Peristiwa sejarah yang semestinya menegangkan mendadak jadi lucu dan menghibur. Sambil bersila dengan menggesek alat music sejenis rebab, Daeng Tutu mengisahkan sejarah terbentuknya AJI yang dideklarasikan di Wisma Tempo Sirnagalih pada 7 Agustus 1994 silam. Celetukan logat Bugisnya yang kental membuat hadirin sedikit terpingkal sambil mengenang peristiwa masa lalu itu.

Dengan jenakanya, Daeng Tutu bertutur bagaimana sejumlah jurnalis muda resah dengan terkoyaknya kebebasan pers oleh kekuatan orde baru. Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) juga dianggap tidak mampu melindungi hak hak jurnalis hingga puncaknya dibredelnya tiga media yaitu Majalah Tempo, tabloid Detik dan Editor.

“Ini zaman dulu ji, kasihan,” kata Daeng Tutu berkelakar yang disambut gelak tawa hadirin.

Tidak berlama lama, Daeng Tutu mengatakan AJI berkembang makin dinamis hingga memasuki usianya yang ke 17 tahun ini. Kematangan AJI terbukti dengan penyelenggaraan kongres ke VII yang sengaja dilaksanakan di luar Jawa atau tepatnya di Makassar Sulawesi Selatan.

“Itu saja ceritanya mi, bisa sampai pagi kalau cerita terus,” candanya.

Acara makan malam ini juga mendapatkan rasa simpati dari Wali Kota Makassar, Ilham Arief Sirajuddin yang menyempatkan menghadiri agendanya. Dia mengucapkan rasa terima kasih karena AJI Indonesia melangsungkan hajatan tiga tahunannya di Makassar.

“Sesuai dengan motto kota Makassar sebagai pusat distribusi wilayah timur Indonesia,” ujarnya.

Ilham hanya berpesan agar penyelenggaraan kongres AJI mampu membawa kesan positif pada masyarakat dunia luar. Kota Makassar tidak hanya terkenal dengan aksi demonstrasi mahasiswa serta kerusuhannya saja.

Kongres AJI Indonesia dilaksanakan di Hotel Aryaduta Makassar Sulawesi Selatan pada 1 hingga 3 Desember 2011. Agenda kongres diikuti sedikitnya 35 AJI Kota seluruh Indonesia yang masing masing minimal mengirimkan 1 orang wakilnya.

Agenda pertama adalah seminar bertajuk integrasi bisnis new media dan peran media dalam menguatkan common identity kawasan Asia Tenggara. Seminar dipandu moderator Pimred Harian Fajar, Sukriansyah. Pembicaranya para professional yaitu Vice Presidend, XL, Berita satu Media Holdings George Riadi, Kemenlu, Sumartono, SEAPA Xaavi Changkittavor dan UGM, Budi Irwanto.

Selanjutnya, kongres AJI nantinya menerima laporan pertanggung jawaban pengurus AJI periode 2008 – 2011 yaitu pasangan Nezar Patria – Jajang Jamaluddin. Agenda kemudian dilanjutkan pemilihan susunan pengurus AJI Indonesia masa periode 2011 – 2014.

Bursa Ketua Umum dan Sekretaris Jenderal AJI Indonesia mulai nampak setelah pasangan Jajang Jamaluddin-Ulin Yusron (Jalin) dan pasangan Eko Maryadi alias Item-Suwarjono alias Jono (IJO) sudah menyatakan kesiapannya untuk maju. Pasangan Jalin kebersamaan untuk penguatan AJI Kota.