NewsBalikpapan  –

Wakil Menteri Energi Sumber Daya Mineral, Arcandra Tahar memastikan progres pembangunan kilang migas Bontang sesuai rencana. Pertamina sudah mempersiapkan teknis pembangunan kilang minyak Bontang kapasitas 300 ribu barrel per hari.

“Pembangunan kilang Bontang sudah siap tinggal jalan,” kata Arcandra di Balikpapan, Jumat (9/6).

Arcandra mengatakan, Pertamina sudah mempersiapkan investasi pembangunan kilang Bontang hingga proses perizinan. Menurutnya, kecil kemungkinan investasi sepenting ini dipindah lokasinya tanpa alasan yang jelas.

“Sangat kecil kemungkinan akan dipindah,” ujarnya.

Kilang minyak Bontang diproyeksikan sebagai tempat pengolahan migas produksi lapangan Jangkrik di Blok Muara Bakau, Selat Makassar, Kalimantan Timur. Operator Eni Muara Bakau BV sudah menyebutkan, produksi lapangan Jangkrik sebesar 450 juta standar kaki kubik per hari (MMSCFD) dan kondensat sebanyak 4.100 barel per hari.

Kilang terapung berbentuk kapal berukuran 200 x 46 x 40 meter ini diklaim pemerintah sebagai fasilitas pengolahan minyak dan gas terbesar di Indonesia.

Kilang terapung ini bakal menyokong produksi minyak dan gas dari proyek gas laut dalam (Indonesia Deepwater Development) Eni di seluruh Blok Muara Bakau, sekitar 70 kilometer dari garis pantai Kalimantan Timur. Gas bakal disedot kontraktor asal Italia ini dari 10 sumur produksi, yang terhubung oleh pipa bawah laut sepanjang 79 kilometer.

ENI memiliki 85 persen saham dominan dan sisanya dimiliki PT Pertamina (Persero).  Dengan potensi gas sebanyak 2 triliun kaki kubik (TCF), lapangan bakal berproduksi pada 2019.

Sehubungan itu, Arcandra menilai, keberadaan kilang minyak Bontang sangat erat kaitannya dengan temuan produksi lapangan Jangkrik ini. Menurutnya, potensi lapangan Jangkrik untuk mengamankan produksi LNG dalam negeri dan pasokan jaringan gas rumah tangga di Kalimantan.

Gubernur Kalimantan Timur, Awang Faroek Ishak mempertanyakan langsung kepastian pembangunan kilang minyak Bontang pada Arcandra Tahar. Dia mengaku memperoleh informasi adanya desakan parlemen memindahkan proyek minyak Bontang ke Aceh.

“Saya dengar dari anak saya yang kebetulan anggota DPR RI. Apakah akan dipindahkan ke Aceh ?  Kami butuh kepastian disini,” paparnya.

Awang mengaku heran ada sejumlah anggota DPR RI menginginkan pemindahan proyek kilang minyak ke Aceh. Dia berpendapat,  Aceh sudah tidak memiliki potensi sumber daya alam sekaya dimiliki Kaltim.

“Gas dan minyak Aceh sudah habis. Buat apa dibangun disana ? Kami disini yang lebih membutuhkan,” serunya.

Pemerintah dalam progres pembangunan empat kilang minyak kapasitas 668.000 barel per hari dengan perkiraan nilai investasi 23,6 miliar dolar AS. Empat lokasi kilang tersebut ada di Medan, Bontang, Cilacap  dan Tuban.

Kilang di Bontang direncanakan berkapasitas pengolahan 300.000 barel per hari dengan operator PT Pertamina (Persero). Perkiraan nilai investasi kilang Bontang yang “crude”-nya bersumber dari impor tersebut adalah 10 miliar dolar AS.

Pada periode 2016-2020, kilang Bontang dijadwalkan memasuki tahap EPC dan kurun 2021-2025 dilanjut EPC sekaligus produksi.