.

“Pemasukan mayoritas untuk biaya operasional pengelolaan per bulannya. Sisanya kami simpan hingga terkumpul Rp 100 juta untuk perbaikan dan penambahan jaringan baru di masyarakat,” ungkapnya seraya menambahkan masih ada 6 RT kelurahan Senipah yang belum memperoleh layanan air bersih.

“Lokasinya terlalu jauh dan berada di dataran tinggi sehingga mesin pompa tidak kuat menjangkaunya,” imbuh Muzakar.

Humas TEPI, Kristanto Hartadi mengatakan, perusahaanya komitmen dalam pengembangan keberdayaan masyarakat di sekitar lokasi wilayah operasi Blok Mahakam. Salah satunya dengan bantuan sarana prasana air bersih bagi masyarakat Senipah.

“Proposal program masyarakat dikaji tim teknis TEPI disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat disini,” paparnya.

Kristanto menyebutkan,TEPI memprioritaskan program program yang mampu memicu keberlanjutan bagi masyarakat. Menurutnya, program air bersih mandiri Senipah menjadi salah satu contoh yang mampu memberdayakan masyarakat.

“Sehingga mereka tetap mampu melanjutkan programnya tanpa adanya bantuan dari pihak luar lagi,” sebutnya.

TEPI memang segera mengakhiri kontrak sebagai operator Blok Mahakam di penghujung akhir tahun 2017 nanti. Pemerintah Indonesia resmi menunjuk PT Pertamina (Persero) sebagai pengelola Blok Mahakam menggantikan TEPI.

Kristanto mengharapkan, program program CSR TEPI nanti dilanjutkan Pertamina sebagai operator baru Blok Mahakam. Selama ini, dia menyebutkan, TEPI berupaya maksimal mendorong pengembangan masyarakat Senipah yang fokus dibidang pendidikan, kesehatan dan lingkungan.

Pencarian Populer:

program air bersih mandiri