LCT DanielsNewsBalikpapan –

Populasi mamalia air pesut Sungai Mahakam diperkirakan masih tersisa 86 ekor di sejumlah muara sungai terpanjang di Kalimantan Timur ini.  Habitat satwa langka dilindungi makin terancam kian padatnya jalur lintas ponton batu bara yang rutin berlalu lalang di sepanjang Sungai Mahakam.

“Masih tersisa sebanyak 86 ekor satwa pesut di Sungai Mahakam,” kata perwakilan Yayasan  Rasi, Danielle Kreb di Balikpapan, Senin (25/10).

Danielle mengatakan ada enam zona inti jadi habitat alam satwa pesut di Sungai Mahakam yakni Muara Pahu, Muara Kedang Kepala, Muara Kedang Rantau, Muara Pela dan Muara Muntai. Enam muara di Sungai Mahakam ini kaya berbagai jenis ikan yang makanan satwa pesut.

“Lokasi muara selalu ada pusaran air dimana menjadi tempat berkumpulnya ikan ikan,” papar wanita berdarah Belanda ini.

Namun saat ini tersisa tiga lokasi zona inti habitat alam satwa pesut di Muara Kedang Rantau, Muara Muntai dan Muara Pela. Menurut Danielle tiga muara lainnya sudah menjadi jalur lintas lalu lalang ponton perusahaan batu bara yang memiliki izin konsesi pertambangan di Kutai Barat dan Kutai Kartanegara.

“Pesut sepertinya stress dengan keberadaan mesin mesin kapal sehingga mereka pergi,” tuturnya.

Itu terbukti saat satwa pesut kembali ke habitat alamnya di Muara Sungai Kedang Kepala. Pesut pesut ini kembali berselang beberapa minggu saat Pemprov Kaltim mencabut izin amdal distribusi kapal batu bara melintasi Muara Sungai Kedang Kepala.

“Pemprov Kaltim mencabut izin amdal perusahaan batu bara selama 1,5 bulan dan satwa pesutnya kembali di Muara Sungai Kedang Kepala,” tuturnya.

Namun saat ini satwa pesut kembali menghilang dari habitat alamnya di Muara Sungai Kedang Kepala. Danielle menduga hilangnya mereka ada kaitannya dengan diperkenankannya beroperasi kembali aktifitas kapal batu bara di Muara Sungai Kedang Kepala.

“Sekarang kapal kapal sudah beroperasi kembali di wilayah situ dan berpengaruh terhadap kelangsungan pesut,” sesalnya.

Dinamisator LSM Jaringan Advokasi Tambang (Jatam) Kaltim, Merah Johansyah menyebutkan pemda kembali memperbolehkan kapal kapal batu bara PT Baratabang melintasi Muara Sungai Kedang Kepala. Anak perusahaan Bayan Grup ini disebut sebut sudah mengantongi izin amdal distribusi batu bara melintasi kawasan rawa gambut di Muara Kaman, Kota Bangun, Kenohan dan Muara Wis di Kabupaten Kutai Kartanegara.

 

“Kawasan ini merupakan habitat alam mamalia air pesut Mahakam,”  sesalnya.

Gunung Bayan Pratama Grup memang sedang menggenjot produksi batu baranya menjadi 20 juta metric ton dari sebelumnya hanya 16 juta metric ton. Untuk memperlancar proses distribusi, mereka mengurus izin amdal pelintasan Muara Kedang Kepala yang menjadi habitat alam pesut.

Merah mengaku kecewa sikap Pemprov Kaltim yang mengizinkan kembali aktifitas kapal kapal Baratabang di lokasi dilindungi serta habitat pesut. Dia menduga ada kesepakatan kotor sehingga Pemprov Kaltim kembali mengizinkan aktifitas kapal batu bara di wilayah  Muara Kedang Kepala ini.