Staf RS Permata HatiNewsBalikpapan –

Rumah Sakit Ibu Anak Permata Hati beraktifitas seperti biasa, Kamis (21/11) pukul 12.00 Wita. Dua orang resepsionis langsung menyapa ramah setiap tamu yang datang di rumah sakit khusus bersalin yang berada di Jalan Imam Bonjol Balikpapan Kalimantan Timur.

Papan nama sejumlah dokter spesialis kebidanan dan kandungan berjajar rapi di ruang tunggu pasien. Salah satunya masih terpampang rapi nama dokter Dewa Ayu Sasiary Prawani yang kini jadi terpidana kasus mal praktek di RSUP Prof Dr Kandou Malalayang Menado pada 2010 silam. Seorang pasien bernama Sisca Makatey meninggal usai menjalani operasi Caesar ditangani tim medis yang satu diantara anggotanya adalah dokter Ayu.

“Dokter Ayu adalah tenaga medis yang andal di rumah sakit ini. Selain professional, dia dikenal ramah dan mudah bergaul dengan orang lain,” kata Direktur Rumah Sakit Permata Hati, Hendra A Siahaan.

Dokter Ayu menyandang spesialis kebidanan dan kandungan dari Universitas Sam Ratulangi Menado – sehingga diterima bekerja di Rumah Sakit Permata Hati pada 2012. Dokter kelahiran Bali in juga sudah mengantongi izin praktek diterbitkan Perkumpulan Obstetri dan Ginekologi Indonesia (POGI) dan Dinas Kesehatan Kota Balikpapan.

“Kami tidak punya alasan menolak seorang dokter dengan criteria seperti ini,” papar Hendra.

Hendra mengatakan rekam jejak dokter Ayu sangat memuaskan hingga bekerja sebagai salah satu tenaga medis Rumah Sakit Permata Hati. Hingga kini, dokter Ayu sudah menjalankan layanan persalinan ribuan pasien Balikpapan tanpa ada keluhan.

“Dia selama ini sudah menjalankan tugasnya dengan baik, tidak pernah ada keluhan dari pasien,” tuturnya.

Kalaupun kini tersandung kasus, Hendra tetap percaya pada professionalisme dokter Ayu ini. Dia berpendapat kasus emboli air ketuban adalah resiko operasi persalinan yang sulit ditangani tim medis manapun. Tim medis saat itu hanya mampu menyelamatkan jiwa bayi dalam kandungan Sisca Makatey.

“Pengadilan Menado sebelumnya sudah memutuskan kasusnya bebas murni dan bukan termasuk mal praktek. Bila sekarang ada putusan bersalah, kami jadi heran,” sesalnya.

Sehingga tidak heran seluruh tim medis Rumah Sakit Permata Hati terguncang saat kejaksaan menggelandang dokter Ayu. Penangkapan dokter muda ini dilakukan saat yang bersangkutan menjalankan rutinitas layanan konsultasi persalinan pasiennya.

“Tidak ada pemberitahuan dari jaksa, mereka berbaju preman serta langsung membawa dokter Ayu dari ruangan prakteknya,” ungkapnya.

“Kalau diberitahu, kami akan kooperatif dengan menghadirkan yang bersangkutan,” imbuhnya.

Peristiwa ini dianggap mencederai professionalism profesi dokter dalam menjalankan tugasnya merawat pasiennya. Kasus ini dianggap sebagai kriminalisasi profesi dokter saat terjadi korban jiwa akibat resiko operasi medis.

Dokter sendiri sudah terikat sumpah jabatan dalam melaksanakan tugas dan jabatannya selaku tenaga medis.

“Dokter selalu berusaha maksimal untuk menyelamatkan pasiennya, tidak ada sedikitpun niat negative untuk mencederai pasiennya. Jangan jadikan dokter Ayu sebagai kambing hitam,” ujarnya.

Rumah Sakit Permata Hati tetap percaya dokter Ayu sudah melaksanakan tugasnya dengan sebaik baiknya. Manajemen  Permata Hati belum berniat melepaskan papan nama dokter Ayu sebagai satu bagian rumah sakit persalinan ini. Selama sepekan terakhir ini, seluruh staf Rumah Sakit Permata Hati mengenakan pita hitam sebagai bentuk dukungan pada dokter Ayu.

“Ini himbauan dari Ikatan Dokter Indonesia untuk mengenakan tali hitam sebagai bentuk dukungan pada dokter Ayu. Kami tetap yakin dokter Ayu tidak bersalah,” tegasnya.

Putusan kasasi Mahkamah Agung memutuskan dr Ayu, dr Hendry Simanjuntak dan dr Hendy Siagian bersalah atas tuduhan mal praktek Kejaksaan Negeri Menado. Mereka dianggap jadi penyebab meninggalnya pasien Sisca Makatey saat operasi caesar di RSUP Prof Dr Kandou Malalayang – Manado pada 2010.

Pencarian Populer:

rumah sakit permata hati balikpapan, biaya melahirkan di rs restu ibu balikpapan 2018, kasus di rumah sakit permata hati