Bayi orangutanNewsBalikpapan –

Dosen Universitas Mulawarman Samarinda Yaya Rayadin menyatakan satwa asli Kalimantan ini terancam kelangsungan hidupnya akibat praktek perburuan liar. Setidaknya hampir 90 persen habitat orangutan berada di luar kawasan konservasi sehingga menyulitkan dalam pengawasannya.

“Setidaknya hampir 90 persen populasinya terancam,” kata dosen fakultas kehutanan yang juga merangkap peneliti orangutan di Kaltim, Senin (9/11).

Yaya mengatakan mayoritas habitat alam orangutan Kalimantan berada di area perkebunan sawit, hutan tanaman industry, kebun warga hingga kawasan pertambangan. Sehingga kawanan primata ini hidupnya kerap bersinggungan dengan manusia yang berimbas pada praktek perburuan liar.

Masyarakat, kata Yaya kerap menuding orangutan sebagai hama yang merusak area perkebunan milik warga. Menurutnya hal tersebut terjadi akibat makin sempitnya sumber makanan alami orangutan di alam liar.

“Mereka merusak area perkebunan karena mencari makanan. Ini yang kemudian menjadi penyebab pembantaian orangutan,” paparnya.

Terbatasnya kawasan konservasi di Kalimantan Timur dan Kalimantan Utara menjadi penyebab orangutan banyak hidup diluar. Kawasan konservasi merupakan tempat ideal bagi orangutan karena akan terlindungi.

Yaya menilai konflik antara orangutan dan manusia ini sudah tidak bisa terhindarkan mengingat masifnya industry perkebunan dan pertambangan di Kalimantan. Area populasi alamiah primata orangutan semakin terdesak dengan adanya perizinan industry perkebunan dan pertambangan saat ini.

Sehubungan itu, Yaya menyarankan ada konsentrasi populasi orangutan di satu kawasan konservasi yang wilayahnya benar terjaga. Dia mencontohkan sejumlah kawasan konservasi di Kaltim dan Kaltara seperti Hutan Lindung Sungai Wain (10 ribu H), Hutan Lindung Sungai Lesan (10 ribu H), Hutan Lindung Wehea (20 ribu H)  dan Taman Nasional Kutai (200 ribu H).