Pandemik Meningkat, Hotel Isolasi di Balikpapan Penuh
27 June 2021
Bahaya COVID-19, Pemprov Kaltim Minta Warga Jaga Kesehatan
8 July 2021

Tips Berhati-hati Memilih Asuransi di Masa Pandemi

NewsBalikpapan – Pola hidup masyarakat Indonesia terus berubah di mana asuransi sudah menjadi sebuah kebutuhan di antara primer, sekunder, dan tersier. Baik untuk kebutuhan Kesehatan, pendidikan, harta benda, pensiun, hingga jiwa.

Apalagi di masa susah pandemi COVID-19 seperti sekarang ini.

“Masyarakat sudah mulai berpikir tentang pentingnya asuransi,” kata Kepala Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Kalimantan Timur (Kaltim) Made Yuda.

Made mencontohkan dirinya sendiri yang tetap mempergunakan jasa asuransi mandiri di samping fasilitas sudah disediakan OJK. Ia berpendapat, masyarakat mulai timbul kesadaran untuk memproteksi diri maupun keluarganya atas kondisi diluar control mereka.

“Bila terjadi sesuai atas diri kita, kelangsungan keluarga kita juga bisa terjamin,” ungkapnya.

Menurut Made, asuransi berfungsi mengantisipasi atas berbagai masalah yang mungkin bisa terjadi. Sehingga keberlangsungan kehidupan suatu keluarga tidak terganggu saat suatu masalah sudah terjadi.

“Semua orang berharap sehat, tetapi paling tidak kita bisa menghindari adanya risiko kematian atau sakit. Jika ada asuransi, maka beban ekonomi akan pindah ke pihak lain,” ungkapnya.

Itu pula yang membuat bisnis asuransi menjanjikan di masa pandemi COVID-19 ini. Triwulan pertama 2021, bisnis asuransi jiwa bisa menunjukkan peningkatan perkembangan.

“Industri ini menunjukkan peningkatan. Kenaikan premi asuransi di Indonesia sekitar 24 persen atau sekitar Rp 58 triliun dibanding periode yang sama di tahun 2020 sekitar Rp 40,7 triliun,” sebut Made.

Meskipun begitu, Made meminta masyarakat untuk berhati-hati dalam memilih layanan asuransi yang akan mereka pakai. Jangan sampai, yang tadinya membutuhkan proteksi malah tidak bisa menikmati manfaatnya karena salah pemahaman di awal.

“Ini menjadi pekerjaan rumah di dua sisi. Selain pentingnya pemahaman di sisi pengguna jasa asuransi, juga si penyedia jasa keuangan. Marketing agar lebih bertanggung jawab. Bagaimana menyampaikan pada nasabah tanpa menyebabkan  salah pemahaman terhadap produk,” ujar Made.

Dosen Universitas Ekonomi Universitas Mulawarman Samarinda Purwadi menambahkan, bisnis asuransi pada prinsipnya harus bisa memberikan manfaat bagi masyarakat.

Dalam hal ini, Purwadi mengimbau masyarakat untuk memahami sepenuhnya asuranasi yang hendak dipergunakan. Soal pembayaran premi, aturan, maupun hak dan kewajiban di antara nasabah dengan pihak asuransi.

Di sisi ini, Purwadi meminta pihak marketing asuransi agar mampu sebenar-benarnya memberikan pemahaman aturan main asuransi pada nasabah.

“Makanya asuransi harus memberikan kepada publik penjelasan sejak awal dengan jelas. Jangan sampai klir saat masuk tapi klaimnya sulit,” katanya.

Sedangkan OJK sendiri, lanjut Purwadi, harus mampu menjadi regulator yang antisipasi atas masalah timbul di bisnis asuransi. Tak hanya datang saat sudah kejadian. Apalagi ada saja kasus yang merusak image asuransi.

Lebih lanjut, Purwadi menyakini bisnis asuransi ke depannya mampu menjadi sebuah model gaya hidup masyarakat Indonesia. Dengan melihat ini, bisa jadi peluang dan melihat potensi ekonominya.

Sementara itu, Chief Communication Officer AXA Mandiri Atria Rai mengatakan, pandemi COVID-19 mengubah pola pikir banyak orang dalam melihat prioritas kehidupan. Dahulu banyak yang melihat asuransi bukan kebutuhan primer, bahkan bukan sekunder dan tersier.

“Namun dengan adanya COVID-19 pemahaman itu berubah. Bagaimana memindahkan risiko kehidupan ke pihak lain, dalam hal ini adalah produk asuransi,” ujarnya.

Pada masa pandemik ini, keamanan finansial menjadi lebih penting. Kesehatan juga menjadi prioritas. Bagaimana caranya memproteksi diri sendiri, tapi juga memproteksi keluarga dan masa depan.

“Karena dengan adanya asuransi, ada pihak yang menanggung. Terlebih di masa pandemi kekhawatiran memuncak. Apalagi saat kasus melonjak dan angka meninggal dunia naik,” jelas Atria.

Tak hanya itu, Atria mengatakan, pandemik COVID-19 merubah banyak sendi kehidupan dalam masyarakat. Dalam hal digitalisasi, menurutnya sekarang lebih banyak yang mengakses m-banking.

Bahkan transaksi digital menggunakan m-banking naik hingga 90 persen.

“Makanya kami pun dari asuransi juga merangkul transformasi digital. Ini cara kami untuk memberikan kemudahan bagi nasabah. Yaitu melalui layanan digital. Sekarang kami memiliki aplikasi digital untuk membeli asuransi,” katanya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *