Gubernur Awang FaroekNewsBalikpapan –

Gubernur Kalimantan Timur, Awang Faroek Ishak berubah pikiran soal proyek rel kereta api yang semula peruntukannya hanya untuk pengangkutan batu bara. Dia beranggapan rel kereta api Kaltim semestinya juga bisa berfungsi ganda sebagai alat transportasi manusia.

“Ide awalnya alat angkut batu bara saja, tapi sekarang saya berubah pikiran dan seharusnya bisa untuk transportasi manusia juga,” katanya dalam ground breaking proyek rel kereta api Kaltim, Kamis (19/11).

Pemprov Kaltim sudah menandatangani kesepakatan pembangunan rel kereta api senilai Rp 72 triliun menghubungkan Kutai Barat, Paser, Penajam Paser Utara dan Balikpapan. Pemerintah daerah mengandeng investor asing yaitu Rusian Railways dalam pembangunan rel kereta api sepanjang 183 kilometer.

Awang mengatakan masyarakat Kaltim sudah membutuhkan sarana transportasi massal yang menghubungkan kota/kabupaten di wilayahnya. Dia menyebutkan adanya sejumlah daerah di Kaltim yang masih terisolir dari sarana transportasi murah.

Rel kereta api ini, kata Awang memudahkan distribusi industry Kaltim seperti batu bara, crude palm oil dan hasil budidaya hutan lainnya. Adanya rel kereta api diyakini mendongkrak perekonomian Kaltim di masa mendatang.

Sehubungan itu, Awang meminta pemerintah menyesuaikan peraturan pemerintah soal pengembangan sarana transportasi kereta api di daerah. Menurutnya harus ada campur tangan pemerintah pusat dalam merealisasikan pengembangan transportasi kereta api di Kaltim.

Presiden Joko Widodo dalam sambutannya menegaskan komitmen pemerintah pusat dalam pengembangan sistim transportasi massal di luar Jawa. Dia menyebutkan adanya proyek pengembangan kereta api yang sedang dikembangkan di Sulawesi dan Sumatera.

“Kita lihat saja progress kereta api mana yang duluan selesai, antara Sulawesi, Sumatera dan Kalimantan,” ujarnya.

Demikian soal revisi peraturan yang sekiranya bisa menghambat iklim investasi di daerah akan dibicarakan.

“Kita sendiri yang membuat peraturan pemerintah dan menteri ini, tentu bisa kita pertimbangkan,” paparnya.

Jaringan Advokasi Tambang (Jatam) menentang rencana Kaltim membangun rel kereta api batu bara bekerjasama dengan Rusian Railways. Adanya rel kereta api ini hanya memperparah eksploitasi industry batu bara di Kaltim.

“Kandungan batu bara Kaltim segera habis adanya rel kereta api ini,” kata Dinamisator Jatam Kaltim, Merah Johansyah.

Merah beranggapan kereta api batu bara sepanjang 183 kilometer hanya menguntungkan 377 perusahaan pertambangan Kaltim. Padahal rel kereta api membelah Kutai Barat, Paser, Penajam Paser Utara dan Balikpapan berpotensi menyebabkan bencana lingkungan adanya galian sisa pertambangan batu bara.