Makmur mengatakan empat bandara tersebut yaitu Kalimaru, Kiani, Maratua dan Batu Putih. Khusus Bandara Maratua, katanya merupakan proyek pengembangan baru di Pulau Maratua yang memasuki tahap pengupasan lahan.

“Sedangkan yang lain sudah bisa dilandasi pesawat dan membutuhkan perbaikan saja,” paparnya.

Pembangunan Bandara Maratua, kata Makmur diperkirakan membutuhkan anggaran yang totalnya bisa mencapai Rp 120 miliar. Bandara akan dibangun sepanjang 1.500 meter di kawasan Payung Payung Pulau Maratua.

“Kami harapkan ada kucuran dana dari Provinsi Kalimantan Timur dan pusat,” ujarnya.

Makmur menambahkan Bandara Maratua, Kiani dan Batu Putih merupakan bandara perintih yang menghubungkan daerah daerah terosilir di Berau. Bandara tersebut melayani pendaratan pesawat pesawat perintih berkapasitas 60 penumpang.

“Sekelas pesawat ATR berbaling baling saja,” ungkapnya.

Adapun Bandara Kalimaru di Tanjung Redeb, kata Makmur akan ditingkatkan statusnya menjadi bandara internasional sepanjang 2.230 meter. Pembangunan Bandara Kalimaru membutuhkan anggaran sebesar Rp 600 miliar.

“Kami sudah mengalokasikan dana sebesar Rp 200 miliar sehingga masih butuh bantuan dari provinsi dan pusat,” tuturnya.

Alokasi dana sebesar itu, kata Makmur dipergunakan untuk pembiayaan pembangunan fisik terminal keberangkatan – kedatangan penumpang. Bandara ini juga mendapatkakan fasilitas perpanpanjangan landasan pacu pesawat sepanjang 600 meter lagi.

“Sehingga pesawat pesawat kapasitas besar bisa langsung mendarat di Bandara Kalimaru dan tidak perlu transit dahulu di Bandara Sepinggan Balikpapan,” ujarnya.

Kabupaten Berau menyimpan potensi wisata laut dengan keberadaan kepulauan Derawan terdiri Pulau Derawan, Maratua, Kakaban, Sangalaki dan pulau pulau kecil lainnya. Jumlah wisatawan di Berau mencapai seribu orang per tahun yang mayoritas merupakan pencinta wisatawan maritime serta peneliti satwa laut penyu hijau terancam punah.