Rig South Mahakam TEPINewsBalikpapan –

Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas menyatakan pelaku industry sector migas sudah mulai terdampak krisis ekonomi dunia saat ini. Perusahaan migas level kecil dan menengah ini sudah banyak hengkang menyusul anjloknya harga minyak dunia yang mencapai kisaran dibawah 50 US dolar per barrelnya.

“Perusahaan level menengah ke bawah sudah banyak yang hengkang,” kata Kepala Humas SKK Migas, Elan Biantoro di Balikpapan, Rabu (7/10).

Elan menyatakan perusahaan perusahaan ini adalah mereka yang tidak komitmen pasti dalam proses eksplorasi dan eksploitasi  blok migasnya. Dia mencatat setidaknya ada sebanyak 54 perusahaan migas dari total 181 perusahaan migas yang hingga kini tidak melaksanakan kewajiban eksplorasi dan eksploitasi blok migasnya. Mayoritas perusahaan perusahaan ini adalah mereka yang tidak punya pengalaman dalam industry migas.

“Mereka adalah orang orang yang hanya coba coba saja masuk industry migas. Sudah punya lima SPBU saja sudah mengaku punya modal untuk masuk industry migas. Itu tentunya tidak cukup,” paparnya.

Menurut Elan industry sector migas membutuhkan perusahaan yang memiliki modal serta kemampuan SDM yang sudah teruji bertahun tahun. Proses eksplorasi pencarian sumber migas setidaknya membutuhkan modal mencapai puluhan juta US dolar.

“Sepuluh kali pencarian, belum tentu saja mendapatkan sumber minyak. Kalau tidak memperoleh minyak akan tidak mendapatkan biaya pengembalian dari negara dalam skema perhitungan cost recovery,” ujarnya.

SKK Migas, kata Elan baru baru memanggil 15 perusahaan migas yang dianggap tidak punya komitmen dalam pelaksanaan kewajiban pengelolaan bloknya. Mayoritas diantaranya terganjal permasalahan financial, sharing risk, kesiapan manajemen hingga perubahan operator.

“Kami telpon tidak bisa, kami datangi kantornya ternyata hanyalah sebuah komplek rumah toko saja,” sesalnya.

Namun demikian, Elan menilai situasi ini malahan berdampak positif terhadap dunia industry migas di Indonesia. Hanya perusahaan yang teruji yang hingga kini masih bertahan memenuhi kewajiban kontraknya bersama pemerintah.

“Seperti seleksi alam saja, hanya perusahaan kelas atas yang bertahan. Karena memang sector migas tidak boleh dilakukan perusahaan sembarangan disebabkan permasalahan modal, keselamatan dan SDM nya,” ujarnya.

Elan mencontohkan beberapa nama perusahaan migas caliber dunia seperti Vico Indonesia, Chevron Pasific, Pertamina, Conoco Phillips, BOB, Medco dan Total E&P Indonesie. Perusahaan perusahaan ini mampu melebihi pencapaian target produksi liquid dan gas sudah ditentukan pemerintah.