Sebagai pelaku sejarah, Sujoko diangkat jadi veteran perang sejak 1981 lewat terbitnya surat keputusan pemeritah pusat. Pensiunan Pertamina bidang teknis radio tahun 1979 ini mengeluhkan kesejahteraan sesama veteran yang kurang memadai. Bahkan mereka kerap mengalami kemunduran perhatian dari pusat. Persoalan yang makin pelik menyusul kisruh pengurus veteran Kaltim.

“Kami miliki Primkoveri/ Primer koperasi veteran Indonesia tahun 2005 salah satunya mengelola batu bara. Tapi kami tidak pernah menikmati sedikitpun hasil itu oleh pengurus koperasi dengan alasan kita tidak membayar iuran anggota padahal banyak sekali yang anggota veteran kita orang susah,” kata pria kelahiran Purworeja 1924 silam.

Padahal dulu, veteran ini kompak bahu membahu melawan invasi pasukan Belanda yang membonceng kedatangan sekutu kala melucuti Jepang di Kaltim. Seperti Paiman, Ahmad Junaidi, Masdar, Sumarjo , Sarimo dan Manan. Mereka usinya rata-rata diatas 88 tahun dan tinggal di Sanga Sanga dan wilayah lain termasuk Balikpapan.

Veteran di Kaltim dulunya terkenal dengan peristiwa berdarah pertempuran lawan Belanda di Sanga Sanga. Seperti juga Sujoko yang ikut gerakan kemerdekaan di Sanga Sanga pada 1942 silam. Dia ini memang pendatang yang yang dibawa Jepang dari Jawa ke Sanga Sanga. Sebelumnya bersama orang tuanya yang bekerja di Batavia Petroluem Maskapai (BPM).

Ia beruntung karena ditempatkan di bagian listrik oleh tentara Jepang saat awal pendudukan di Indonesia. Waktu itu usianya baru menginjak 18 tahun. Sementara ribuan orang ditempatkan sebagai pekerja romusa.

“Ada sekitar 6000 yang dibawa dari Jawa, Bali, Sumatera dibawa Jepang ke Kalimantan di Sanga-Sanga. Daerah Kaltim penghasil minyak zaman itu ada di Tarakan, Samboja, Sanga Sanga, dan Anggana,” ceritanya.

Jepang hanya 3,5 tahun menduduki bumi pertiwi namun meninggalkan kesan mendalam. Selain kekejaman tentaranya, negeri matahari terbit ini juga melatih kedisiplinan bagi anak anak muda zaman dulu menjadi tentara Heiho. Sepeningal Jepang, masuklah Australia di tahun 1945 yang tergabung dalam Badan Penolong Perantau Djawa (BPPD). Pasukan ini tergabung bersama sekutu yang mensuplay logistik makanan, pakaian, beras dan obatan pada masyarakat Kaltim.

“Tapi keberadaan tentara sekutu ini tidak sampai satu tahun,” tutur suami dari almarhum Arabayah (75).

Sepeninggal sekutu, tentara Belanda mulai bergerilya dalam upaya menancapkan kekuasaanya di Indonesia. Belanda yang awalnya tergabung dalam pasukan sekutu akhirnya kembali berkuasa di Kaltim. Mereka kuat dalam persenjataan lewat dominasi tentara KNIL yang personilnya sebagian diantaranya adalah para penghianat dari warga Indonesia.

“KNIL ada yang pro Indonesia dan pro Belanda,” katanya.

Perlawanan pendudukan kembali Belanda berkobar dimana mana, satu diantaranya terjadi di Sanga Sanga. Saat itu, Sujoko berinisiatif membentuk Badan Perjuangan Rakyat Indonesia (BPRI) Sanga Sanga. Berkuasanya kembali Belanda, membuat pejuang Indonesia melakukan gerakan bawah tanah. Tekat mereka ini ditunjukan lewat cap jempol darah sebagai tentara Soekarno.

“Kita bubuhkan cap jempol darah dan nama-nama pejuang ini. Ternyata gerakan kita diendus oleh Belanda. Kemudian mereka mengirim tujuh intelejen dari Balikpapan,” paparnya.

Kehadiran mata mata Belanda ini yang menyulut suasana pana di Sanga Sanga. Tugas mereka ini sangat jelas yaitu meredam perlawanan di Sanga Sanga dengan cara apapun. Mereka melaporkan keberadaan ini kepada polisi militer dan intelejen Belanda. Terbunuhnya salah satu pejuang, Sucipto menjadi titik balik perlawanan termasuk perobekan bendera warna merah putih biru jadi kebanggaan Belanda.

“Sucipto adalah pejuang Sanga Sanga yang menyimpan dokumen daftar pendukung Soekarno,” ujarnya.

Sujoko mengenang saat itu ada peristiwa penggrebekan dilakukan pasukan Belanda di kawasan Kampung Jawa Sanga Sanga. Kampung ini terkenal sebagai lokasi pejuang serta pusat perlawanan terhadap pendudukan Belanda di Kaltim. Salah satu antek Belanda bernama Herman terlihat menyerbu bersama puluhan tentara Belanda. Mereka mencari lokasi persembunyian para penjuang serta daftar pendukung Soekarno.

“Setelah itu tahu-tahu Sucipto tewas di pondoknya dengan dokumen hilang dari tangannya,” paparnya.

Tewasnya Sucipto mengobarkan semangat juang warga Sanga Sanga pada 26 Januari 1947. Dalam proses penguburan Sucipto, warga melucuti tentara KNIL yang seluruhnya adalah orang Indonesia pro Belanda. Saat itu, mayoritas pasukan KNIL sedang beribadah di gereja Samarinda.

“ Di Sanga Sanga waktu itu tidak ada Gereja hanya ada di Samarinda,” tambahnya.

Saat itu, peristiwa dramatis terjadi kala Munarman dan Sumiran merobek warna biru bendera kebangsaan Belanda di monumen Kantor KNIL di Sanga Sanga. Peristiwa yang serupa dengan kejadian perobekan bendera di Hotel Yamato Surabaya pada 18 September 1945 lalu.

Kondisi ini yang kemudian dilaporkan tentara KNIL ke markas Belanda di Samarinda bahwa Sanga Sanga telah jatuh ke tangan pejuang Soerkarno.

Tepat pada hari Senin 28 Januari 1947, meletuslah perjungan rakyat Sanga Sanga. Selama tiga hari, tentara Belanda yang bersenjata lengkap menyerbu Sanga Sanga. Belanda ingin membumi hanguskan Sanga Sanga dengan mendatangkan tentara dari Balikpapan, Tarakan, dan Banjarmasim.

Pejuang Indonesia yang bersenjata seadanya musti menghadapi gempuran hebat dari meriam kapal kapal Belanda yang bersandar di laut dan sungai Kaltim.

“Jadi rakyat Sanga Sanga bertahan selama tiga hari. Kita bisa berperang karena pada minggu pagi gudang mesiu milik Belanda kita duduki,” ungkapnya.

Gigihnya pertahanan pejuang dan rakyat Sanga Sanga membuat Belanda kembali mengeluarkan tipu dayanya. Mereka memasang bendera merah putih di salah satu kapal perangnya. Rakyat yang mengira ada bala bantuan dari Jawa musti meregang nyawa saat dibombardir senapan mesin serta meriam Belanda.

Ratusan orang mati dan jatuh ke sungai. Mereka berhasil menembus barikade dan langsung menyisir ke darat, sungai dan laut akibatnya kocar kacir menyelamatkan diri. Mereka yang tertangkap langsung ditembak.

“Saya menyelamatkan diri ke desa sekitar 10 kilometer dari lokasi pertempuran. Saya waktu itu berpikir, kok pejuang kita di Balikpapan, Samarinda tidak bergerak membantu, apakah ngak tahu ? Saya heran kok sekarang banyak veteran disini,” katanya keherannya.

Setelah menduduki Sanga Sanga, Belanda kemudian memburu pejuang kemerdekaan satu demi satu. Antrian sembako dijadikan salah satu mencari pejuang lewat keterangan pejuang lainnya yang sudah tertangkap. Komandan pejuang Badrun Munandar yang ditawan KNIL pro Belanda itu dipaksa dan disiksa untuk menunjukan anggotanya yang mengantri. Mereka yang ditunjuk Badrun, langsung di popor senjata dan diangkut ke truk oleh KNIL.

“Saat itu saya Badrun disamping saya dengan luka dan lumuran darah di wajah. Saya pasrah pada Allah, kalau saya ditunjuk maka saya mati saat itu tapi Badrun menunjuk orang lain,” kenangnya.

Saat suasana sudah makin tenang di Sanga Sanga, Sujoko kembali kerja di BPM (Pertamina) bidang listrik. Tahun 1949, Sujoko juga diterima sebagai tentara Republik Indonesia Serikat (RIS) serta ditugaskan di Samarinda. Namun belum lama bertugas, dia memilih keluar saat tahu sebagian besar personil RIS adalah bekas tentara KNIL.

“Setelah saya tahu orang KNIL yang perangi kita masuk jadi tentara RIS saya pilih keluar begitu saja,” ucapnya.

Sujoko memutuskan kembali bekerja di BPM hingga pensiun pada 1979 silam sebagai tenaga radio teknis PT Shell yang kemudian jadi cikal bakal Permina dan Pertamina.

Selepas dari industry minyak gas, Sujoko menikmati masa masa tuanya hingga usia 88 tahun. Tidak banyak yang dikerjakan sebagai anggota veteran Kaltim mengingat kemimpinan pengurus veteran saat ini belum berpihak pada anggotanya. Harapannya satu, pengurus veteran yang kini banyak menikmati kemakmuran agar lebih memperhatikan nasib anggotanya.

“Uang Inkoveri hanya dinikmati oleh lingkaran terbatas,” tukasnya.

Kini ia lebih banyak mengikuti terapi happy green dari Korea. Berbagai penyakit tua memang sudah menggerogotinya dan terapi ini banyak membantu melawan penyakit kolesterol.

“Sempat mati rasa setengah badan saya. Sepulang dari rumah sakit di kasih tahu untuk ikut terapi klinik di kilometer dua, milik orang Korea. Gratis kita disuruh tiduran selama   30 menit mengenakan pakaian putih putih dan tiduran di atas batu dari Korea yang dialiri listrik. Badan yang terasa sakit akan panas dan seperti ditusuk. Alhamdulillah banyak perubahan,” katanya menutup cerita.

 

Pencarian Populer:

pertempuran di balikpapan, sanga sanga, sanga sanga jaman perang belanda, cerpen ratusan jiwa untuk sanga sanga, perlawanan rakyat kalimantan timur, perlawanan kalimantan timur, perangkemerdekaankalimantantimur, perangkemerdekaandikalimantantimur, perang dikaltim, kekejaman knil di jawa