NewsBalikpapan –

Suara Letnan Kolonel (Infantri) Sigit Hengki Purwanto lewat sambungan telpon terdengar girang. Masa penugasan perwira menengah Kodam Mulawarman ini berakhir dua bulan kedepan. Sembilan bulan masa penugasan Komandan Batalyon 611 Awang Long Samarinda menjaga kedaulatan NKRI perbatasan Indonesia – Malaysia di Nunukan Kalimantan Utara.

“Tinggal dua bulan lagi selesai masa tugas saya disini,” kata Sigit, Jumat (25/8).

Batalyon Kodam Mulawarman ini memang sudah tujuh bulan terakhir menjaga perbatasan. Tantangan medan dihadapi jelas tidak mudah – hutan perawan, jurang, tebing terjal hingga derasnya jeram sungai Kalimantan.

Pos komando taktis perbatasan Nunukan menjadi saksi bisu keseharian pasukan TNI disini. Personil lainnya rutin patroli antar masing masing pos tersebar di tiga kabupaten. Jarak antar pos jauh bukan kepalang, butuh waktu sepekan perjalanan darat menerabas kerimbunan hutan.

“Sekali pasukan berangkat patroli bisa sepekan di perjalanan, bersenjata tempur serta bekal perjalanan,” ungkap Sigit sambil menambahkan kompi pasukan bisa bertahan sebulan berada di pos perbatasan itu.

Selama sebulan itu, pasukan TNI sudah terbiasa menikmati kesendirian sembari bersiaga di tengah hutan.  Sialnya lagi, tidak semua lokasi perbatasan ini terjamah sinyal operator komunikasi.

Ada beberapa area yang miskin sinyal seperti di Krayan, Long Bawan dan Lumbis Ogong. Jaringan operator telekomunikasi Malaysia bahkan merembes masuk di tiga wilayah tersebut.

Namun di luar tiga area itu, pasukan TNI perbatasan Kalimantan berbesar hati. Sigit mengaku terbantu keandalan sinyal jaringan Telkomsel di hampir seluruh wilayah perbatasan. Menurutnya, hanya Telkomsel yang berani menjamin keberlangsungan komunikasi pasukan TNI di perbatasan.

“Kami juga butuh komunikasi dengan keluarga dan sesama personil selama menjalankan tugas di perbatasan. Contohnya saat lebaran Idul Fitri lalu, kami berkomunikasi dengan keluarga lewat telpon saja,” paparnya.

“Kalau untuk telpon sudah memadai, hanya belum bisa akses layanan data untuk akses whats app dan sebagainya,” imbuhnya.

Sekretaris Daerah Provinsi Kaltara, Badrun menyebutkan, titik lemah Telkomsel dari keterbatasan jaringan akses data komunikasi bagi kota/kabupaten perbatasan. Pemerintah daerah saat ini sedang mengupayakan penerapan e goverment, e budgeting hingga transaksi non tunai bagi warganya.

“Kami sedang gencar mendorong penerapan e goverment, e budgeting hingga transaksi non tunai di masyarakat Kaltara. Kalau jaringan data tidak maksimal tentunya akan percuma,” keluhnya.

Badrun mengakui, Pemprov Kaltara berkewajiban menjamin ketersediaan akses komunikasi bagi seluruh area provinsi pemekaran ini. Salah satu berkoordinasi dengan operator seluler agar menambah kualitas jaringan telekomunikasi di seluruh wilayah Kaltara.

“Kami membantu dalam kemudahan perizinan operator telekomunikasi di Kaltara, khususnya dalam pembanguna sarana BTS (base transceiver station) di perbatasan,” paparnya.

Ketersediaan jaringan komunikasi diharapkan mampu mendongkrak pertumbuhan ekonomi Kaltara sebagai provinsi termuda di Indonesia. Provinsi Kaltara dipersiapkan menjadi beranda terdepan Indonesia yang berseberangan langsung dengan wilayah Malaysia.

“Kami ingin menjadi provinsi yang menjadi beranda Indonesia di perbatasan. Jangan sampai provinsi ini tertinggal dibandingkan negara sebelah,” tegasnya.

General Manager ICT Telkomsel Regional Kalimantan, Hersetyo Pramono menegaskan komitmennya merambah seluruh area perbatasan di Kalimantan. Sudah menjadi fakta saat Telkomsel dinobatkan sebagai operator seluler tunggal yang membuka akses komunikasi perbatasan Indonesia.

“Kalau soal ini tidak perlu diragukan lagi komitmen Telkomsel. Kami masuk wilayah perbatasan tidak melihat dari sisi nilai ekonomis lagi, namun demi kepentingan bangsa kedepan,” ujarnya.

Akses komunikasi terbukti berdampak positif bagi perkembangan sosial dan ekonomi masyarakat perbatasan. Mereka makin terdorong menjaga rasa nasionalisme dan kecintaan terhadap bangsa negara.

“Kami ingin memangkas kesenjangan telekomunikasi antara warga perkotaan dan perbatasan,” tegasnya.

Telkomsel sudah membangun puluhan BTS teknologi 4G di Sebatik – Nunukan, Kalimantan Utara. Secara bertahap, area perbatasan menikmati teknologi data kecepatan tinggi di Nunukan, Malinau, Sambas, Bengkayang dan Mahakam Hulu.

“BTS Telkomsel bisa menjangkau hingga jarak 10 kilometer, masuk wilayah negara tetangga,” ujarnya.

Sejak akhir 2015 silam, keseriusan Telkomsel tercermin kala membuka akses telekomunikasi di area perbatasan Indonesia seperti Buru Selatan, Maluku Barat Daya, Maluku Tenggara, Kaimana, Manokwari Selatan, Asmat, Deiyai, Dogiyai, Lanny Jaya, Puncak Jaya, Mamberamo Raya, Miangas, Timpas Kuala Kapuas, Lamandau, Kudangan, Mahakam Ulu dan Entikong.

Saat itu, Telkomsel mengoperasikan sebanyak 128 BTS  di sejumlah titik perbatasan Indonesia. Acara peresmian dipusatkan di Pulau Sebatik di mana sudah ada 10 BTS tambahan yang mampu melayani kebutuhan akses broadband masyarakat setempat.

Keseluruhannya, Hersetyo menyebutkan, terdapat 841 BTS tersebar di garis terdepan perbatasan dengan tujuh negara tetangga. Penempatannya ada di perbatasan Papua Nugini (Merauke dan Jayapura), Australia (Pulau Rote), Timor Leste (Atambua), Filipina (Sangihe), Malaysia (Sebatik-Nunukan), Singapura (Batam), dan Vietnam (Kepulauan Natuna).

“Perusahaan operator telekomunikasi lain akan berhitung biaya membuka investasi di perbatasan. Kalau Telkomsel tidak memandang secara bisnis saja, namun juga kepentingan bangsa,” tuturnya.

BTS di perbatasan ini, menurut Hersetyo, secara bertahap kualitasnya ditingkatkan mengadopsi teknologi komunikasi terbaru. Beberapa BTS ini memang masih memanfaatkan standar aplikasi lama mengadopsi teknologi 2G.

Telkomsel Area Papua Sulawesi dan Kalimantan memiliki 39 juta pelanggan dimana 20 juta diantaranya pengguna layanan data. Telkomsel menyiapkan 33 ribu jaringan BTS dan separohnya digunakan mendukung akses data dan layanan mobile lifestyle.