NewsBalikpapan –

PT Pertamina (Persero) menargetkan penyetaraan BBM satu harga di 36 titik kawasan pelosok perbatasan Kalimantan. Kawasan perbatasan Indonesia – Malaysia ini belum sepenuhnya terjangkau distribusi BBM produksi kilang minyak Balikpapan.

“Kami mempercepat upaya agar seluruh wilayah di Kalimantan menikmati BBM dengan harga seragam,” kata General MOR VI Kalimantan, Yanuar Budi Hartanto, Selasa (15/8).

Yanuar mengatakan, pemerintah berkomitmen menyeragamkan harga BBM untuk seluruh wilayah Indonesia. Pertamina diamanatkan untuk menjangkau distribusi seluruh kawasan yang terisolir keterbatasan geografis.

Sementara ini, Yanuar menargetkan mampu menjangkau 15 titik kawasan pedalaman ada di Kalimantan. Pertamina sudah mendistribusikan alokasi BBM ke kawasan Krayan, Long Apari dan Jagoi Babang Kabupaten Nunukan Kalimantan Utara.

“Mulai bulan Juli lalu sudah aktif dilakukan pendistribusian BBM ke daerah ini,” ungkapnya.

Kawasan perbatasan ini, kata Yanuar biasanya menikmati BBM dari negara tetangga Malaysia. Harga BBM jenis premium melonjak hingga kisaran Rp 25 ribu per liternya.

Pertamina sudah menargetkan bisa menjangkau kawasan terpencil Kalimantan penghujung akhir tahun 2017 ini. Menurutnya, butuh kerja keras guna mempercepat pelaksanaan proyek BBM satu harga di wilayah pedalaman.

“Kita terus mempercepat proyek ini agar semua warga di Kalimantan dapat menikmati bahan bakar dengan harga yang sama,” jelasnya.

Bulan Agustus ini akan diterapkan kebijakan satu harga di Kecamatan Paloh, Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat dan Kecamatan Danau Sembuluh, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah. Pertamina membangun SPBU Modular di Paloh Kabupaten Sambas Kalimantan Barat .

“Kemungkinan akan mulai launching pada minggu kedua Agustus,” terangnya.

Area Manager Communication and Relations Kalimantan, Alicia Irzanova mengatakan BBM jenis Pertalite dan Solar Subsidi akan menjadi produk yang rencananya di supply dari TBBM Pontianak.  Perjalanan dari TBBM Pontianak menempuh waktu sekitar 6-7 jam atau sekitar 240 km.

“Pengadaan SPBU Modular ini untuk kebutuhan akan BBM di daerah Sambas Barat hingga Utara. SPBU Modular melayani kebutuhan sekitar 40-200 KL per hari, di mana hanya ada satu modul yang digunakan untuk sarana penimbunana dan sarana penjualan,” jelasnya.

 

Sedangkan SPBU modular yang berada di Kecamatan Danau Sembuluh, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah sudah dilakukan pengisian perdana dari TBBM Sampit dan Pangkalan Bun.

Alicia menyebutkan SPBU direncanakan dapat dibuka secara resmi pada bulan Agustus mendatang. Produk-produk yang akan distok yaitu Premium, Pertalite, Dexlite, dan Solar Non Subsidi. Jumlah volume yang distok pun disesuaikan dengan kebutuhan dan konsumsi masyarakat setempat nantinya.

Untuk diketahui, saat ini Kecamatan Long Apari, Kabupaten Mahakam Hulu sudah menikmati 1 liter premium sebesar Rp 6.450/liter dan solar sebesar Rp 5.150/liter.

Pertamina mulai menyeragamkan harga BBM Kalimantan sejak awal tahun 2017 lalu. Start awal dimulai dengan pengiriman BBM di Kabupaten Utara Sungai Selatan, Daha Bajayou, Loksado Malinau, Sambas Satingan Besar, Sambas Liku, Bengkayang Jagoi Babang, Malinau Kayan Selatan, Nunukan Lumbis, Seruyan Sembuluh, Berau Biatan, Kelay, Maratua, Tabalan, Long Apari dan Long Pahangai.

Sebelumnya, Pertamina menerbangkan BBM ke Krayan jalur transportasi udara Tarakan – Nunukan – Krayan. Sebelumnya, kawasan perbatasan memperoleh BBM dari Malaysia yang harganya bisa berlipat lipat dari angka kewajaran.

Pertamina mendistribukan premium dan solar masing masing sebanyak 240 kilo liter per bulannya di Krayan. Pertamina mensubsidi biaya angkut BBM ke Krayan sebesar Rp 512 juta per bulannya.

Selain itu, Pertamina Kalimantan baru saja meresmikan penggunaan agen premium dan minyak solar (APMS) Long Apari Mahakam Ulu. Pertamina mendistribusikan sebanyak 160 kilo liter premium dan 20 kilo liter solar guna memenuhi kebutuhan APMS ini.

Proses distribusi BBM ke Long Apari juga membutuhkan upaya extra keras. Pengirimannya dilakukan kapal jenis self propelled oil barge (SPOB) melintasi rute Samarinda – Long Bagun – Long Pahangai dan Long Apari selama 10 jam.

Selama proses pengiriman ini, kapal kapal Pertamina harus menanggung beban resiko tinggi melewati 12 jeram yang arusnya deras. Pertamina harus mengkombinasikan kapal SPOB angkutnya dengan kapal long boat guna melewati jeram yang ada.

Kali ini, Pertamina juga mensubsidi biaya pengiriman Long Apari sebesar Rp 75 juta per bulannya. Pemberian subsidi agar harga BBM Long Apari seragam dengan kota besar lainnya di Indonesia yakni Rp 6.450 (premium) dan Rp 5.150 (solar).

Biasanya, warga pedalaman Mahakam Ulu mengkonsumsi BBM harganya mencapai Rp 15 ribu hingga Rp 40 ribu per liternya. Mahalnya harga harga kebutuhan masyarakat ini disebabkan minimnya sarana prasarana transportasi darat menghubungkan Samarinda – Long Apari.

Ketiadaan pasokan BBM berdampak melambungnya harga harga kebutuhan pokok masyarakat terpencil di Indonesia. Contohnya, warung makan di Long Apari yang menetapkan tarif sebesar Rp 50 ribu sekali makan hingga penginapan sederhana mematok tarif Rp 1,2 juta per malam.