Anim mengatakan minimnya permintaan pasar dalam negeri disebabkan terbatasnya jumlah power plan berbahan bakar batu bara di Indonesia. Batu bara sendiri peruntukan utamanya untk pemenuhan bahan bakar pembangkit listrik.

“Power plan batu bara di Indonesia masih sedikit dibandingkan negara lain,” ujarnya.

Anim mencontohkan India yang membutuhkan hingga 600 juta metrix ton batu bara dimana produksinya hanya 500 juta metrix ton. Demikian pula kebutuhan batu bara China yang mencapai 3,4 miliar metrix ton dengan produksi hanya 3 miliar metrix ton.

“Artinya kekurangannya dipenuhi dari impor Negara lain seperti Indonesia ini,” paparnya.

Perusahaan batu bara Indonesia, menurut Anim sesungguhnya juga hanya ingin menyalurkan produksinya untuk pemenuhan dalam negeri. Hal itu bisa mengurangi bea pengiriman ke luar negeri yang menyerap keuntungan produksi.

“Kalau dalam negeri mampu menyerap, mereka tidak akan kirim jauh jauh ke luar negeri,” tuturnya.

Anim memprediksi penyerapan produksi batu bara nasional akan mampu terpenuh pada 2020 dimana pemerintah berupaya mengembangan infrastruktur power plan batu bara. Pemerintah berupaya mengembangkan industry manufaktur yang membutuhkan suplai listrik murah berbahan bakar batu bara.

“Produksi saat itu diperkirakan berkisar 200 – 300 juta metric ton per tahunnya. Namun penyerapan dalam negeri maksimal,” ungkapnya.

Asosiasi Pertambangan Batu Bara Indonesia memperkirakan potensi kandungan batu bara saat ini mencapai 104 miliar metrix ton. Adapun cadangannya batu bara Indonesia berkisar 21 miliar metric ton.