Menurut Riyanto, jenis padi ladang memiliki beberapa keunggulan dibandingkan dengan padi sawah. Contohnya varietas Padi Mayas asal Kutai Kartanegara yang termasuk dalam kelompok padi ladang.

“Ketergantungan dengan air tidak cukup besar disamping tidak memerlukan pestisida serta pupuk dalam proses penanamannya,” katanya.

Keorganikan padi jenis ini akan membantu meningkatkan pendapatan petani karena biaya operasional dan perawatan tanaman lebih kecil. “Kultur tanah di Kaltim juga mendukung dalam pengembangan padi varietas ini,” terangnya.

Riyanto menambahkan, pemanfaatan teknologi dalam pertanian padi ladang terasa lebih lambat dibandingkan dengan padi sawah. Dia juga mengharapkan BUMN terkait bisa memberi inovasi dalam penyediaan alat-alat pertanian yang akan mendukung proses pengolahan tanah.

“Kami harapkan inovasi dari pihak BUMN karena hal ini juga akan mengembangkan industri dalam negeri,” ujarnya.

Seperti diketahui Menteri BUMN Dahlan Iskan menyatakan pihaknya akan menanamkan investasi sebesar Rp9 triliun melalui program food estate. Kaltim menjadi daerah pertama yang disurvei karena pemerintah daerahnya menyanggupi penyediaan lahan seluas 100.000 hektare.

Dahlan Iskan mengatakan pihaknya akan serius dalam merealisasikan pembentukan food estate yang diprioritaskan dalam pencetakan lahan sawah baru untuk membantu peningkatan produksi beras.

Dahlan mengungkapkan angka inflasi tahunan pada 2011 merupakan rekor pencapaian terendah sejak krisis moneter 1998 yakni sebesar 3,79%. Hal ini juga didukung oleh pertumbuhan ekonomi yang berada diatas 6%.

Kendati demikian, tambah Dahlan, pemerintah harus berkorban banyak dengan menggelontorkan 500.000 ton beras yang menjadi rekor penyaluran beras terbesar sejak krisis.

“Beras sebanyak itu untuk menciptakan kondisi yang tenang di masyarakat karena kebutuhan beras mencukupi,” tandasnya.