
NewsSamarinda – Sejumlah wilayah di Kota Samarinda kembali terendam banjir usai hujan deras mengguyur sejak Selasa pagi. Genangan air dengan kedalaman antara 50 hingga 100 sentimeter dilaporkan terjadi di berbagai titik, terutama di kawasan dataran rendah dengan sistem drainase yang terbatas.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Samarinda menyebut dua faktor utama penyebab banjir, yakni tingginya curah hujan dan fenomena pasang besar Sungai Mahakam. Kepala BPBD Suwarso mengatakan, berdasarkan data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), curah hujan di beberapa kecamatan tergolong ekstrem.
“Samarinda Ulu dan Samarinda Utara mencatat curah hujan tertinggi, masing-masing mencapai 85 mm dan 81,5 mm per jam,” ujar Suwarso dalam keterangan pers.
Ia menjelaskan, kondisi tersebut menyebabkan permukaan tanah dan saluran air tidak mampu menampung volume air yang masuk. Situasi diperparah oleh aliran balik (backwater) dari Sungai Mahakam menuju anak-anak sungainya, seperti Sungai Karang Mumus, Karang Asam Kecil, dan Karang Asam Besar.
“Kami menghadapi kondisi full bank, di mana sungai tidak sanggup lagi menerima tambahan air, baik dari curah hujan maupun dari arus balik,” imbuhnya.
Banjir terpantau merendam sejumlah kawasan, antara lain Kecamatan Samarinda Utara, Palaran, Sambutan, dan Samarinda Ilir. Titik genangan mencakup Jalan Dr. Soetomo (Panjaitan), Kebon Agung, Simpang Empat Lembuswana, hingga Sempaja. Di Palaran, longsor kecil juga dilaporkan terjadi akibat tanah yang labil karena hujan berkepanjangan. BPBD memperkirakan genangan air mulai surut dalam dua jam ke depan jika hujan di daerah hulu, terutama di Sungai Siring dan Badak Mekar, terus mereda.
Kendati demikian, seluruh armada tanggap darurat telah disiagakan, termasuk mobil penyelamat, perahu karet, dan kendaraan dalmas untuk evakuasi jika diperlukan.
“Semua personel kami siagakan selama 24 jam penuh. Fokus utama kami adalah keselamatan warga dan kelancaran aktivitas pasca-banjir,” tegas Suwarso.
Selain evakuasi dan pemantauan lapangan, BPBD juga memantau kondisi muka air secara berkala melalui alat pemantau otomatis (AWLR) di berbagai titik. Meski Bendungan Benanga masih dalam kondisi normal, beberapa wilayah seperti Pondok Surya Indah, Sungai Piring, Muang Dalam, Bengkuring, dan Talang Sari berstatus siaga hingga awas.
BPBD mengimbau masyarakat, khususnya yang tinggal di bantaran sungai dan dataran rendah, agar tetap waspada terhadap potensi banjir susulan. Warga diminta segera melapor ke posko terdekat jika membutuhkan bantuan.
“Kami tak bisa mengendalikan cuaca, tapi kesiapsiagaan bisa kita kendalikan bersama. Kerja sama semua pihak sangat dibutuhkan agar kita bisa melalui situasi ini dengan aman,” pungkas Suwarso.
