
NewsSamarinda – Pemerintah Kota Samarinda melalui Dinas Perhubungan (Dishub) terus mematangkan rencana pengembangan transportasi massal yang nyaman dan terjangkau bagi masyarakat.
Kepala Dishub Samarinda, Hotmaruli Tua Manalu, mengatakan pihaknya tengah menyusun skema operasional angkutan umum berbasis massal. Perencanaan tersebut mencakup penentuan trayek, jumlah armada, sistem layanan, hingga skema tarif yang terintegrasi.
“Konsep ini kami rancang agar masyarakat memiliki pilihan transportasi publik yang efisien dan ekonomis,” ujar Manalu kepada awak media, Senin (6/4/2026).
Ia menjelaskan, setiap trayek nantinya akan dilayani tujuh armada dengan tambahan satu armada cadangan. Dengan dua trayek utama, total armada yang disiapkan mencapai 16 unit, menggunakan jenis minibus seperti yang pernah diperkenalkan pada pawai tahun lalu.
Armada cadangan disiapkan untuk menjaga kontinuitas layanan jika terjadi kendala operasional di lapangan.
Dari sisi pembiayaan, Dishub memperkirakan kebutuhan anggaran yang cukup besar untuk mendukung operasional, termasuk penggunaan bahan bakar berkualitas tinggi.
“Jika tidak memungkinkan menggunakan Pertalite, maka harus menggunakan Pertamax. Kebutuhan anggaran diperkirakan mencapai Rp35 miliar untuk dua trayek utama dan dua trayek feeder ke kawasan permukiman,” jelasnya.
Menurut Manalu, investasi tersebut penting untuk menjaga kualitas layanan sekaligus membangun sistem transportasi yang berkelanjutan.
Dishub juga merancang skema tarif terintegrasi antara trayek utama dan feeder. Mengacu pada konsep di Jakarta, feeder direncanakan gratis, sementara trayek utama dikenakan tarif terjangkau.
“Tarif kami pastikan tidak mahal. Untuk pelajar sekitar Rp1.000 dan masyarakat umum sekitar Rp2.500, sesuai rata-rata moda transportasi di Indonesia,” ungkapnya.
Selain itu, sistem operasional yang diterapkan tidak lagi menggunakan pola lama yang mengharuskan kendaraan menunggu penumpang penuh sebelum berangkat.
“Dengan sistem baru, bus tidak perlu menunggu penuh. Dalam waktu tunggu 1–2 menit sudah bisa berangkat. Waktu tunggu yang lama menjadi salah satu alasan angkutan konvensional ditinggalkan masyarakat,” pungkas Manalu. ADV
