NewsBalikpapan –

Perusahaan minyak gas Prancis, Total Exploration & Production mengganti jabatan pimpinan puncak  Total E&P Indonesie (TEPI). Perusahaan migas dunia ini menunjuk Arividya Noviyanto sebagai President & General Manager TEPI menggantikan Hardy Pramono (2014 – 2016) yang segera pensiun.

“Sudah aktif sejak awal bulan Januari ini,” kata Noviyanto, Jumat (6/1).

Noviyanto bukan orang baru di lingkungan TEPI. Dia sebelumnya menjabat Vice President of Finance, Human Resources, General Services, and Communication TEPI.

Sebelumnya, alumni Institut Pertanian Bogor dan Universitas Indonesia masuk di TEPI sejak 1994 sebagai Senior Cost Controller TEPI. Berbagai jabatan penting sudah dijalaninya diantaranya Finance Advisor for Northern Europe Zone TEPI di Prancis dan Belanda. Selanjutnya, Noviyanto  dipromosikan menjadi VP Finance, VP Human Resources & General Services dan VP Communication.

Resmi menjabat bos TEPI, Noviyanto mengaku akan memastikan proses transfer Blok Mahakam pada PT Pertamina (Persero). Blok migas di Kutai Kartanegara akan habis masa kontrak pengelolannya di penghujung 2017 mendatang.

TEPI menjadi operator Blok Mahakam ditunjuk Indonesia selama 50 tahun ini. Pengelolaan Blok Mahakam merupakan kerjasama dua perusahaan dunia yakni Total dan Inpex Ltd.

Pemerintah Indonesia menunjuk PT Pertamina Hulu Mahakam selaku operator Blok Mahakam resmi beroperasi 1 Januari 2018 mendatang. Menurut Noviyanto masa setahun ini menjadi penting dalam proses transisi pengelolaan Blok Mahakam.

“TEPI telah membentuk sebuah unit khusus pada Desember 2015 bernama Transition Mahakam Operatorship (TMO),” paparnya.

Selain itu, Noviyanto mengaku juga berkomitmen menjaga produksi Blok Mahakam sebesar 1,64 BCFD gas dan 64 ribu BOD likuid (minyak dan kondesat). Pencapaian ini menjadi target dibebankan Blok Mahakam oleh pihak SKK Migas.

Selama tahun 2017 ini, Noviyanto memproyeksikan produksi Blok Mahakam di kisaran 1,43 BCFD gas dan 53 ribu BOD likuid. Penurunan produksi terjadi akibat sejumlah lapangan tua Blok Mahakam.

“Kami memproduksi minyak dan gas di blok yang sudah mature, sehingga penurunan produksi secara alamiah adalah tantangan yang harus kami kelola,” paparnya.

TEPI dipastikan juga mengurangi investasinya dalam pengelolaan Blok Mahakam tahun 2017. Hal tersebut disebabkan berakhirnya kontraknya TEPI dan belum stabilnya harga minyak dunia.