Kisah Anak Eks Tapol PKI Argosari
21 August 2020
Pertamina Antisipasi Covid di Sekolah Balikpapan
17 October 2020

Badak Pari Menuju Relokasi

NewsBalikpapan –

Jejak tapak kaki sepanjang  20 centimeter itu masih segar. Kedalamannya mengisyaratkan pemilik jejak merupakan satwa berukuran besar.

Sisa hujan semalam gagal mengaburkan keberadaan satwa yang diduga kuat adalah badak Kalimantan.

“Tim survey kami memantau keberadaan badak selama 24 jam secara terus menerus,” kata kata Direktur Aliansi Lestari Rimba Terpadu (Alert) Arif Rubianto, Kamis (17/9/2020).

Alert memang memantau pergerakan jelajah badak di kawasan Hutan Nyaribungan Mahakam Ulu Kalimantan Timur (Kaltim). Badak betina dinamai Pari ini teridentifikasi kerap keluar masuk area perbatasan diantara Provinsi Kaltim dan Provinsi Kalimantan Tengah (Kalteng).

Personil tim memantau langsung seluruh aktifitasnya sekaligus melindungi dari perburuan liar.

“Kami menugaskan 12 personil untuk bergantian mengikuti keberadaan badak,” papar Arif.

Alert merupakan operator lapangan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kaltim dalam penyelamatan badak Kalimantan. Alert pula yang mengevakuasi temuan badak Kalimantan pertama bernama Pahu di tahun 2018.

Pahu ditempatkan di kawasan Hutan Kelian Kutai Barat (Kubar) seluas 6.700 hektare.

Sesuai rencananya, badak pun nantinya akan direlokasi menemani Pahu di Hutan Kelian.

“Hutan Kelian relative aman untuk perkembangbiakan badak,” paparnya.

Kalimantan berkerabat dengan badak Sumatra atau decerorhinus sumatrenis. Hanya saja fisiknya berbeda akibat evolusi ratusan tahun menyesuaikan kontur topografi perbukitan hutan Kalimantan.

Tubuhnya mengecil sehingga memudahkan mendaki area perbukitan. Badak Kalimantan hanya seberat 450 kilogram dan jauh lebih ringan dibanding badak Sumatra mencapai 800 kilogram.

“Sifanya pemalu serta cenderung menghindari manusia.Sulit dijumpai dengan berlindung kerimbunan hutan,” ungkap Arif.

Apalagi area jelajahnya terbentang luas meliputi area hutan Kaltim, Kalteng, dan Kalimantan Utara (Kaltara).

Proses identifikasi menunjukan kedua badak berjenis kelamin betina. Satwa langka ini termasuk katagori satwa critically endangered menurut organisasi IUCN dimana jumlahnya kurang 100 individu.

“Belum ada kesimpulan pasti jumlahnya, namun saya pribadi memperkirakan dibawah 5 individu di Kalimantan,” ungkap Arif.

Sehubungan itu, Arif memandang perlu secepatnya dilakukan relokasi keberadaan Pari dari lokasi temuan ke Hutan Kelian. Menurutnya, pemindahan harus dilakukan guna melindungi satwa badak ini dari ancaman kepunahan.

“Kawasan hutan di Mahakam Ulu saat ini rawan akfitas perburuan liar,” keluhnya.

Disisi lain, tim survey pun terus berupaya masih mencari keberadaan badak jantan yang diduga berada kawasan hutan Kalteng. Pejantan ini rencananya akan dikawinkan dengan Pahu dan Pari guna memperoleh keturunan.

“Kami sedang terburu dengan waktu juga. Apalagi badak – badak ini sepertinya sudah berumur tua sehingga berdampak negatif terhadap siklus perkawinannya,” keluhnya.

Sementara itu, penyelamatan badak Kalimantan menjadi salah program andalan Tropical Forest Conservation Act (TFCA) Kalimantan. TFCA merupakan kerjasama pengalihan hutang Indonesia terhadap Amerika Serikat sebesar 28,5 juta US dolar untuk membiayai program karbon hutan Berau dan insiatif heart of Borneo.

“Kami sangat perduli terhadap isu badak Kalimantan,” kata Direktur Program TFCA Kalimantan Puspa Dewi Liman.

Puspa menyatakan, penyelamatan badak membutuhkan dukungan seluruh stage holder. Dalam hal ini, TFCA berkomitmen pelestarian lingkungan termasuk menjaga keberlangsungan badak Kalimantan.

 “Relokasi badak Pari dipastikan butuh biaya sangat besar,” tuturnya.

Badak Pari berada di Hutan Nyaribungan berjarak 100 kilometer dari Hutan Kelian. Lokasi hutan tidak memiliki akses transportasi darat dari kota terdekat.

“Lokasinya hanya bisa ditempuh mempergunakan jalur udara, sungai dan selanjutnya trek darat yang berat,” papar Puspa.

Bahkan, fasilitator TFCA di Kubar memperkirakan relokasi Pari setidaknya butuh total biaya mencapai Rp 12 miliar. Sebagai perbandingan, evakuasi Pahu hanya menelan biaya sebesar Rp 3 miliar di tahun 2018.

Dalam berbagai kesempatan, Kepala BKSDA Kaltim, Sunandar mengamini terancamnya populasi badak Kalimantan. Ia memperkirakan jumlah maksimalnya tidak mencapai 12 individu seluruh Kalimantan.

Seluruh instansi berkolaborasi dalam upaya penyelamatan badak. Badak rencananya akan direlokasi ke Hutan Kelian sekaligus pusat perkembangbiakan badak di Kalimantan.

“Kalau terlambat dilakukan intervensi dikhawatirkan populasi badak akan punah, disebabkan tua atau pun faktor lainnya,” kata Sunandar.

Campur tangan manusia diharapkan mendorong populasinya menjadi 20 ekor. Langkah terakhir adalah menetapkan Hutan Kelian sebagai tempat pelepasliaran kawanan badak.

Kemunculan Pahu dan Pari menjawab misteri satwa badak Kalimantan. Selama bertahun-tahun, masyarakat sudah mendengar rumor tentang kawanan badak.

Testimoni tentang badak kerap disampaikan warga adat dan pegawai perkebunan. Tetapi belum ada bukti otentik keberadaannya hingga kini sudah terpecahkan.

Penemuan badak pertama terjadi bulan Maret 2016 silam. BKSDA Kaltim menemukan badak dinamai Najag terjerat jebakan tali pemburu di kantong populasi I Kubar.

Najag akhirnya mati akibat menderita infeksi akibat luka jeratan ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *