SuwandiNewsBalikpapan –

Seorang pria lanjut ini terlihat gagah berbalut jaket loreng darah Koppasus. Nangkring diatas motor gede (moge) tua AJS 500 cc buatan Inggris 1956 membuat banyak tercengang usianya sudah menginjak angka 70 an.

Pria itu, Suwandi seorang warga Balikpapan yang doyan mengulik tunggangan besi tuanya yang sudah jadi andalan tentara sekutu dalam perang dunia II. Segala cara dilakukan agar motor tuanya bisa tetap ngebul meskipun onderdil pabrik aslinya sudah sulit lagi ditemui.

“Saya mengakali onderil dengan menggunakan onderdil motor lain yang mirip. Bahkan terkadang juga membuat sendiri onderdil sesuai kebutuhan di PT PAL Surabaya,” kata Suwandi yang seorang pensiunan Sersan Mayor (Marinir) TNI AL Lantamal Surabaya Jawa Timur.

Pria sepuh ini mencontohkan kala moge tua AJS 500 cc nya mengganti onderil dalam mesin. Alih alih membeli onderdil ke negeri Three Lions – Suwandi  mencari besi motor motor tua yang sudah tidak terpakai. Besi motor motor tua ini yang dilebur ulang pada titik didih tertentu yang nantinya dicetak menjadi onderdil motor diinginkannya.

“Tentunya besi yang dicari adalah bekas mesin moge yang sudah tidak bisa dipakai lagi. Karena kualitas besinya beda dengan mesin mesin motor buatan Jepang,” paparnya.

Tidak sia sia Suwandi merogok koceknya hingga Rp 5 juta dalam pembuatan onderdil ini.  Mogenya AJS 500 cc kini sudah mampu berlari kencang hingga kecepatan 150 kilometer per jam saat di coba di jalan Balikpapan.

“Motor tua seperti ini enaknya untuk jalan jalan saja. Hanya sekali kali tour ke luar kota,” ungkap pengoleksi moge Ariel 350 cc, AJS 350 cc dan Bismark 150 cc ini.

Suwandi rajin berkendara bersama perkumpulan Motor Antique Club Indonesia (MACI) Balikpapan yang memiliki 30 anggota. Perkumpulan moge tua IMJI bisa dibilang kontradiksi dengan Ikatan Motor Besar Indonesia (IMBI) yang sarat dengan kemewahan dan ekslusifitas dunia otomotif.

“Kami kalau tour biasa tidur di lapangan rumput berbekal tenda yang bisa dibawa kemana mana,” ujar Suwandi yang juga Ketua MACI Balikpapan.

MACI Balikpapan menjadi salah satu klub motor yang mengkritisi insiden pelanggaran lalu lintas pengendara moge di Yogyakarta pertengahan Agustus lalu. Saat itu, pengendara sepeda menstop rombongan pengendara moge yang melanggar rambu rambu lalu lintas di Yogjakarta.

“Semestinya tidak boleh seperti itu, semuanya harus patuh mematuhi ketentuan rambu lalu lintas. Termasuk pula Moge,” tuturnya.

Opek Isdarmono menambahkan pecinta moge antik semakin meningkat di Balikpapan. Pria asli Yogjakarta mengaku bengkel mogenya tiap hari makin ramai oleh pengunjung yang memperbaiki tunggangannya atau sekedar kongkow mendiskusikan program MACI.

“Bengkel saya juga sebagai tempat kongkow ataupun memperbaiki mogenya,” papar Opek yang menunggangi Matcless 350 cc.

MACI hanya memiliki delapan anggota, tapi sekarang sudah berkembang hingga 32 anggota. Menambah jumlah anggota MACI tidak bisa sangat cepat, apalagi dengan kenyataan bahwa bengkel di luar Jawa lebih sedikit. Onderdil pun lebih susah didapat. Memiliki moge bisa jadi merepotkan, berbeda dengan motor baru. Di luar Jawa, seperti Kalimantan, pemilik moge antik rata-rata cukup paham dalam hal mengutak-atik mesin.

Peminat moge antik di Balikpapan tak perlu cemas jika ingin memiliki moge. MACI bisa dikontak. Syarat menjadi anggota MACI pun gampang, yakni memiliki moge antik buatan tahun 1960 ke bawah.

Harga moge antik bervariasi karena tergantung banyak faktor seperti merek, jumlah yang dibuat pabrikan, orisinalitas, kondisi fisik, hingga performa. Sebagai gambaran kalau kapasitas dapur pacu di bawah 350 cc, harganya Rp 15 juta-Rp 20 juta. Sedangkan di atas 350 cc harganya di atas Rp 25 juta.