Senpi RevolverBalikpapan –

Kolonel TNI, Donald Sitorus menyebutkan Kepolisian Resor Bandung Jawa Barat lambat dalam penanganan kasus perampokan sudah menimpa istrinya, Rasmita Sriana Purba. Sudah setahun berselang, polisi tidak kunjung mampu membekuk pelakunya yang saat itu berbekal senjata api dalam menjalan aksinya.

“Polisi lambat menangani kasus ini, sudah lebih setahun belum mampu menangkap pelakunya,” sesal perwira Komando Daerah VI Mulawarman ini di Balikpapan, Minggu (5/5).

Sitorus menilai semestinya polisi mampu dengan cepat mengungkap kasus ini berdasarkan berbagai alat bukti yang ada. Polisi sudah mengantongi video CCTV, sidik jari hingga proyektil peluru senjata api milik pelaku.

“Alat buktinya sudah lengkap, bahkan saksi yang melihat langsung penembakan ini juga ada,” paparnya.

Padahal dalam kasus yang lain, Sitorus mengatakan polisi mampu dengan cepat mengungkap kasus perampokan mempergunakan senjata api. Dalam pekan tersebut, katanya ada tiga kasus perampokan mempergunakan senjata api yang salah satunya menimpa istri perwira TNI.

“Ada tiga kasus, tapi kenapa hanya kasus istri saya yang belum terungkap hingga sekarang,” ungkapnya.

Sehubungan itu, Sitorus mengaku menyimpan persepsi negative terhadap kinerja polisi dalam pengungkapan kasus ini. Ada berbagai tuduhan miring mengingat keganjilan dalam proses penyidikan polisi.

“Jangan salahkan saya bila menilai polisi lambat. Bahwa mungkin ada jaringan perampok yang dipelihara polisi. Perampokan itu juga memakai pistol revolver yang biasa dipakai polisi, meskipun mereka menyebutkan hanya senpi rakitan saja,” ujarnya.

Sitorus mengatakan terus memantau perkembangan kasusnya dengan menghubungi penyidik di lapangan. Namun perkembangan penanganan kasusnya tidak pernah memuaskan.

“Polisi bilang pelaku ada kelompok Palembang, sedangkan pengakuan saksi mereka ini berlogat sunda. Terus siapa yang benar ?” ungkapnya.

Sebagai korban perampokan, Sitorus merasa berkewajiban untuk menyelesaikan kasus ini dengan membekuk seluruh pelaku. Para pelaku perampokan sangat brutal serta tidak segan mencederai korbannya.

“Agar mereka tidak mengulangi perbuatannya lagi. Saya sudah tidak berharap uang sebesar Rp 170 juta akan kembali, karena itu sudah tidak mungkin. Istri saya juga sudah pulih dari cedera penembakan itu,” paparnya.

Peristiwa perampokan istri perwira terjadi pertengahan April 2012 silam di komplek perumahan perwira TNI di Bandung. Dua orang pelaku membuntuti korban sejak pencairan uang sebesar Rp 200 juta dari cabang BCA Bandung.

Pelaku langsung merampas bungkusan uang korban yang tersimpan di tas plastic. Akibat melakukan perlawanan, pelaku langsung memuntahkan timas panas yang menembus kaki korban.

“Mereka langsung kabur sehingga uangnya tercecer sebesar Rp 30 juta,” tutur Sitorus.