Kuasai Pasar, XL Kalimantan Gandeng Retail
9 October 2012
Motivasi : Kenali Bakat Anda Sejak Dini
11 October 2012

Kisah Sopir Angkot Sekaligus Motivator

Dua tahun silam, Abdul Rahman Patiwi masih mengenakan kaos kutang lusuh plus celana jean belel yang sudah tidak karuan modelnya. Handuk mungilnya sesekali dipergunakan untuk menyeka keringatnya yang deras mengalir. Maklum saja, hawa panas Makassar Sulawesi Selatan tidak pernah kenal ampun menyengat warga kota kawasan timur yang berjuluk angin mammiri ini. Perantau asal Luwuk Banggai – salah satu kota kecil Sulawesi Tenggah ini sudah tiga tahun mengadu nasib di kota kelahiran bekas Wakil Presiden Jusuf Kalla. Cita cita tidak juga muluk, untuk meraih gelar sarjana di Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar. Berasal dari keluarga yang taraf perekonominya terbilang pas pasan, Rahman jauh jauh hari sudah menyadari tidak bisa banyak berharap bantuan dari kedua orang tuanya.

“Waktu itu pada orang tua, saya hanya minta bantuan uang transportasi ke Makassar saja. Sisanya nanti saya pikirkan sendiri,” ungkapnya seraya menyeka air matanya yang deras mengalir.

Setibanya di Makassar, Rahman musti banting tulang membiayai kuliah sekaligus kehidupannya selama berada di ibu kota Provinsi Sulawesi Selatan. Akhirnya, profesi mahasiswa sekaligus sopir angkot menjadi pilihan saat melawan kerasnya kehidupan Makassar. Cita citanya saat itu hanya satu, meraih gelar sarjana jurusan komunikasi penerangan UIN Alauddin Makassar.

Penghujung jenjang perkuliahannya, permasalahan menghampiri Rahman yang sudah memasuki tahap penyusunan tugas akhir skripsi mata kuliahnya. Seluruh hard copy termasuk file dokumen tugas akhir skripsinya tercecer saat membenahi ruangan kos nya. Apesnya lagi, lokasi rental computer jadi langganannya secara kebetulan juga tidak menyimpan file dokumen skripsinya yang tinggal menunggu sidang pengujian dosen pembimbing. Praktis, pria pemalu ini terancam gagal meraih gelar sarjana yang sudah menjadi impiannya sejak dulu.

Sempat patah arang dan putus harapan, Rahman akhirnya terpaksa memilih untuk menekuni profesinya sebagai sopir angkot rute Minasaupa – Sentral pulang pergi. Mobil angkot nomor polisi DD 1523 C yang selalu setia menemani hari harinya.

Semangatnya kembali tergugah saat di suatu siang secara kebetulan mendengarkan motivasi, Bambang Sumanjaya disiarkan radio swasta Smart FM. Kala itu, praktisi anak ini berujar bahwa setiap orang punya titik unggul tersimpan dalam dirinya dan siapapun yang bisa menemukannya akan menjadi loncatan luar biasa dalam hidupnya.

Pencerahan Bambang Sumanjaya mampu memompa motivasi Rahman yang sempat kempis pasca kegagalan di bangku kuliah. Jadilah Rahman yang dalam kesehariannya melahap setiap motivasi dijabarkan para orang hebat ini seperti Andre Wongso, Tung Desem Waringin hingga James Gwee. Laci mobil angkotnya selalu siap dengan berbagai alat tulis seperti polpen serta block note untuk mencatat setiap kata kata bijak dan motivasi sudah disampaikan. Mobil angkotnya ini yang kemudian menjadi saksi bisu proses berlatih Rahman agar lebih lancar dalam berbicara serta membakar semangat laksana seorang motivator ulung.

“Saya putar music keras keras untuk para penumpang sedangkan saya berbicara sendiri untuk melatih kemampuan berbicara dihadapan audien. Ini berlangsung berbulan bulan,” ujarnya.

Rahman yang dulunya akrab dengan debu dan asap knalpot sekarang ini juga mulai gemar mengunjungi perpustakan serta berbagai toko buku di Makassar. Dia gemar mengoleksi buku buku motivasi, inspirasi dan pelatihan dalam menunjang obsesinya menjadi motivator ulung. Satu buku karangan Jamil Azzaini berjudul ‘Bagaimana Pengembangan Diri’ yang pada akhirnya bisa disebut menjadi titik balik kebangkitannya dalam menyongsong hidup.

“Harga bukunya relative mahal untuk ukuran kantong saya. Tapi saya sadar bahwa kesuksesan butuh pengorbanan dan investasi pendidikan adalah sesuatu yang tidak ada habisnya,” paparnya.

Berawal dari buku motivasi ini, Rahman memberanikan diri untuk ikut dalam pelatihan motivator diadakan Kubik Leadership di kawasan Puncak Jawa Barat. Meskipun harus melawan berbagai cemooh rekannya sesama sopir angkot yang menyebutnya gila, Rahman maju terus pantang mundur. Dia tidak perduli meskipun banyak yang memperoloknya karena musti membayar uang sebesar Rp 2,5 juta hanya untuk ikut suatu pelatihan berbicara yang tidak jelas.

“Mereka bilang uang itu untuk karaoke atau minum minum saja. Tapi saya tidak terpengaruh serta berjuang setiap rupiahnya mengumpulkan uang sebanyak itu. Itupun uangnya masih kurang dan saya mendapatkan dispensasi sehingga hanya membayar Rp 1,5 juta saja,” tuturya seraya mengelap linangan air matanya.

“Saya memang selalu emosional setiap kali mengenang masa lalu itu,” imbuhnya.

Singkat kata dengan uang saku seadanya, Rahman bisa ikut dalam pelatihan motivator yang diikuti sedikitnya 50 peserta dari berbagai kota di Indonesia. Para saingannya datang ditunjang dengan penampilan perlente serta tunggangan mobil mulus yang hargnya sudah pasti mahal.

“Sempat minder juga karena saya datang bermodal cekak serta baju jas yang kerahnya sobek dimakan tikus,” katanya.

Namun dalam sesi kontes motivasi, Rahman ternyata mampu mempesona para juri termasuk diantaranya motivator idolanya, Jamil Azzaini yang sejak awal memantau keberadaannya ini. Total keseluruhan peserta sebanyak 50 orang, dia mampu meraih poin terbesar sehingga berhak selama sebulan ikut pelatihan motivasi diselenggarakan Kubik Leadership. Suatu pelatihan motivasi yang untuk komersilnya dihargai Rp 80 juta per bulannya.

“Senin hingga Jumat merupakan waktu pelatihan motivasi. Setiap akhir pekan selama sebulan itu, Jamil Azzaini bersama istrinya menjadi auden pertama saya sebagai pembicara motivasi,” ungkapnya.

Sekembalinya dari Jakarta, Rahman secara perlahan meniti karir barunya sebagai trainer motivasi di Makassar. Berbagai tawaran dari yang bersifat social serta komersil dijalaninya secara sukarela, hanya demi mencapai kepuasan diri sebagai motivator. Dalam suatu acara, Rahman sempat pula disandingkan dengan para pembicara lainnya sekelas guru besar Universitas Hasanuddin, Halide, Ketua Himpunan Pengusaha Muda Indonesia Sulsel, Yudi Ondong hingga Menteri BUMN Dahlan Iskan.

Kini, Rahman sudah mampu ber metamorfosis dengan mengenakan stelan kemeja lengan panjang putih bersih dipadukan celana panjang warna gelap. Sepatu kulit warna hitamnya terlihat serasi membungkus penampilan trendynya laksana executive muda lainnya. KDS Consultans, Lembaga Pengembangan SDM, Training, Coaching & Consulting Balikpapan Kaltim sudah tertarik mengkontrak jasanya sebagai trainer motivasi selama setengah tahun ini.

“Penampilan adalah suatu hal yang utama dalam menyakinkan orang lain,” kata pria yang kini tidak canggung lagi mengenakan dasi.

Namun, semua kesuksesan ini belum membuat Rahman berpuas diri. Penulis buku ‘The Power of The Dream’ ini masih menyimpan satu obsesi tersendiri yakni menjadi pembicara motivator nasional sekelas Andre Wongso, Tung Desem Waringin bahkan mungkin idolanya sendiri Jamil Azzaini. Suatu hari, bukan sesuatu mustahil saat dirinya berdiri sejajar dengan para tokoh yang kerap wira wiri di layar kaca televisi ini.

“Namun jangan paksa untuk tinggal di Jakarta, macetnya ampun ampunan,” ujar pria yang sedang menunggu penerbitan buku keduanya berjudul ‘Menggapai Asa’.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *