Orangutan dan anakNewsBalikpapan –

Yayasan Borneo Orangutan Survival (BOS) menduga ada sindikat perdagangan satwa dalam penyelundupan primata orangutan keluar Pulau Kalimantan. Bukan perkara gampang menyelundupkan primata dilindungi ini dari wilayah hukum Indonesia hingga ke luar negeri.

“Mungkin ada campur tangan sindikat perdagangan satwa Indonesia untuk diperdagangkan ke luar negeri,” kata Humas Yayasan BOS, Nico Hermanu, Rabu (10/2).

Nico mengatakan pihaknya sudah memulangkan tujuh primata orangutan dari Kuwait dan Thailand ke Nyaru Menteng Palangkaraya Kalimantan Tengah. Hasil uji laboratorium memastikan DNA para primata ini berasal dari Kalimantan dan Sumatera.

“Artinya orangutan ini bisa keluar dari Indonesia. Keluarnya lewat jalur apa, itu yang menjadi pertanyaan kami semua,” paparnya.

Perdagangan orangutan disebut sebut menawarkan keuntungan tinggi bagi sindikat satwa liar. Keuntungan perdagangan satwa langka, mampu menandingi keuntungan penjualan narkoba maupun senjata api.

Enam orangutan dari Kuwait dan Thailand terdiri Moza, Junior, Sampit, Sawade, Warna dan Malee ini, kata Nico diterbangkan dari Bandara Soekarno Hatta tujuan Bandara Sepinggan Balikpapan. Selanjutnya, enam orangutan ini menempuh perjalanan darat selama 14 jam tujuan pusat rehabilitasi orangutan Nyaru Menteng Palangkaraya.

Adapun satu orangutan bernama Puspa, lanjut Nico dikirimkan ke pusat rehabilitasi di Sumatera. Menurutnya DNA orangutan satu ini dipastikan asli berasal dari Sumatera.

Humas Pusat Rehabilitasi Nyaru Menteng, Agung Monterado menyebutkan perdagangan primata orangutan marak terjadi pada masa praktek pembalakan liar di Kalimantan 2009 silam. Saat itu ada ratusan kapal yang mengangkut kayu hilir mudik keluar dari Kalimantan.

“Saat itu orangutan bisa dibawa keluar dari Kalimantan dengan mudah,” ungkapnya.

Agung menyebutkan pihak keamanan sempat menggagalkan penyelundupan sebanyak 49 orangutan Kalteng yang rencananya akan dibawa ke Thailand pada 2009 silam. Orangutan ini biasanya disalahgunakan menjadi hewan sirkus yang sering dipertontonkan di Thailand.

“Informasinya terdapat 172 ekor orangutan Kalteng yang saat ini ada di Thailand,” paparnya.

Orangutan yang berhasil dipulangkan, menurut Agung hanya sebagian kecil diantaranya tersebar di seluruh dunia. Sebagian besar orangutan ini tidak mendapatkan perlakuan sebagaimana mestinya.

“Mereka dipelihara manusia, diberi makanan yang bukan peruntukan orangutan. Seperti roti, permen dan lainnya,” ungkapnya.

Agung menilai pemerintah selama ini kurang serius dalam mengantisipasi perdagangan satwa orangutan ini. Undang Undang sudah menyebutkan orangutan termasuk satwa yang dilindungi sehingga ada hukuman penjara bagi mereka yang memperdagangkannya.

Populasi orangutan Nyaru Menteng Palangkaraya saat ini sebanyak 483 ekor orangutan Kalimantan. Sehingga saat ini, populasi orangutan Nyaru Menteng akan menjadi 489 ekor orangutan hasil sitaan dari Kuwait dan Thailand.