Telkomsel Menuju Teknologi 5G
Telkomsel Menuju Teknologi 5G
12 March 2019
Opsi Tingkatkan Kompotensi di Teluk Balikpapan
Opsi Tingkatkan Kompotensi di Teluk Balikpapan
15 March 2019

Energi Terbarukan Indonesia Jalan Ditempat

Energi Terbarukan Indonesia Jalan Ditempat

Energi Terbarukan Indonesia Jalan DitempatNewsBalikpapan –

Eksplorasi sektor energi terbarukan Indonesia masih tertinggal dibandingkan negara negara lain. Porsi pemanfaatan energi terbarukan komulatif seluruh sektor dalam negeri diperkirakan masih berkisar 8 persen.

“Pemanfaatan energi terbarukan di Indonesia cenderung jalan ditempat atau bisa dibilang stagnan. Kita bahkan tertinggal dibandingkan Thailand yang sudah lebih unggul dibandingkan kita,” kata Ketua Masyarakat Energi Terbarukan Indonesia, Surya Darma di Seminar bertema Membangun Kemitraan Untuk Mencapai SDG’S di Balikpapan, Rabu (13/3/2019).

Surya mengatakan, pemerintah terlena rutinas konsumsi energi fosil sehingga melupakan potensi sumber energi terbarukan. Padahal produksi energi fosil dalam negeri terus menurun dibandingkan konsumnya yang meningkat.

“Eksploitasi energi fosil Indonesia terus merosot menjadi 780 ribu barrel dengan konsumsi 1,6 juta barrel. Produksi minyak terus menurun sedangkan konsumsi tetap dan meningkat seiring pertumbuhan penduduk,” ujarnya.

Dalam beberapa kasus, Surya menilai perlakuan pemerintah pun kurang adil dalam mensuport energi fosil dan energi terbarukan. Ia mencontohkan pemberian subsidi konsumsi energi fosil masyarakat dimana hal serupa tidak dinikmati energi terbarukan.

“Kita harus fair dulu, penggunaan BBM memperoleh subsidi triliunan rupiah per tahun sedangkan energi terbarukan dapat apa ? Itu fakta di lapangan,” paparnya.

Fakta ini tentunya sangat berat mendukung pengembangan energi terbarukan. Padahal, pemerintah sudah mematok target muluk pemanfaatan energi terbarukan akan digenjot hingga 23 persen saat 2025 nanti.

“Agar bisa mencapai target 23 persen tentunya butuh terobosan penting. Ada perbedaan jauh antara kondisi sekarang dengan tujuh tahun kedepan. Konsentrasi pemerintah juga masih tertuju pada persoalan lain,” keluh Surya.

Padahal sumber daya alam Indonesia kaya potensi energi terbarukan meliputi panas bumi, air, angin, bio energi, bio fuel, matahari dan laut. Eksploitasi maksimal tentunya mampu menjadi alternatif menggantikan energi fosil.

Surya menyatakan, pemerintah harus menjadi motor dengan menerbitkan regulasi pendukung pertumbuhan energi terbarukan. Setelah itu barulah memungkinan terciptanya iklim positif dimana memungkinkan investasi swasta, transfer teknologi dan ketersediaan sumber daya manusia (SDM) universitas.

“Motor utamanya ada ditangan pemerintah yang selanjutnya disusul sektor sektor lain terkait. Intinya antara kebijakan serta implementasi di lapangan harus berjalan seiring dan tidak terpisah,” tegasnya.

Provinsi Kalimantan Timur menjadi daerah yang mendukung peningkatan pemanfaatan energi terbarukan. Provinsi ini terkenal sumber daya minyak sawit atau crude palm oil yang bisa diberdayakan menjadi bio disel.

“Kami mendukung penuh upaya pengembangan energi terbarukan di Kaltim,” kata Wakil Gubernur Kaltim, Hadi Mulyadi.

Bukan hanya itu, Hadi menyebutkan Kaltim menyimpan sumber daya alam sungai yang mampu diolah menjadi potensi PLTA. Semestinya, potensi listrik terbarukan ini bisa memenuhi kebutuhan daya listrik menjadi permasalahan PLN.

Namun demikian, Hadi mengakui kendala utama adalah minimnya regulasi pemerintah pusat mendorong pemanfaatan energi terbarukan. Pemerintah daerah dalam kasus ini hanya bisa mengekor apa yang sudah menjadi kebijakan soal energi.

“Regulasi dari pemerintah pusat harus mendukung dahulu, kami di daerah tidak bisa berbuat banyak bila di pusat tidak memberikan perhatiannya,” keluhnya.

Seminar energi terbarukan di Balikpapan ini didukung sepenuhnya PTTEP. Perusahaan minyak gas asal Thailand ini memang sedang mencari mitra eksplorasi dan eksploitasi di Kalimantan.

“Kami memang punya kepentingan funding di lokasi menjadi area CSR PTTEP,” kata General Affairs Manager PTTEP, Afiat Djajanegara.

Afiat mengatakan, pengembangan energi terbarukan menjadi kebutuhan di masa mendatang. Pemerintah Thailand dan PTTEP, menurutnya sudah cukup lama memulai pemanfaatannya.

“Perusahaan migas cepat atau lambat nantinya akan bergerak dan berubah dalam pengelolaan energi terbarukan,” paparnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *