BBM Langka, Antrean Mengular: Menelusuri Sumber Krisis Pertamax di Balikpapan

Ilustrasi polemik krisis BBM subsidi dan nonsubsidi di Kota Balikpapan Kalimantan Timur, Rabu (21/5/2025). Istimewa
NewsBalikpapan - Sore itu, antrean kendaraan tampak mengular di SPBU Gunung Guntur, Balikpapan Tengah. Beberapa pengemudi menyalakan mesin hanya sesekali, berupaya menghemat sisa bahan bakar di tangki mereka. Setelah empat hari mengalami kelangkaan Pertamax, masyarakat akhirnya bisa kembali mengisi tangki kendaraan mereka. Namun, kepanikan belum sepenuhnya reda.

“Sudah masuk lagi kemarin sore (pasokan BBM Pertamax). Tapi mobil-mobil masih antre panjang,” ujar Randy Faisal Hud, Manajer SPBU 64.761.17 Gunung Guntur, Rabu, 21 Mei 2025.

Randy menceritakan bahwa pasokan Pertamax ke SPBU yang ia kelola sempat terhenti total sejak Jumat sore. Kondisi itu diperparah oleh penutupan sementara pada Sabtu karena pemeliharaan kelistrikan. Pada Selasa, SPBU menerima 16 kiloliter (KL) Pertamax, disusul 8 KL keesokan harinya. Jumlah ini mendekati angka ideal pasokan harian mereka, yang biasanya berkisar 8 KL dengan penjualan sekitar 6 hingga 7 KL per hari.

Namun, selama kelangkaan, Pertalite menjadi alternatif utama. Penjualannya melonjak dari rata-rata 25 KL per hari menjadi hampir 30 KL. “Mau tidak mau, kendaraan yang biasa pakai Pertamax beralih ke Pertalite,” kata Randy.

Situasi serupa terjadi di sejumlah SPBU lain di Balikpapan. Kendaraan roda empat tampak mendominasi antrean, beberapa bahkan mengantre hingga ke bahu jalan. Kekhawatiran akan kembali terulangnya krisis bahan bakar masih terasa.
Pertamax bukan jenis BBM subsidi. Namun, kelangkaannya justru berdampak besar pada kestabilan pasar BBM di kota minyak ini. Apa yang sebenarnya terjadi?

Pertamina Patra Niaga Regional Kalimantan menyebutkan gangguan distribusi terjadi akibat keterlambatan suplai dari luar daerah. “Tambahan suplai BBM dari Banjarmasin baru tiba beberapa hari lalu, bersamaan dengan normalisasi operasional depot,” ujar Executive General Manager, Alexander Susilo.

Ia menyebutkan bahwa untuk mengatasi keterlambatan distribusi, pihaknya mengaktifkan 13 SPBU di Balikpapan dengan layanan 24 jam. Selain itu, distribusi juga diawasi ketat oleh aparat kepolisian dan pemerintah daerah untuk mencegah penumpukan dan potensi penimbunan BBM.

Namun, sebagian pengamat menilai kelangkaan ini bukan hanya soal distribusi. “Krisis seperti ini biasanya bukan persoalan satu-dua hari. Ada pola distribusi yang tidak diantisipasi,” kata seorang sumber di lingkungan internal Pertamina, yang meminta namanya tidak ditulis. Menurutnya, distribusi Pertamax rentan terganggu karena volumenya yang relatif kecil dibanding Pertalite dan Solar, yang menjadi prioritas utama.
Pertamax, sebagai BBM beroktan tinggi, memang bukan kebutuhan mayoritas masyarakat. Namun, di kota seperti Balikpapan—dengan kepadatan kendaraan pribadi tinggi dan pertumbuhan ekonomi yang pesat—ketergantungan terhadap BBM nonsubsidi semakin besar. Ketika distribusi terganggu, efeknya langsung terasa, bahkan mengganggu pergerakan logistik dan aktivitas harian warga.

Infografis kelangkaan BBM subsidi dan nonsubsidi di Kota Balikpapan Kalimantan Timur, Rabu (21/5/2025). Istimewa
Pakar energi dari Universitas Mulawarman, Riza Maulana, mengatakan bahwa pemerintah dan Pertamina seharusnya lebih sigap dalam mengantisipasi rantai pasok BBM. “Distribusi BBM tidak bisa hanya bergantung pada satu jalur pasokan. Ada banyak variabel seperti cuaca, kondisi pelabuhan, hingga faktor teknis di depot yang bisa memicu krisis,” ujarnya.

Ia juga menyoroti ketergantungan yang tinggi terhadap pasokan dari luar daerah, padahal Balikpapan memiliki kilang besar. “Masalahnya bukan hanya soal produksi, tapi juga bagaimana logistik dan distribusi dikelola. Kalau kilang beroperasi, tapi distribusinya macet, hasilnya tetap kelangkaan.”
Kelangkaan Pertamax dalam empat hari terakhir telah memberi pelajaran penting: stabilitas energi membutuhkan perencanaan distribusi yang matang dan respons cepat terhadap gangguan. Pertamina menyatakan akan melakukan evaluasi menyeluruh agar kejadian serupa tak terulang.

“Stok BBM sudah kami pastikan mencukupi. Ke depan, kami akan tingkatkan koordinasi antarwilayah distribusi agar respons lebih cepat,” kata Alexander Susilo.

Namun bagi sebagian warga, pernyataan ini terdengar seperti janji yang sudah sering diucapkan. “Yang kami harapkan bukan cuma janji stok aman, tapi pelayanan yang benar-benar stabil. Karena kalau BBM langka, semua ikut susah,” ujar Dani, sopir taksi daring yang antre sejak pukul 5 pagi.

Kelangkaan BBM bukan sekadar soal teknis distribusi. Ia adalah cermin dari tata kelola energi yang masih menyimpan banyak pekerjaan rumah.

Bagikan Berita

WhatsApp
X
Facebook
Print
Telegram

Berita Terkait

Tulis Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *