Produksi Batu Bara Indonesia Tak Mampu Terserap Pasar
24 November 2011
Pekerjakan TKI di Luar Kontrak, Majikan Bakal Dipenjara
25 November 2011

Terlintasi Proyek Tol, Status Tahura Bukit Soeharto Musti Turun

Balikpapan – Balai Pemantaban Kawasan Hutan Wilayah IV Kalimantan Timur menyatakan standar taman hutan rakyat Bukit Soeharto musti diturunkan standarnya jadi sekelas hutan produksi. Ini musti terlebih dahulu dilakukan saat ada sebagian wilayahnya terlintasi proyek jalan tol menghubungkan Balikpapan – Samarinda. “Harus turun jadi hutan produksi saat dipergunakan jadi jalan tol, nanti bisa mengajukan APL (area pengguna lainnya),” kata Kepala Balai Pemantaban Kawasan Hutan Wilayah IV Kementerian Kehutanan, Agus Nurhayat saat ditemui di Balikpapan.

Tidak hanya taman hutan rakyat Bukit Soeharto, Agus juga mensyarakatkan hal yang sama dalam penggunaan hutan lindung Manggar. Baik hutan lindung Manggar dan taman hutan rakyat Bukit Soeharto, katanya terlintasi proyek pembangunan jalan tol sepanjang 99,02 kilometer.
“Meskipun kondisinya sudah tidak ada hutannya, namun kami tetap harus mematuhi status hukumnya sebagai hutan primer,” paparnya.
Menteri Kehutanan, menurut Agus sudah mensyaratkan agar pemerintah daerah memenuhi ketentuan tersebut sebelum pelaksanaan proyek jalan tol. Provinsi Kalimantan Timur sudah mengajukan pemaparan tentang rencana proyek jalan tol pada Menteri Kehutanan.
“Saat ini masih dalam pembahasan dan belum ada keputusannya,” ungkapnya.
Kalimantan Timur berambisi membangun proyek prestisius jalan tol Samarinda – Balikpapan senilai Rp 6,2 triliun. Pembangunan jalan tol sepanjang 99,02 kilometer akan mempergunakan alokasi dana daerah serta investasi pihak swasta.
Provinsi Kalimantan Timur mengalokasikan anggaran sebesar Rp 1,2 triliun peruntukan pembebasan lahan di wilayah Samarinda, Kutai Kartanegara dan Balikpapan. Kontruksi pembangunan jalan tol menelan anggaran sebesar Rp 5 triliun menggandeng pihak investor swasta.
Gubernur Kalimantan Timur, Awang Faroek Ishak saat pencanangannya awal tahun silam mengklaim proyek jalan tol tersebut menjadi koriodor perekonomian nasional dalam pembukaan akses transportasi darat. Pemerintah menargetkan membuka daerah daerah yang sebelumnya terisolasi di wilayah Jawa, Sumatera, Sulawesi, Kalimantan, Bali dan Papua.
Keberadaan jalan tol Samarinda – Balikpapan, menurut Awang juga sejalan dengan penetapan Kalimantan Timu sebagai outlet produksi crude palm oil (CPO) di Kalimantan. Pertumbuhan perkebunan kelapa sawit di Kalimantan diperkirakan sudah mencapai 5 juta hectare pada akhir 2010 silam.
Pembangunan jalan tol ini terbagi dalam 5 paket pengerjaannya. broken links test . Paket pertama adalah jalan menghubungkan Km 13 Balikpapan – Semboja senilai Rp 374 miliar, Km 13 Balikpapan – Manggar (Rp 373 miliar), Semboja – Palaran (Rp 366 miliar), Palaran – Mahkota II (Rp 363 miliar) dan Km 13 Balikpapan – Sepinggan (Rp 373 miliar).
Proyek ini mulai dilaksanakan pada 2010 hingga tahap akhir penyelesaian pada 2013 mendatang. Pembiayaannya mempergunakan sistim multy years lewat alokasi anggaran APBD Kalimantan Timur.
Penggarapan jalan tol Samarinda – Balikpapan merupakan tahap awal pembangunan jalur trans Kalimantan Timur. Nantinya, Kalimantan Timur ingin melanjutkan pembangunan jalan tol Sangata – Maloy (130 Km), Bontang – Sangata (40 Km), Samarinda – Bontang (84 Km) dan penyelesaian proyek Jembatan Pulau Balang (1,5 Km).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *